
Sehari setelah Andreas pergi.
Di rumah hanya ada Anissa, Vika, Fransiska, dan beberapa karyawan pekerja rumah. Berhubung Fransiska mendadak tak enak badan, ia memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar. Namun ada hal tak mengenakan terjadi di luar kamar Fransiska.
Anissa, ia berusaha menjadi nyonya besar di rumah itu, menyuruh dan mengatur para karyawan pekerja rumah tanpa memberikan jeda istirahat. Bibi hanya bisa menghela nafas panjang, ingin rasanya ia mengadu pada nona besarnya. Tapi bibi memilih untuk diam, begitu juga para karyawan lainnya, tak ingin mengadu dan membuat kondisi tubuh Fransiska semakin drop.
Anissa duduk santai di sofa ruang tv, menyalakan tv dengan volume sedikit kuat, ia pun memakan kacang kulit, membuang kulitnya begitu saja di lantai. Pelayan dan bibi hanya bisa memunguti kulit kacang itu sembari mendengus.
“Ck, gimana ini bi. Apakah nona Siska harus tahu?” tanya pelayan berbisik kepada bibi.
“Jangan, nona kita lagi sakit. Kamu tahu ‘kan dokter Jhon mengatakan apa pada kita tadi!” sahut bibi tegas mengingatkan ucapan dokter Jhon mengatakan jika Fransiska harus banyak-banyak istirahat karena tensinya saat ini sedang rendah.
“Isss, kesel kali aku di buat wanita jahat ini!” gumam pelayan lainnya di dengar oleh Anissa.
Prang!
Anissa mencampakkan mangkuk kaca berisi kacang sihobuk ke lantai, membuat seluruh kacang berserakan. Bibi dan pelayan terkejut, sampai spontan berdiri dari jongkoknya.
“Barusan kamu bilang apa?” tanya Anissa perlahan mendekati pelayan di sisi kiri bibi.
“Saya bilang kesel kepada wanita jahat seperti Anda,” sahut pelayan itu jujur.
Bibi menyikut perutnya untuk tidak berkata jujur. Namun bawahannya itu menggeleng, ia sangat ingat ucapan Fransiska jika ingin bekerja di sini semuanya harus jujur tanpa menutup dan memendam apapun.
Plaaak!
Dengan sangat ringan tangan Anissa mendarat di pipi pelayan itu.
__ADS_1
Melihat bawahannya di tampar, bibi segera mendekati Anissa.
“Maaf nona, di sini tidak di sarankan untuk melakukan kekerasan kepada para karyawan, peraturan itulah yang di buat oleh nona Fransiska!” protes bibi tegas memberitahu peraturan di buat oleh Fransiska.
Merasa jengah mendengar nama Fransiska selalu menjadi topik utama di rumah, Anissa semakin tersulut emosi, ia pun kembali meluapkannya dengan cara mengobrak-abrik ruang tv.
“SISKA, SISKA, SISKA, semua hanya bisa mematuhi perintah Siska. Semua orang juga kenapa harus sayang kepada wanita hina dan mandul itu!” teriak Anissa mengeluarkan amarahnya di sela hinaannya.
Bibi dan pelayan lainnya terkejut, masing-masing mata mereka membulat sempurna saat mendengar Anissa mengatakan nona rumah mereka adalah wanita hina dan mandul. Kesabaran bibi dan pelayan pun mulai habis, sejenak mereka menarik nafas panjang, menatap Anissa dengan tatapan sinis.
“Maaf, bisa tidak saya meminta nona untuk mengulang kata-kata nona saat menghina nona besar kami?” pinta bibi dengan nada datar.
“Oh, kau ingin aku mengulangi ucapan itu. Buka lebar-lebar telinga kalian bertiga. Aku tegaskan, kenapa kalian harus patuh dengan ucapan wanita hina dan mandul itu? aku tambahin lagi, apa kalian tidak ingin terkena sialnya?” sahut Anissa menjelaskan dengan serius, tak lupa menambahkan hinaan di dalam kalimatnya.
Baru saja bibi dan bawahannya hendak angkat bicara, mereka malah mendengar suara Fransiska.
Anissa terdiam, sejenak ia merasa takut karena ucapannya akan di dengar oleh Fransiska, detik selanjutnya ia mulai berpikir untuk segera menyingkirkan Fransiska di saat Andreas sedang tak berada di rumah. Ia pun berbalik badan, berdiri menghadap Fransiska.
“Sudah sehat NONA BESAR?” tanya Anissa sedikit meninggikan nada suaranya di kalimat terakhir.
Fransiska tidak langsung menjawab, ia mengabaikan ucapan Anissa, membawa kedua kakinya melangkah melewati Anissa tak lupa menyenggol lengan Anissa.
“Bi, apakah tadi ada gempa di rumah kita?” tanya Fransiska sembari mendudukkan dirinya, sorot matanya menatap kulit kacang, dan serpihan mangkuk kaca di lantai.
“I-itu nona…” ucapan bibi terhenti saat Anissa mulai berteriak.
“SISKA! APA KAMU TIDAK MENDENGAR PERTANYAANKU?” tanya Anissa sudah berdiri tepat di hadapan Fransiska.
__ADS_1
Dengan santainya Fransiska menjawab, “Hem, dengar!”
“Kau itu memang sungguh wanita yang menyebalkan. Kenapa kau tidak mati saja saat itu? dan kenapa kau masih terus bertahan di rumah ini. Tidakkah kau lihat jika Andreas sepertinya tidak membutuhkanmu. Andreas juga terlihat sangat menyayangi Vika, putriku. Apa kau tidak iri? Apa kau tidak merasa sakit hati melihat semua perubahan sikap Andreas kepadamu?” cetus Anissa di sela kekesalannya karena Fransiska tanpa tenang tak terusik dengan ucapan kasar dan hinaan dari bibirnya.
“Kamu benar juga, kenapa aku kemarin tidak jadi mati aja, ya? Dan buat apa aku terus bertahan saat Mas Andreas saja tak menginginkan anak dariku?” Fransiska menyandarkan badannya di sandaran sofa, “Oh, mungkin malaikat pencabut nyawa saat itu sedang melakukan pesta di alamnya, jadi lupa untuk turun dan mencabut nyawaku. Hem….jika kamu tanya kenapa aku tidak sakit hati dan iri kepada kamu. Mungkin jawabannya hanya ada satu, yaitu UANG. Hahaha, sudah paham 'kan. Seorang wanita cantik dan memiliki kulit sebagus ini mana mungkin bisa bertahan lama kalau lelakinya tidak memiliki uang. Bahkan seorang PELAKOR pun tidak akan melepaskan inangnya selagi masih memiliki dompet tebal. Bukan begitu?” lanjut Fransiska dengan santai, tak lupa tawa kecil sesekali keluar dari bibir pucat nya.
Saking kesalnya mendengar jawaban Fransiska, Anissa spontan mengambil asbak rokok, melemparkannya ke arah Fransiska.
Bug!
Fransiska tidak mengelak, ia membiarkan asbak itu mendarat dan membuat dahi mulusnya mengeluarkan darah.
“Dahi Anda berdarah nona,” ucap bibi dan pelayan lainnya berlari mendekati sofa tempat Fransiska duduk.
“Sakit bi,” keluh Fransiska tanpa mengeluarkan ekspresi apapun, matanya terlihat mulai membayang, kepalanya juga terasa pusing, hingga tubuhnya terkulai lemas, dan pingsan.
“NONA!” teriak bibi dan pelayan bersamaan.
Anissa perlahan mundur ketakutan, ia menatap kedua tangannya terlihat gemetaran.
“Hahaha, rasakan. Kamu harus merasakan gimana rasa sakit saat memperjuangkan hal yang ingin kamu inginkan untuk jatuh di tanganmu. Lebih bagus kau mati saja, mati! HAHAHA!” gumam Anissa terlihat seperti orang tak waras.
Bingung bagaimana cara membawa Fransiska ke rumah sakit. Bibi memutuskan untuk mendatangi rumah Daniel, meminta tolong kepada Daniel untuk membawa Fransiska ke rumah sakit.
Daniel pun dengan cepat mengambil kunci mobil miliknya, membawa Fransiska menuju rumah sakit terdekat. Pandangan Daniel terus mengarah pada Fransiska terlihat benar-benar sangat lemah, wajahnya juga semakin pucat, sedangkan tangan satunya menahan bekas luka di dahi Fransiska agar tak mengeluarkan darah terlalu banyak.
“Ck, berani sekali wanita itu melakukan hal ini kepada Siska. Tidak akan aku biarkan hal buruk terjadi lagi kepada kamu, Siska. Awas saja kamu Anissa, akan ku buat kau hidup lelah, mati pun tidak bisa!” gumam Daniel tegas dengan penuh kebencian dan amarah.
__ADS_1