Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Penthouse


__ADS_3

"Menyingkir lah Karasuka, jangan menghalangi ku, aku akan membunuh keluarga ini." seru Libra.


Pada saat itu jantung Trimaran masih berdebar, nyaris saja kepalanya terpisah dari tubuhnya. Dia juga sudah sangat lemah, setelah melepaskan kekuatan terakhirnya untuk meninju tubuh Libra.


Trimaran masih bingung, dan menatap heran ke arah, Karasuka. Bagaimana mungkin gadis itu bisa muncul tiba-tiba, menyelamatkan nyawanya.


Sebenarnya Karasuka baru saja tiba di rumah yang sudah hancur itu, hanya saja dari jarak yang tidak begitu jauh matanya menangkap gelagat Libra yang akan segera menyerang Trimaran.


Segera dia menggunakan kekuatan jubahnya agar tidak terlambat, untuk menyelamatkan nyawa Trimaran dari tebasan pedang, milik Libra.


"Aku bilang menyingkir. " Kembali Libra berkata, sebelum tubuhnya berputar menebaskan kembali pedangnya kearah leher Trimaran.


"Tuing_____ng."


Tapi lagi-lagi pedang milik Karasuka menghalangi pedangnya, untuk menyentuh tubuh Trimaran.


"Hentikan... .Tenangkan dirimu, Libra. Kau akan sangat malu nantinya pada Salsa." Serr, mendadak hati Libra berdebar. "Kita sudah salah sangka, bukan mereka yang menyerang RTB dan keluargamu."


Seketika dahinya berkerut menatap heran Karasuka. "Apa maksudmu dengan, Salsa. Bukankah kelompok Tiger Wolf yang menyerang RTB dan menyebabkan ibuku mati?."


"Tidak, kita salah Libra. Kartel narkotik dari Perancis yang menyerang RTB dan keluarga kita." timpal Arumi berjalan mendekat.


"apa?... . Kartel narkotik dari Perancis?."


Seketika pedangnya masuk kedalam telapak tangannya, matanya yang merah menyala perlahan-lahan kembali


normal. "Lalu apa hubungannya dengan Salsa?." Lanjutnya bertanya, dia semakin heran.


"Libra, rumah yang sudah kau hancurkan ini milik orang tua Salsa, dia anak Arendra Wijaya. Apakah kau tau? Sekarang dia sedang sekarat, di kota M. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghidupkan orang tuamu lagi." jelas Karasuka.


"Ap-apa, apa yang kau katakan!?." Libra tergagap karena terkejut. ' Sial aku sudah menghancurkan rumah dan keluarganya.' gumamnya menyesal.


Wajahnya terlihat lesu mengingat rasa bersalahnya pada Salsa, dia masih tetap berdiri terpaku ketika Arumi, Karasuka, dan yang lain membantu Trimaran, Wijaya, Atmaja dan Arendra yang sedang sekarat.


Namun sesaat kemudian wajahnya kembali berubah pias. ' Sial, aku akan menghancurkan kalian.' Gumamnya geram mengepal jari, mengingat kelompok kartel narkotik yang berada di Perancis.


# # #


Saat itu malam sudah beranjak pagi.


Di sebuah penthouse yang mewah milik Salsa. Argi baru saja menyalurkan kekuatan di tubuhnya, kepada adiknya.


Dia mendadak pias ketika mendapat kabar dari anak buahnya yang ada di lbu kota, kalau rumah keluarganya telah hancur dan keluarganya mendapat cedera yang parah, sekarang berada di rumah sakit milik keluarganya.


" Bedebah, beraninya dia melukai dan menghancurkan rumah keluargaku. Aku akan membuat perhitungan dengannya." Gumamnya geram, mengepal erat jari tangannya.

__ADS_1


"Uhuk-uhuk ... .Kakak?." Sapa Salsa setelah tersadar dari pingsan dan masa kritisnya, dia terkejut melihat Argi


yang sebelumnya berada di ibukota sudah duduk di sebelahnya.


Dalam keadaan hatinya yang sedang tidak baik, Argi coba tersenyum menyapa adiknya.


"Kau sudah bangun?."


"Ia, Kak. Kapan kakak datang?."


"Tadi malam, tapi sekarang kakak akan kembali lagi ke ibukota."


"Ha?, kenapa?." tanya Salsa terkejut dan penasaran.


Argi tidak menjawab, dia hanya menatap Salsa sembari senyuman yang mulai hilang dari bibirnya.


' Libra, apa karena Libra?, apakah dia sudah membunuh ayah dan ibuku?. Oh Tuhan, apakah kau tidak menyampaikan pesanku padanya.? '


Gumam Salsa di hati. Perasaan cemas mulai terlihat di wajahnya.


"Aku ikut, Kak. "


"Tidak."


"Ikut."


"Aku bersamamu, bagaimana mungkin aku takut sakit?. Jika kau pergi meninggalkanku, maka aku akan pergi sendiri." Salsa memaksa.


Argi jadi serba salah. Jika dia membawanya, maka niatnya untuk membuat perhitungan dengan Libra pasti akan runyam.


Tapi jika tidak di bawa. Adik kesayangannya pasti akan melakukan tindakan, yang mungkin akan bisa membahayakan dirinya sendiri.


"Baiklah, aku akan membawamu. Tapi nanti di sana, kau akan tinggal di penthouse dulu."


"Kenapa?." tanya Salsa menyelidik.


"Tidak usah banyak tanya." balas Argi sedikit kesal pada adiknya.


"Baiklah. Aku akan mengikuti kemauan mu." Salsa tau abangnya mulai kesal dengannya. ' Aku bisa cari tau setelah sampai di sana. Libra, semoga kau tidak membunuh keluargaku.'


"persiapkan semuanya, kita akan pergi sebentar lagi." perintah Argi pada anak buah dan sepuluh pengawal Salsa.


"Baik Tuan Muda." balas anak buahnya.


# # #

__ADS_1


Dua jam kemudian.Terjadi kericuhan di sebuah rumah sakit ternama, yang ada di ibukota. Pasalnya, banyak sekali orang-orang yang memakai pakaian hitam berada di areal rumah sakit itu.


Sebelumnya.


Karasuka dan Arumi bersama yang lain


Melihat Trimaran, Arendra, Atmaja dan Wijaya, dalam keadaan cedera parah.


Dalam keadaan yang seperti itu.


Karasuka berinisiatif membawa mereka ke rumah sakit yang tak disangka-sangka olehnya, kalau rumah sakit itu sebenarnya milik mereka.


Kabar masuknya pemimpin Tiger Wolf ke rumah sakit dan penyerangan ke atas rumahnya cepat tersebar luas di kota itu, sehingga memicu seluruh anggota Tiger Wolf yang berada di setiap penjuru kota itu datang untuk melihatnya.


Sementara di tempat lain, lima mobil mewah Rolls-Royce yang membawa Argi dan Salsa, beserta sepuluh pengawalnya baru saja keluar meninggalkan bandara menuju penthouse keluarganya .


Sepanjang jalan tidak ada pembicaraan antara Argi dan Salsa. Argi tetap fokus menatap tajam ke depan, sementara Salsa terkurung dalam pikiran buruknya. ' Bagai mana dengan ayah dan ibu, apa mereka baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan Libra, di mana dia sekarang.' batinnya.


Setelah berapa lama menempuh waktu dalam perjalanan, akhirnya rombongan itu sampai di sebuah penthouse yang super mewah.


Beberapa orang keluar menyambut Salsa saat keluar dari dalam mobil sementara Argi masih tetap di dalam.


"Kak, ayo keluar." Panggil Salsa setelah melihat Argi tidak bergerak dari posisinya.


"Tidak, kakak masih ada urusan di luar. Kau masuk lah dulu kedalam, nanti kakak akan kembali setelah menyelesaikan urusan kakak. Jangan keluar dari rumah, kau masih sakit, mengerti?."


Salsa tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala seraya bergumam di hatinya. ' Mau kemana dia?, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Di mana ayah dan ibu, aku harus segera mencari tau.'


"Rolex."


Argi menurunkan sedikit kaca mobil, untuk memanggil salah satu bawahan yang menjadi pengawal Salsa.


"Ya, Tuan muda." bergegas mendekat.


"Ingat. Jangan biarkan adikku keluar dari rumah ini,


jika sampai kalian melakukan kesalahan lagi." Argi berhenti sejenak. "Maka aku akan membunuh kalian beserta seluruh keluarga yang kalian miliki." Argi menekan kata membunuh pada anak buahnya.


"Baik Tuan muda." balas Rolex.


"Ayo jalan." perintah Argi pada sopir seiring menutup kaca mobil.


Lima Rolls-Royce itu beranjak pergi meninggalkan Salsa dan sepuluh orang pengawalnya.


Sementara Salsa masih terus berdiri menatap kepergian lima Rolls-Royce itu hingga menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2