
Sesuai dengan titik pertemuan. Andreas sudah sampai di kafe tempat James bicarakan tadi di telepon. Setelah memarkirkan mobil miliknya, Andreas berjalan menuju kafe tersebut. Tanpa menunggu waktu lama, Andreas langsung menemukan James duduk santai di salah satu meja di kafe pinggir jalan itu.
“Ada apa ini tuan James?” tanya Andreas buru-buru setelah sampai di meja.
Dengan segaris senyuman, James mengulurkan tangannya ke kursi berada di hadapannya.
“Jangan buru-buru, santai saja. Silahkan duduk dulu, dan pesan makanan atau kopi yang tuan inginkan,” ucap James menawarkan dengan tenang.
Tidak ingin kehilangan harga diri sebagai konglomerat penuh dengan kewibaan, Andreas berulang kali menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia mencoba memberitahu makanan dan minuman ia inginkan. Setelah itu, James memesankan makanan dan minuman sesuai dengan keinginan Andreas.
15 menit kemudian pesanan milik Andreas akhirnya datang. James menyuruh Andreas untuk menikmati kopi pesanan miliknya. Namun, Andreas terlihat tidak sabar, ia langsung membuka mulut, bertanya dengan kasar.
“Cepat, katakan apa yang kamu ketahui tentang Vika. Kenapa juga kamu menarik saham dari perusahaan saya dengan sepihak tanpa persetujuan saya, dan hanya mengancam Sekretaris saya?”
“Ya ampun, sabar dikit kenapa tuan Andreas. Aku akan mengatakan semuanya dengan pelan. Makanya, aku ingin tuan cukup tenang dan turuti ucapanku agar bisa kita mulai pembahasannya,” ucap James tetap tenang. Padahal dalam hatinya, ia sangat ingin membunuh pria di hadapannya ini.
“Ck,” decak Andreas kembali menyeruput kopi hangat nya, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“Begini tuan Andreas. Vika, putri Anda yang telah meninggal dunia adalah putriku!” ucap James membuat seluruh tubuh Andreas menegang.
“A-apa? Pu-putri tuan James?”
__ADS_1
“Iya, wanita simpanan Anda yang sekarang sudah menjadi istri Anda adalah bekas mantan istriku. Eh, bisa di bilang belum jadi mantan sih! Karena Anissa saat itu kabur membawa seluruh harta milikku, dan calon anakku di dalam rahimnya, tanpa aku ucapkan kata ‘TALAK’. Lalu, entah kenapa bisa jadi anak itu menjadi anak hasil hubungan kalian berdua? Anda juga seharusnya pikir pekek otak. Coba Anda lihat, apakah Vika itu mirip dengan Anda? Apakah Anda tidak pernah mengajak Anissa untuk melakukan pemeriksaan, membenarkan bahwa Vika itu benar anak Anda atau bukan! Oh, Tentu saja tidak mungkin mau Anda mengeluarkan uang untuk hal seperti itu!” celetuk James mengeluarkan separuh kenyataan.
Andreas mendengarnya langsung terdiam seperti orang bodoh. Benar-benar di luar nalar, dan di luar akalnya jika Anissa terlihat begitu sempurna menipu dirinya. Begitu bodohnya dirinya, tidak memperdulikan tentang apakah Vika beneran anaknya ataukah anak orang lain. Karena saat itu di pikiran Andreas hanya, uang, harta, kecantikan, dan surga dunia.
“Kamu pasti berbohong!” ucap Andreas sambil menggebrak meja, membuat para pengunjung menoleh ke arahnya. Namun, James langsung menenangkannya.
“Tenanglah dulu tuan Andreas, jangan keluarkan amarah Anda di sini. Siapa tahu di antara pengunjung ada salah seorang wartawan menyelinap untuk membuntuti Anda,” bisik James membuat Andreas langsung menoleh ke arah pengunjung.
“Ck,” decak Andreas kembali.
Ingin memastikan jika dirinya adalah Papa kandung dari Vika, James mengeluarkan beberapa kertas hasil pemeriksaan tentang dirinya dan Vika di hadapan Andreas. Andreas mengambil lembaran kertas itu, memeriksanya, dan betapa terkejudnya dirinya, ternyata Vika benar-benar anak kandung James, bukan anak kandung darinya.
“Apa Anda tidak tahu jika aku pernah beberapa kali tidak sengaja berjumpa dengan Vika di sekolahnya? Oh, aku rasa tentu saja tidak pernah tahu. Tuan Andreas dan istrinya bernama Anissa itu ‘kan selalu super sibuk sehingga sering melupakan almarhum Vika yang selalu menunggu di jemput setelah pulang sekolah di depan gerbang sekolah dan les nya. Saat mendapat kesempatan bagus seperti itulah aku gunankan untuk mengambil sehelai rambut almarhum Vika,” jelas James panjang lebar.
“Sialan! Bagaimana bisa wanita itu berulang kali melupakan tugasnya sebagai seorang ibu. Pantas saja Vika di culik dan di bunuh, ternyata Vika sudah menjadi incaran penculik itu,” gumam Andreas percaya.
Mendengar gumaman Andreas, James merasa senang, ia pun kembali menghasut Andreas agar membenci Anissa.
“Menurutku, kasus penculikan almarhum Vika ada yang ganjil. Apa tuan tidak menyadari hal itu?” James kembali meracuni pikiran Andreas.
“Benar juga, saya penasaran kenapa para penculik itu tidak meminta tebusan ataupun mengancam apa pun?” gumam Andreas membenarkan, James mendengarnya mengangguk dengan segaris senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Bukan James namanya, kalau rencananya tidak berjalan. James kembali menambahkan cerita di dalam pikiran buruk Andreas.
“Nah, kenapa sekarang Anda baru sadar? Kemungkinan besar, penculikan Vika dan terbunuhnya Vika ada hubungannya dengan Anissa. Wanita jahat yang sudah banyak menipu banyak para pebisnis. Tapi, hiks…hiks! Kenapa harus putriku yang menjadi korban dari balas dendam mereka. Hari ini gadis polos berusia 10 tahun, besok? Apakah besok tuan Andreas yang akan di incar oleh mereka. Hiks…mungkin akan ada satu wanita yang menangis tersedu-sedu di rumah sakit. Aku yakin nona Siska yang berhati lembut akan menangis histeris. Mana nona Siska sudah tidak memiliki kedua orang tua ataupun saudara di muka bumi ini. Hiks!” drama James seolah dirinya benar-benar sedih mengingat nasib Fransiska.
Wajah Andreas seketika berubah menjadi pucat.
“Saya sudah bercerai dengan Fransiska, dan kemungkinan wanita cacat itu tidak akan pernah menangis untuk kepergian saya,” ucap Andreas menahan ketakutannya.
“Oh ya? Kalau gitu aku mau menikahi janda cacat itu. Walaupun sudah cacat, mesin dan gerakannya masih bagus 'kan?” tanya James seolah tak berpikir.
“Terlalu sempit, saya tidak suka. Ambillah wanita cacat itu, karena saya tidak menyukai wanita yang tidak sempurna,” ucap Andreas santai.
James menaikkan sebelah alisnya, lalu menatap lekat wajah datar Andreas.
“Karena putriku, Vika telah meninggal dunia, maka investasi saham yang sudah aku tanam di perusahaan Anda, akan aku ambil kembali. Tidak, bukan seluruhnya. Aku akan menyisakan beberapa uang di sana sebagai tanda terima kasihku karena Anda sudah bersusah payah menyewa beberapa ahli profesi, dan menguburkan Vika tanpa kasih sayang. Satu lagi, ada pesan dari seorang wanita yang ingin bertemu dengan Anda. Wanita cantik memiliki mata teduh itu ingin mengatakan sesuatu siang ini untuk Anda. Jadi, aku mengundang tuan Andreas untuk makan siang di rumahku yang lebih megah dari rumah tuan Andreas! Sampai jumpa,” ucap James lalu pergi dengan langkah lebar meninggalkan Andreas, masih duduk dengan wajah terlihat marah.
.
.
Bersambung
__ADS_1