
Setelah pergulatan hebat terjadi, Daniel dan Fransiska juga sudah membersihkan diri. Daniel membawa Fransiska menyebrang ke Samosir menaiki kapal ferry.
Layaknya seorang insan sedang di mabuk kasmaran, itulah yang dirasakan oleh Daniel saat ini. Setelah melakukan hubungan terlarang dengan Fransiska, Daniel merasakan jiwa muda dan gejolak asmara untuk semakin ingin memiliki Fransiska bertambah besar.
Genggaman tangan Daniel saat membawa Fransiska berkeliling melihat tempat wisata tidak pernah terlepas, begitu juga pandangan matanya. Namun, ada satu hal membuat dirinya terus bertanya saat ia melihat senyum dan tawa ceria terlihat terpaksa di wajah cantik Fransiska. Seperti ada hal mengganjal.
Apakah yang sedang di pikirkan Fransiska? apakah ia masih memikirkan kelakuan dari suaminya itu, Andreas? Jika memang benar, sia-sia sudah perbuatan Daniel untuk menghibur dan memberikan apa yang belum pernah Fransiska rasakan selama ia menikah dengan Andreas.
Daniel melepaskan genggaman tangannya, membuat Fransiska berjalan sendiri. Setelah sadar genggaman tangan Daniel terlepas, Fransiska menoleh, ia pun mendekati Daniel sedang memandangnya dengan pandangan penuh tanya.
"Hei, kenapa kamu diam saja?"
"Apakah kamu masih kepikiran dengan perbuatan Andreas?" Daniel balik bertanya dengan wajah datar.
Fransiska terdiam, menunduk dengan kedua tangan di kepal erat.
"Maaf, sulit bagiku untuk melupakan semua perbuatan Mas Andreas," sahut Fransiska sendu, wajahnya berubah mendung.
Daniel menyadari akan pertanyaan membuat Fransiska menjadi sedih, cepat-cepat ia mendekat, menggenggam kembali tangan Fransiska.
"Oh ya, kamu belum lihat patung Sigale-gale 'kan? mari aku temani kamu ke sana!" ajak Daniel mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kaki Daniel hendak melangkah sembari menarik tangan Fransiska. Tapi Fransiska malah melepaskan genggaman tangan Daniel.
"Sebaiknya aku pulang, aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Mas Andreas," pinta Fransiska dengan wajah sendu.
"Apa kamu yakin ingin pulang sekarang?" tanya Daniel memastikan.
"Aku sangat yakin, aku ingin mengurus surat perceraian dengan Mas Andreas. Aku ingin terbebas dari dirinya," sahut Fransiska pelan.
"Tidak ingin aku temani?" tawar Daniel.
"Tidak, ini urusan rumah tanggaku."
"Baiklah, kalau gitu aku akan mengantarmu pulang," hela Daniel tak ingin ikut campur.
__ADS_1
Daniel pun memutuskan untuk mengantarkan Fransiska pulang ke rumahnya, ia pun juga ingin pulang karena mendadak dapat telepon dari bawahannya kalau ada pertemuan mendadak yang akan dilakukan di kota Y.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam karena terjebak macet. Fransiska kembali dengan mobilnya terlebih dahulu, 30 menit kemudian Daniel juga pulang ke rumahnya. Mereka pulang secara bergantian agar tetangga atau Andreas tidak curiga dengan kepergian Fransiska semalaman.
Fransiska sudah berdiri di depan pintu rumah, tangannya memegang handle pintu. Sebelum masuk ke dalam, ia berulang kali menarik nafas panjang, merasa sudah cukup lega, ia pun masuk. Berjalan melewati ruang tamu dimana ada Vika duduk di ruang tamu sambil belajar dengan guru privat.
"Tante Siska!" gumam Vika meletakkan pulpen, lalu mendekati Fransiska.
"Sedang belajar?" tanya Fransiska datar.
Sebenarnya ia sangat membenci Vika, melihat wajah Vika seperti melihat wajah Anissa. Ingin sekali ia memaki Vika habis-habisan, mengingat perbuatan Anissa dan Andreas.
"Papa dari kemarin terus mencari tante. Tante darimana saja?" tanya Vika polos.
"Dimana Papa dan Mama, kamu?" tanya Fransiska mengalihkan jawaban.
"Ada di atas, katanya mereka sedang ingin membahas sesuatu," sahut Vika menunjuk ke lantai 2.
Fransiska tidak menjawab atau berkata apa pun. Kedua kakinya pun kembali melangkah, berulang kali ia menarik nafas panjang, berusaha menenangkan hati dan pikirannya sebelum bertemu dengan Andreas.
"Mas!" panggil Fransiska dengan cairan bening sudah memenuhi kedua matanya.
Andreas terkejut, ia segera meninggalkan aktivitasnya dengan Anissa, lalu mendekati Fransiska.
"Ka-kamu sudah pulang sayang?" tanya Andreas gugup.
"Sudah," sahut Fransiska datar.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja. Saya sangat mencemaskan mu. Saking cemasnya saya sampai meluapkan nya bermain sedikit dengan Anissa."
"Oh!"
Bibir dan suara Fransiska seakan terbatas untuk berbicara. Sudah jelas-jelas kepergok di depan mata kalau Andreas sangat menikmati permainannya dengan Anissa, masih saja bisa berbohong. Fransiska berbalik, melangkah dengan hatinya terasa begitu sesak hingga ia kesulitan untuk bernafas.
"Siska...Siska dengarkan saya. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Saya hanya bingung harus mencari kamu kemana lagi. Saking bingungnya saya sampai khilaf. Semua itu bukan saya yang ingin melakukan nya. Anissa tadi merayu saya...."
__ADS_1
Fransiska mengentikan langkahnya di anak tangga kesepuluh. Ia menoleh dengan derai air mata sudah membasahi kedua pipinya.
"Iya, aku percaya," sahut Fransiska dengan suara serak menahan tangis. Fransiska kembali melangkah, Andreas terus mengikutinya.
"Siska, Siska dengarkan aku dulu. Aku sudah menikah dengan Anissa kemarin malam," teriak Andreas sekaligus memberitahu tentang pernikahan mereka.
Degser!
Aliran darah serta degupan jantung Fransiska mengalir naik turun tak karuan. Tubuhnya gemetar, telapak tangan dan kaki terasa dingin mendengar kejujuran Andreas. Langkahnya pun terhenti di anak tangga nomor 3 paling bawah.
Tanpa menoleh ia berkata, "Selamat, aku tunggu surat perceraian kita," ucap Fransiska menahan sesak dan rasa sakit di dalam dada.
"Sampai kapan pun saya tidak akan menceraikanmu. Bukannya kamu yang meminta saya untuk menikahi Anissa, karena kasihan dengan Vika?" cetus Andreas sedikit meninggikan nada suaranya.
"Benar, karena Vika adalah seorang anak perempuan, butuh wali dan seorang Papa untuk menjadi penuntun masa depannya," sahut Fransiska dengan raut wajah semakin suram karena terus menahan kesedihan.
"Jadi, kenapa kamu ingin ngotot bercerai denganku. Bukannya sekarang saya sudah jujur dengan perselingkuhan ini. Saya juga tidak akan berselingkuh lagi, darimu," memegang tangan Fransiska dari belakang, "Meskipun aku berselingkuh, aku janji, aku janji hanya kau istriku seorang. Wanita lain yang ada di sekeliling ku itu hanya hiburan semata. Rasa mereka juga tidak terlalu nikmat saat melayaniku di atas ranjang, tidak seperti milikmu yang harum dan legit," lanjut Andreas tak tahu malu.
Kepala Fransiska semakin tertunduk, bola matanya semakin membulat sempurna, cairan bening terus mengalir hingga membuat kabut di matanya.
"Oh....aku baru tahu jika ada rasa berhubungan intim yang tidak enak sampai mengeluarkan suara itu. Aku juga baru tahu jika ada rasa yang tidak enak saat melakukan hubungan intim dengan bibir bawah terus di gigit. Apa mungkin aku bisa melakukannya dengan pria lain agar tahu enakan berhubungan intim dengan kamu atau pria lain di luar sana," ucap Fransiska datar sembari melepaskan genggaman tangan Andreas. Fransiska pun kembali berjalan dengan sorot mata kosong, cairan bening masih menetes di kedua pipinya.
"Jangan Fransiska, saya bisa memberikan semua itu kepadaku. Saya mohon jangan lakukan hal itu!" teriak Andreas mengejar Fransiska.
Fransiska terus berjalan dengan pandangan kosong, derai mata terus mengucur tiada henti. Guru privat dan Vika hanya bisa memandang kepergian Fransiska.
Fransiska hendak masuk ke dalam mobil. Namun, Andreas menahan tangannya dari belakang.
"Jika kamu berani keluar dan meminta cerai kepadaku. Maka usaha yang baru di rintis oleh sahabat mu, Daniel, akan saya hancurkan. Kamu tahu siapa saya 'kan?" ancam Andreas pelan.
Fransiska spontan menoleh ke rumah Daniel tepat di depan rumahnya, lalu menatap wajah datar Andreas.
"Daniel tidak bersalah. Kenapa kamu harus melibatkan dia di dalam hubungan kita?" tanya Fransiska lirih dan sesekali terisak.
"Itu urusan saya. Gimana, masih mau kabur atau usaha dan bisnis milik Daniel, saya hancurkan hingga tak tersisa, membuat dirinya menjadi gelandangan di jalan?"
__ADS_1