
Libra dan Argi melangkah keluar meningal kan jasad Wilyam dan Platinum yang hangus di lalap api, bersama habis nya rumah Aslan yang terbakar.
"Tuan" seru Rolex lari mendekat Argi.
"Bagaimana keadaan Anisa?"
"Masih belum sadar Tuan, sekarang ada di mobil bersama Tuan Aslan dan Nyonya" balas Rolex menunjukkan mobil yang di maksud dengan isyarat mata, agak jauh dari lokasi rumah Anisa.
Argi Libra dan Rolex melangkah menuju barisan mobil yang sudah menunggunya di sana. Pada saat yang sama rombongan Salsa yang mengendarai 4 mobil masuk ke pekarangan dan berhenti di depan Argi Libra dan Rolex, lalu satu-persatu mereka semua keluar dari dalamnya.
"Bagaimana keadaan Anisa, Kak? dan siapa yang melakukan nya?" ucap Salsa langsung ke inti masalah, seraya menatap rumah yang masih terbakar nyaris tak tersisa.
"Anisa sudah aman, tapi dia masih pingsan akibat di bius. Sekarang dia di dalam mobil yang ada di sana" balas Argi menunjuk mobil dengan isyarat mata. "Yang melakukan semua ini orang dari Kartel Narkotik. Dua pemimpinnya sudah mati di dalam dua lagi berhasil menyelamatkan diri. Ayo. Kita kesana." sambung Argi sembari melangkah kearah mobil di mana Anisa di tempatkan.
"Tunggu! " pekik Karasuka berlari masuk kedalam mobil, sesaat kemudian keluar lagi menenteng sepatu. Kemudian melangkah kearah Libra "Ini... . Aku bawakan sepatumu. Apa kau mau terus jalan nyeker seperti ayam?" sindir Karasuka melirik kaki Libra.
"Oh, iya" Libra mengangkat kakinya yang terlihat hitam terkena debu. " Aku sampai lupa kalau gak pake alas kaki. Terimakasih sudah bawakan sepatuku" ucap Libra meraih sepatu di tangan Karasuka lalu berjongkok untuk memakainya.
"Jeri, Leo, Rubi dan kau Seno. Bawa mobil kita kesana" Seru Arumi pada empat pemuda itu. Kemudian mereka berempat masuk kedalam mobil dan lebih dulu pergi menuju tempat yang di maksud. Sedangkan yang lainnya berjalan kaki bersama Argi.
"Kak... . Apakah menurut mu orang-orang itu akan kembali mengacau keluarga Anisa?" ucap Salsa.
"Itu sudah pasti, Sal. Kakak yakin mereka memiliki markas besar di negara ini. Cepat atau lambat Diamond pasti akan datang untuk menuntut Balas kematian orang-orangnya. Apa lagi Kakak melihat Bram ada bersama mereka. Pasti kelompok mafia di Jerman sudah bergabung dengan Diamond" tukas Argi.
"Kalau begitu kita harus melindungi Anisa dan keluarga nya"
Argi menghentikan langkah setelah mendengar ucapan Salsa. "Kakak memang tidak akan pergi dari negara ini, Adikku. Kakak menyukai Anisa, jadi kakak tetap akan di sini untuk melindunginya. Entah kenapa Kakak merasa negara ini akan jadi ajang pertempuran hebat dari orang-orang hebat di atas dunia" ucap Argi memandang jauh ke depan.
* * *
__ADS_1
Satu bulan kemudian. Di sebuah restoran mahal dekat Pudu Raya, negara M.
"Salsa! Coba kau hubungi lagi kakakmu. Apa dia sudah bergerak kemari apa belum? Aku sudah lapaaar" ucap Zalia yang sejak tadi mengomel, membuat semua rekannya tertawa.
"Sabar napa sih!? bentar lagi juga nyampai"
"Sabar gimana!? Sudah lebih setengah jam kita menunggu. Aku bisa mati, tau!? balas Zalia yang makin membuat semua rekannya tertawa kekeh.
" Arumi... . Kau pesankan dulu saudaramu itu sebelum dia keburu mati" Karasuka terkikik bercanda.
"Eh, kenapa gak suruh laki-laki di sebelah mu itu? Dia juga saudara nya" balas Arumi.
Karasuka terdiam sembari menoleh pemuda di sebelahnya kemudian berkata; "Sana ambilin makanan buat Zalia, dia sudah kelaparan tuh"
"Ia sana ambilin Lib. Sebelum dia ngamuk kesetanan gulingin meja ini" sarkas Salsa yang juga duduk di sebelah Libra.
"Biar kan saja, lah... " balas Libra ringkas tertunduk lemas sudah paham tingkah Zalia yang memang sudah begitu.
Semua muda-mudi yang ada di meja panjang itu menoleh, menatap empat pemuda yang terlihat cupu celingukan dan melangkah lalu duduk di sebelah meja mereka. Empat pemuda itu bernama Rian Dutar Seno dan Maco.
"Seperti orang desa, gak pernah masuk restoran" gumam Mahesa mengejek.
"Hus... . Tidak boleh ngomong begitu" hardik Roger menyentak tangan adiknya. Sementara teman-teman nya yang lain malah terkikik karenanya.
"Eh, sepertinya mereka memang gak pernah masuk restoran. Lihat, mereka main tunjuk saja art paper itu" ucap Seno antara bergumam mendongak kesamping melihat 4 pemuda di sebelahnya.
"Hihihi mungkin mereka salah masuk tempat kali ya? Sepertinya mereka orang dari negara X yang jadi pekerja di sini" ucap Nania terkikik di ikuti yang lainnya.
"Tempat ini keren ya Bro? Pelayanan nya pun baik, sesuai dengan pelayan nya yang cantik. Malah yang datang pun cantik-cantik"
__ADS_1
Nania yang ketepatan sedang menatap empat pemuda di sebrang meja, dan ketepatan pemuda di sebrang meja menatapnya saat mengucapkan kata-kata nya. Membuatnya jadi tidak senang, bahkan Libra Karasuka Salsa Gentu Leony Gara Roni dan Leo ikut menatap tak suka pemuda di sebelahnya.
"Sudah-sudah, biar kan saja. Mungkin dia baru masuk ketempat seperti ini. Jadinya norak seperti itu" Kata Arumi, membuat semua mata tajam yang terarah ke sebrang meja bisa di redam. Tapi tak lama kemudian mereka menoleh lagi mendengar kekisruhan di meja sebelah. "Huh dasar orang kampung" batin mereka.
"Kak Argi dan Kak Anisa, kenapa lama sekali? Kami sudah hampir berjamur menunggu kalian di sini" teriak Salsa berdiri menyambut dua orang yang sedari tadi tunggu.
"Maaf semuanya, jalanan macet. Mungkin dampak dari perayaan kemerdekaan yang akan di laksanakan nanti malam" cicit Anisa tersenyum sembari meraih kursi yang sudah di sediakan untuk mereka berdua.
Sekawanan muda-mudi itu bercengkrama tertawa dan bercanda. Sesekali mereka menoleh ke meja sebelah hingga bergidik melihat 4 pemuda kampungan itu makan belepotan seperti bocah kecil yang rakus gak pernah makan.
"Saat ini kita semua sudah berkumpul. Bagaimana kalau sekarang kita memesan makanan? Dari tadi perutku sudah keroncongan minta di isi, aku bisa kena penyakit mah gara-gara kelaparan" ucap Zalia yang di sambut tawa teman-teman nya.
"Oke, biar aku panggil pelayan tadi untuk memesan makanan kita" ucap Jeri berdiri. Sebelumnya seorang pelayan wanita sudah datang menanyai. Tapi jeri mengatakan orangnya belum kumpul semua.
"Tidak usah. Aku sudah memesan untuk kita semua makanan terbaik di restoran ini. Restoran ini milik keluarga ku" ucap Anisa sembari merogoh handphone di saku kemudian menghubungi seseorang.
Tak lama kemudian berduyun pelayan datang di ikuti manajer di belakangnya mengantar makanan dan minuman lezat keatas meja, bahkan tetangga sebelah sampai terbelalak melihat banyaknya makanan dan minuman lezat yang mereka bawa.
"Silakan Nona, nikmati hidangannya. Jika ada sesuatu yang kurang, tolong Nona katakan" ucap ramah manajer pada Anisa yang memang sudah di kenalnya.
"Oh, tidak Tuan Syahril. Ini semua sudah bagus. Terimakasih atas pelayanan nya"
"Sama-sama Nona. Kalau tidak ada yang di perlukan lagi, maka saya pergi dulu"
"Oh, silakan Tuan." balas Anisa.
Para pelayan dan manajer segera pergi meninggalkan mejanya. Tapi baru beberapa langkah seseorang dari meja sebelah memanggilnya.
"Pak! Tolong kira berapa harga makanan kami"
__ADS_1
bersambung