Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Salsa Vs Karasuka


__ADS_3

"Maaf kan aku jika harus berbuat kasar pada kalian, aku hanya melindungi diriku." seru Salsa.


"Maaf?... . Kasar?. Hahaha, kau terlalu percaya diri. Apa kau lupa kalau kau sendiri?, kami akan menuntut balas atas kematian orang tua kami." Kata Roger berlari menyerang kearah Salsa melancarkan tinjunya, tapi Salsa cepat menghindar dan balas menyerang dengan siku kanannya tepat ke leher Roger. Roger jatuh kebelakang menggeliat kesakitan.


Melihat itu, semua berlari kearah Salsa untuk menyerangnya secara bersama-sama.


Salsa yang merasa tidak ingin mencederai teman-temannya dengan serius, merogoh sesuatu dari dalam sakunya melemparkan kearah mereka.


"Maaf." kata Salsa.


Dalam sekejap, asap putih yang tebal menyelimuti mereka, mereka semua ter batuk- batuk sebelum jatuh terkulai.


Salsa hanya melemparkan racun kimia yang menyebabkan, mereka semua pingsan. Walaupun Salsa anak dari pria dan wanita yang kejam dari mafia terbesar di ibukota, tapi dia memiliki sifat dan hati yang lembut.


Kalau saja dia mau, dia bisa melemparkan racun yang membuat mereka semua mati seketika. Tapi Salsa tidak melakukannya, dia sudah menganggap mereka semua sahabat baiknya.


Karena sifat dan hatinya yang selalu lembut kepada orang lain itulah, keluarganya selalu menjaga dan melindunginya walaupun secara notabene dia bukanlah gadis yang lemah.


' Aku sudah lama menduga. Dia bukanlah gadis biasa, dan dari keluarga biasa. Sekarang dugaan ku benar. Dia gadis berbahaya, dari keluarga berbahaya. Tapi aku tidak menyangka kalau dia anak Arendra Wijaya.


Pantas saja... .' Gumam Karasuka yang sedari tadi memperhatikan Salsa.


"Apa kau juga tidak percaya padaku?."


tanya Salsa menoleh, menatap Karasuka dengan mata lembutnya.


Karasuka mengedik bahu, dia tidak tau harus percaya atau tidak. Kemudian dia berkata ; "Kalau ada bukti tentangnya... . Tapi yang aku tau memang ayahmu lah yang ingin menguasai kota ini." balasnya.


" Baiklah... . Maafkan aku, aku harus bertindak cepat untuk mengabari ayahku." ucap Salsa. Dia merogoh racun pembuat pingsan dari sakunya.


Karasuka yang menyadarinya cepat berlari mendorong tubuh Salsa kebelakang, sebelum dia sempat mengambil sesuatu dari sakunya.


Salsa terlempar terseret kebelakang, namun dengan cepat dia berdiri, melesat kearah Karasuka.


"Bum."


Dua kekuatan kuat, bertemu dari tinju Salsa dan Karasuka. Mereka berdua sama-sama terlempar kebelakang, namun tetap masih berdiri.


'Salsa, aku tidak menyangka kau sekuat ini.' gumam Karasuka.


'Karasuka memang kuat, aku pernah mendengarnya dari ayah. Apalagi kalau dia menggunakan jubah dan pedangnya, aku pasti bukan lawannya.


Sebenarnya aku bisa menggunakan racun kimia mematikan untuk mengalahkannya. Tapi aku tidak akan melakukannya, bukan saja dia, tapi semua orang di sini mungkin akan mati.' gumam Salsa.


Karasuka dan Salsa saling menatap. Mereka sama-sama diam mengukur kekuatan lawan masing-masing, kemudian kembali saling menyerang dengan lincah dan gesit.


"Bugh."


"Bugh."

__ADS_1


"Bam."


Kembali Salsa terhempas kebelakang terkena pukulan keras Karasuka di dadanya, dia menggeliat kesakitan lalu merangkak untuk berdiri.


"Uhuk, uhuk." Salsa ter batuk dan berdiri terhuyung, darah segar mengalir dari sudut mulutnya.


Seketika rasa iba merasuki jiwa Karasuka, dia menurunkan aura kekuatan pada tubuhnya sambil terus menatap Salsa.


'Sial... . Dia cepat sekali.' gumam Salsa.


Saat itu Gentu dan Leony, terbatuk-batuk sadar dari pingsannya.


Hiro dan yakuza yang berdiri di dekatnya segera berjongkok, memastikan keadaan mereka.


Sementara Salsa dan Karasuka, menatap penasaran kedua gadis itu.


'Siapa mereka?.' pikirnya.


Gentu bergegas duduk begitu membuka matanya, begitu juga dengan Leony. Mereka terkejut melihat dua laki-laki yang berada di dekatnya.


"Siapa kalian?." tanya Gentu. Dahinya berkerut mengingat pemuda yang menolongnya tadi, bukan dari kedua pria di depannya.


"Kami orang RTB, bawahan Libra. Orang yang membawamu kesini. "


"Libra?." dahi Gentu berkerut. Kemudian dia teringat seorang pemuda yang di panggil Libra oleh seorang wanita. ' pemuda hebat itu. ' gumamnya. Seketika


bibirnya menampakkan senyum mengingat wajah Libra.


Karasuka yang penasaran segera mendekati kedua gadis itu, begitu juga dengan Salsa. Dia berdiri di dekat mereka.


"Siapakah kalian?, bisakah kalian menceritakan padaku siapa yang menyerang tempat ini!?."


"Kami, kami."


Gentu tergagap menjelaskan siapa dirinya, dan apa yang terjadi di dalam rumah sebelumnya.


Sedangkan Karasuka terperangah mendengarnya, dia merasa bersalah pada Salsa.


Sementara Salsa sendiri ambruk, kedua lututnya menghentak keras ketanah. Hatinya lega sekalian bimbang mengingat orang tuanya.


Buru-buru dia merogoh hp dari sakunya untuk memberi tau Libra, kalau bukan ayahnya yang menyerang keluarganya.


Namun sesaat kemudian dia terlihat sedih, ketika mengingat Libra telah menghancurkan Hp nya saat di air terjun.


"Duar."


"Hik, hik, hik."


Salsa membanting Hp nya ke tanah dan menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Maafkan, maafkan aku Salsa, maafkan." Karasuka beranjak cepat kehadapan Salsa, memohon maaf padanya.


"Sudah lah." Kata Salsa, sembari menggeleng kepala tanda memaafkannya.


"Hik, hik, hik." Karasuka ikut menangis seraya memeluk Salsa, dia merasa sangat bersalah padanya.


Salsa melepaskan tangan Karasuka, berjalan mendekati tubuh Arya dan Naira yang terbujur. Dia memejamkan matanya sambil merentangkan kedua tangannya, mengumpulkan kekuatan di dalam tubuhnya.


Karasuka menatap tercengang, ketika melihat kedua tangan Salsa bersinar terang. Namun tiba-tiba sepuluh orang datang, menarik kedua tangannya.


"Jangan lakukan itu Nona, Kau bisa mati." Kata salah seorang dari mereka, yang tak lain pengawalnya.


"Kenapa kalian Lama sekali?. Kata Salsa menoleh orang-orang itu.


" Maaf Nona, terjadi sesuatu saat kami menuju kemari, lihatlah." Dia menunjukkan luka-luka di tubuhnya dan teman-temannya. "Kami bertemu tiga orang yang memakai serum perubah wujud, mereka menyerang kami, kami terpaksa melawannya dulu. Hingga mereka terluka dan pergi meninggalkan kami, barulah kami datang ke sini Nona."


"Nona, apa yang terjadi padamu?."


Melihat bekas darah di sudut mulut, anak tuannya. Sepuluh orang itu mulai mengeluarkan aura pembunuh, melihat ke sekelilingnya.


"Jangan macam-macam, mereka teman-temanku." Segera Salsa


mengingatkan, agar mereka tidak melakukan sesuatu. Seketika aura pembunuh itu, redup kembali.


"Menjauh lah. Jangan menggangguku."


"Nona... .Tuan akan menghukum kami jika anda melakukan sesuatu yang berakibat buruk, pada diri anda sendiri."


"Aku bilang menjauh lah." Kembali Salsa berkata setengah berteriak. Matanya tajam menatap sepuluh pengawalnya. ' Ayah dan ibuku belum tentu hidup, jika bertemu Libra.' gumamnya di hati.


"Ta, tapi nona. Kau akan kehabisan seluruh tenaga mu, jika melakukannya."


Salsa tidak menjawab, dia semakin menatap tajam kearah pengawalnya.


"Ba, baiklah Nona."


Sepuluh pengawal itu bejalan mundur seiring Karasuka maju kehadapan, duduk di samping Salsa.


"Apa yang akan kau lakukan?." Tanya Karasuka, memegang bahu Salsa.


Salsa menoleh kesamping, kearah Karasuka. Berkata ;


" Aku yakin sekarang Libra, tengah mengamuk. Aku tidak tau apa yang akan terjadi pada orang tuaku nantinya. Sekarang aku akan menghidupkan lagi ayah dan ibunya.


Aku berharap, Tuhan menyampaikan pesanku padanya, bukan ayahku yang menyerang keluarga nya.


Jangan bunuh, ayah ibuku."


Sejurus itu, kedua tangan Salsa menyentuh dada Naira dan Arya.

__ADS_1


Cahaya terang di tangannya perlahan meresap ke tubuh mereka. Dan di saat yang sama. Matanya perlahan mulai tertutup dan akhirnya tubuhnya ambruk ketika semua cahaya telah hilang dari tangannya.


Bersambung.


__ADS_2