Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Pemimpin serigala api


__ADS_3

Libra mulai melangkahkan kakinya berniat untuk beranjak pergi meninggalkan lokasi. Namun sesaat kemudian dia berhenti dan berbalik menatap geri yang masih berdiri di


posisinya.


" Dengar, aku paling tidak suka orang berkhianat padaku, seandainya nanti aku mendapatinya. Maka aku pastikan


akan melakukan perhitungan padanya".


Libra lebih dulu mewanti wanti


sebelum sesuatu yang tidak di inginkan terjadi di belakang hari. Geri yang mengerti akan maksud libra dengan cepat menganggukkan kepala.


"Baik bos.. Aku mengerti" Kata geri.


"Tidak usah panggil aku bos, panggil


saja aku libra" Balas libra sambil membalikkan badan kemudian berjalan


menuju kearah mobil, yang di ikuti oleh arumi dan zalia.


* * *


Di rumah sakit.


Keadaan jamilah semakin melemah, penyakit leukemia yang telah lama menggerogoti tubuhnya, di tambah pukulan keras hugel. Membuat tubuh jamilah semakin tidak mampu untuk bertahan hidup lebih lama.


Dia hanya bisa pasrah dengan hidupnya seraya berdoa untuk kelangsungan hidup libra di belakang hari.


Harapannya adalah, seorang yang mampu mengendalikannya agar libra tidak salah langkah dalam menjalani


hidupnya yang masih panjang.


Jamilah tetap ingin libra menjadi seorang anak yang baik hingga pada suatu hari nanti. Seperti kebaikan hati yang telah di milikinya sekarang.


Air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam, melintasi pipi yang


mulai nampak telah memucat. peralatan medis penunjang hidup telah terpasang di sekujur tubuh jamilah sekarang.


Sedangkan naira, dokter nadin, dan semua keluarga pratama yang hadir dalam ruangan itu. Merasa sedih yang dalam, saat melihat keadaan jamilah yang terlihat mengenaskan.


Pada saat itu.


Libra yang telah selesai dari potong rambut atas keinginan ibunya. Perlahan membuka pintu ruangan untuk masuk kedalam.


Tapi alangkah terkejutnya ia. Saat melihat berbagai alat penunjang kehidupan telah menempel pada tubuh ibunya.


"Bu.. "


Dengan tergesa libra berjalan mendekati ibunya. Melewati keluarga


pratama yang juga ada di dalam ruangan itu.


Wajahnya terlihat cemas dan sedih begitu melihat keadaan jamilah.


Setitik air mata mulai meluncur dari sudut matanya yang indah. " Bu.. Ini libra bu. Bukalah matamu, aku telah memenuhi keinginanmu" Ucap libra lirih di telinga ibunya.


Sementara orang yang berada di dalam ruangan, ikut merasa terharu setelah mendengar kata kata libra yang lirih


dan terdengar pilu.


Perlahan lahan jamilah membuka matanya. Dengan sayu, dia menatap libra yang ada di depannya.


Dia tersenyum bahagia. Melihat wajah seorang anak yang sejak kecil telah di besarkannya. Anak yang dulu di belai dan di buai dalam gendongan. Dan di


sayang dengan sepenuh hati dan juga

__ADS_1


sepenuh jiwanya.


Kemudian dengan terbata jamilah


bertanya ; " Apa kau sudah makan? "


Setelah berapa saat diam, Dengan raut wajah yang sedih. Libra menggeleng kepalanya lalu berkata ; " Bagaimana libra bisa makan bu, kalau ibu begini ?


Cepatlah sembuh bu, siapa yang akan menyiapkan makan untuk libra kalau ibu sakit ? "


Jamilah sungguh terharu dan sedih.


Kemudian dia menarik kepala libra kedalam pelukannya. Sambil terisak, ia membelai lembut kepala itu.


' Mungkin ini yang terakhir kali aku memelukmu nak '


Kemudian dia berkata ; " Pergilah beli nasi. Ibu akan menyulangimu "


"Tidak bu. Aku tidak lapar, aku tidak akan meninggalkan ibu dalam keadaan


seperti ini " Balas lembut libra.


"Pergilah.. Kau harus makan. Jaga kesehatanmu, nanti kau sakit" Kata


jamilah memaksa.


"Tidak bu.. Libra kuat. Libra tidak akan sakit hanya karena sehari tidak makan"


"Apakah kau mulai membantah ibu? "


" Tidak" Balas libra.


"Kalau begitu cepatlah pergi"


Libra diam menatap ibunya. Dalam perasaan enggan dia mulai menggerakkan tubuhnya.


Dengan berat hati libra melangkahkan kaki pergi meninggalkan ruangan. Dia berjalan keluar rumah sakit untuk membeli makanan atas keinginan ibunya itu. Matanya menoleh kesana kemari mencari tempat untuknya membeli nasi.


Hingga tertuju pada sebuah tempat penjual nasi padang di sebrang jalan.


Dia cukup senang, lalu berjalan kearah penjual yang tidak jauh berada di depan rumah sakit itu.


* * *


Di tempat lain.


Geri yang sedang berkumpul dengan ahli keluarganya menceritakan insiden yang telah terjadi. Antara kelompok


mafia Serigala api dan Tiger wolf.


Dia juga mengatakan apa yang telah di katakan oleh libra padanya. " menurut kalian, apa yang harus kita lakukan? " Tanya geri kepada lima adiknya.


Kemudian kelima orang adiknya nampak terkejut mendengar apa yang telah di katakan oleh geri. Mereka


sudah tau tentang kemampuan dan


kekuatan kelompok mafia Tiger wolf.


Kelompok mafia itu memiliki jaringan


hingga keluar negara. Sungguh tidak


mungkin bagi sekelas mafia serigala api untuk melawan kelompok itu.


Bahkan jika kelompok itu di satukan dengan kelompok mafia elang putih,

__ADS_1


kekuatan mereka masih tetap jauh di bawah kelompok mafia Tiger wolf yang sudah mendunia.


Kemudian.


Salah seorang adik geri


mengatakan ; " Kita tidak bisa berseteru dengan Tiger wolf, mereka


mafia besar di ibukota. Kekuatan kita


hanya seperti semut jika di banding


dengan mereka " kata Jonathan.


Jonatan adalah adik pertama dari geri.


lalu di ikuti oleh, Erina, Robet, Joni dan Janita, Mereka semua ikut dalam


pembicaraan itu.


" Benar.. Kita sama sekali bukan tanding Tiger wolf, bukankah lebih baik


bagi kita untuk melakukan kerja sama dengan mereka? kita bisa mendapat


dukungan yang kuat untuk membalas


apa yang telah di lakukan bocah itu


pada keluarga ini" kata erina geram.


Kemudian dia melanjutkan ;


"Apakah kalian lupa apa yang telah terjadi hari ini? Dia telah membunuh ayah, Hugel anakku, dan Roky anak


jonatan. Bahkan saat ini jasad mereka belum di kebumian . Apakah kalian pikir aku bisa melupakan semua itu begitu saja? " Erina terlihat begitu marah.


Dia mengucapkan kata kata dengan sangat antusias. Dia tau kalau geri tidak melihat saat libra membunuh keluarga mereka di depan mata.


Karena saat kejadian dia memang tidak ikut dalam pertemuan itu. Oleh sebab itu dia merasa, geri tidak merasa apa yang telah dia rasakan.


Geri tidak bisa memungkiri perasaan kedua orang adik yang telah kehilangan anaknya. Tapi dia lebih memilih untuk memikirkan kelanjutan kelompok serigala api untuk kedepannya.


"Aku rasa.. Libra cukup kuat untuk jadi seorang pemimpin. Aku melihat ada sesuatu yang tersembunyi pada dirinya, oleh sebab itu aku memilih


untuk mendukungnya menjadi seorang


pemimpin dari kelompok serigala api.


Aku merasa, bersama dengannya akan


membuat kelompok kita akan menjadi


semakin besar dan lebih kuat". Kata


geri.


" Lalu bagaimana perbuatannya pada keluarga kita, apa kita harus diam saja dan merelakannya?" Sanggah Erina tidak senang.


"Sudahlah.. pikirkan masa depan keluarga ini. Belum tentu keadaan


kita akan lebih baik di bawah naungan


Tiger wolf " Kukuh geri.


Sedangkan ketiga adik geri yang lain.

__ADS_1


Yaitu robet, joni, dan janita tampak setuju dengan apa yang telah di katakan jonathan. Mereka sudah melihat sendiri kemampuan libra yang aneh dan sangat luar biasa.


Oleh sebab itu mereka tidak protes dan akan mengikuti apa yang akan di lakukan oleh Jonathan. Dengan mendukung libra sebagai seorang pemimpin, dari kelompok mafia serigala api.


__ADS_2