RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
Bab 34.


__ADS_3

Setelah mendapatkan perawatan dan jahitan untuk luka di bagian dahi, Fransiska memutuskan untuk mengajak Daniel membawanya pulang. Meski ada perdebatan sedikit di rumah sakit, Fransiska tetap ngotot ingin pulang. Hatinya tidak enak jika meninggalkan bibi dan para karyawan di rumah bersama dengan Anissa.


Sore itu Daniel memang membawa Fransiska keluar dari rumah sakit. Tapi, Daniel membawa laju mobilnya tidak menuju rumah mereka, melainkan tempat pertemuan tersembunyi mereka.


Begitu mobil masuk ke dalam garasi ruko. Fransiska mulai melayangkan protes kepada Daniel.


“Kenapa, kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Fransiska masih dalam kondisi lemah.


“Jangan banyak protes,” sahut Daniel singkat, tangannya membuka seatbelt milik Fransiska.


Plaak!


Antara bingung, cemas, dan tubuh masih dalam kondisi lemah. Tangan Fransiska melayang dengan muda ke sebelah pipi Daniel. Namun, Daniel tidak marah ataupun ingin membalasnya.


“Jawab aku!” tegas Fransiska kembali.


Lagi, lagi, Daniel tidak menjawabnya. Kedua tangan kekar itu malah memutuskan untuk menggendong tubuh mungil sang kekasih, melangakah mendekati pintu lift, membawa Fransiska menuju kamar mereka.


Begitu sampai di dalam kamar, Daniel meletakkan tubuh Fransiska dengan lembut, tak lupa menyalakan acc dengan suhu terendah agar Fransiska tidak merasakan hawa panas.


“Kamu jangan bergerak, tetaplah di sini sampai aku datang membawa kotak obat!” ucap Daniel tegas.


Fransiska tidak menjawab, ia hanya bisa memberikan ekspresi kesal saat menatap wajah Daniel terlihat begitu tenang dengan senyuman manisnya untuk Fransiska.


“Apalah, aku ‘kan minta di antarkan pulang ke rumah, bukan pulang ke sini,” gerutu Fransiska bergumam sembari menatap punggung Daniel menghilang dari balik pintu kamar.


Sementara itu di ruang penyimpanan obat. Daniel menyempatkan diri menelepon James, mengadu atas perlakuan Anissa kepada James.


📲 [“Apa perlu aku jadikan wanita itu sebagai daging untuk hamburger?”] cetus Daniel dingin setelah James mengangkat panggilan telepon darinya.


📲 [“Hei bro! wanita mana yang akan kamu jadikan daging hamburger?”] James balik bertanya dengan gugup.


📲 [“Ibu dari anakmu!”] sahut Daniel dingin, raut wajahnya terlihat sangat suram.


📲 [“Ada apa ini? A-aku tidak tau apa masalah yang sedang kamu hadapi bersama wanita jahat itu!”] ucap James semakin bingung, dan sedikit takut akan perbuatan Daniel bisa terbilang nekad jika dirinya tak suka pada orang itu.


📲 [“Segera ambil putrimu, karena aku akan memberi perhitungan untuk wanita itu!”] ucap Daniel memberi aba-aba.


📲 [“Maunya aku memang langsung mengambil putriku. Tapi kau lihat saja bagaimana putriku memandangku. Sabarlah, aku akan terus mendekati Vika agar aku bisa merebutnya dari wanita jahat itu.”] sahut James serius, meski dalam hatinya saat ini ingin sekali mengambil Vika.


📲 [“Sepertinya aku tidak akan sabar lagi, jika suatu saat Siska di lukai oleh wanita itu.”] cetus Daniel sembari menghela nafas panjang.


📲 [“Katakan apa yang sedang dilakukan iblis itu kepada Siska?”] tanya James penasaran.


📲 [“Iblis itu telah melukai dahi Siska hingga ia mendapatkan 10 jahitan.”]


📲 [“Apa?!”]

__ADS_1


📲 [“Hem. Sudah dulu ya, aku mau merawat Siska.”] pamit Daniel sembari mematikan panggilan teleponnya.


Panggilan telepon berakhir, kini Daniel menatap baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil lembut, di bawah baskom terdapat kotak obat kecil.


“Mulai sekarang aku harus menyusun rencana untuk membongkar kedok wanita itu. Kalau aku terus berharap lelaki aneh itu mengambil putrinya, mungkin akan sangat lama. Sebaiknya aku mulai menyerangnya terlebih dahulu dengan caraku,” gumam Daniel tak bisa menunggu lagi untuk memberikan pelajaran kepada Anissa.


Tidak ingin membuat Fransiska menunggu terlalu lama di dalam kamar, Daniel memutuskan untuk kembali ke kamar dengan membawa peralatan perawatan untuk Fransiska.


Baru saja kaki melangkah masuk ke kamar, Daniel sudah melihat Fransiska tertidur lelap.


Daniel mendekat, menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut hangat dan lembut miliknya.


“Panas sekali suhu tubuhnya,” gumam Daniel saat kulit tangannya tak sengaja menyentuh pipi Fransiska.


Daniel cepat mengambil kotak obat, membuka kompres penurun panas, meletakkannya di atas dahi Fransiska.


“Kenapa kamu sangat keras kepala. Dari SMA sampai kita berjumpa setua ini, sikap dan sifatmu masih saja sama,” lanjut Daniel mendumel sendiri.


Lelah dengan aktivitasnya baru saja pulang dari rapat perusahaan, dan sudah harus merawat Fransiska. Daniel membawa tubuhnya berbaring di samping Fransiska, hingga kedua kelopak mata Daniel perlahan tertutup.


.


.


Sementara itu di rumah mewah milik Andreas.


“Ada apa?” tanya Anissa dengan santainya.


“Anda adalah wanita yang jahat!” cetus bibi.


“Saya akan melaporkan kejadian ini kepada tuan besar nanti,” sambung pelayan 1.


“Coba saja kalau kalian masih ingin tetap bekerja di sini,” ucap Anissa seperti menantang.


"Anda pikir kami tidak berani. Bersiaplah akan amukan tuan Andreas saat mendengar istri kesayangannya….” Ucapan bibi dan lainnya terhenti saat Anissa kembali merusak barang di rumah Andreas.


Prang!


Anissa menjatuhkan guci malah, koleksi baranga antik milik Andreas bernilai miliaran rupiah. Jatuhnya guci itu membuat semua mata melotot, memandang guci sudah menjadi sebuah kepingan.


Melihat ekspresi Bibi, akang, dan karyawan lainnya seperti ketakutan. Anissa malah membuat senyum licik, ia pun perlahan berjongkok, tak lupa memotret serpihan guci tersebut.


“Uppss! Apakah guci ini sangat mahal? Mahalan nyawa, pekerjaan, atau lainnya?” tanya Anissa seperti mengejek.


Bibi perlahan mendekat, bola hampir lepas masih terus memandang serpihan guci.


“Anda memang keterlaluan!” cetus pelayan 2.

__ADS_1


“Keterlaluan gimana?” tanya Anissa kembali seolah tak peduli apapun.


“Ini adalah guci kesayangan tuan Andreas. Guci yang hanya di miliki 10 orang saja. Kenapa nona menjatuhkannya?” jelas pelayan 2 kembali.


“Karena aku sedang memikirkan gimana caranya untuk menyingkirkan para pembatu dan tukag kebun bodoh seperti kalian semua. Apa kalian ingin melaporkan jika hal ini juga salahku?” sahut Anissa dengan santainya.


Pelayan 1, dan ke 4 hendak marah. Namun, akang tukang kebun menahan masing-masing lengan mereka untuk tidak melakukan apapun.


“Kang,” gumam pelayan 1 dan 4 serentak, berharap dilepaskan oleh akang tukang kebun.


Akang tukang kebun menggeleng sembari mengeratkan genggaman tangannya.


“HAHAHA….bodoh! daaa buat kalian semua!” pamit Anissa melangkah menuju anak tangga.


Melihat Anissa berbicara dan berjalan menuju kamarnya seolah tanpa beban. Bibi, karyawan rumah dan tukang kebun hanya bisa mengelus dada masing-masing.


“Bi, gimana ini?” tanya pelayan 1 mulai panik.


“Bi, apa kita katakana saja kepada nona Fransiska?” sambung pelayan 2 ikut bertanya dengan cemas.


Beda dari yang lain, pelayan 4 mengambil benda pipih miliknya, memotret serpihan guci tersebut, mengirimkannya ke Fransiska. Perbuatan pelayan 4 sontak saja membuat semuanya spot jantung.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya bibi cemas.


“Mengadu sama nona kita,” sahut pelayan 4 dengan santainya.


“Apa kamu tidak tahu jika nona saat ini sedang di rawat di rumah sakit?” tanya akang tukang kebun.


“Tahu, bahkan aku juga sudah mengirimkan bukti video kekerasan istri kedua tuan Andreas. Dan sudah aku kirimkan ke tuan,” sahut pelayan keempat kembali dengan tenang, membuat tubuh semuanya sekitika melemas.


“Lalu apa kata tuan?” tanya bibi gemetaran.


“Katanya besok pagi tuan akan segera pulang,” sahut pelayan keempat lagi dengan santainya.


Perbuatan pelayan keempat sontak saja membuat semuanya melemah hingga duduk di lantai.


“Eh, kalian semua kenapa?” tanya pelayan keempat cemas.


“Sejak kapan kamu melakukan semua ini secara diam-diam?” bibi balik bertanya dengan suara pelan.


“Semenjak aku ingin menjadi youtuber!”


Mendengar jawaban pelayan keempat, bibi dan lainnya langsung menceramahi pelayan tersebut.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2