
"Kemana dua bangsat itu"
Libra terbang kesana-kemari mencari keberadaan Bram dan Tirex yang sudah pergi jauh meninggalkan tempat itu.
Akhirnya dia kembali lagi ketempat Argi begitu tidak menemukan mereka.
"Bagaimana kau tau aku di sini?"
"Aku tau dari Salsa setelah di kabari paman Rolex. Sekarang mereka juga sedang menuju kemari" balas Libra.
Saat pertamakali Argi merasakan ada yang tidak beres di rumah Annisa, dia langsung mengabari Rolex untuk datang ke rumah ini.
Ketika Rolex dan 9 temannya bergegas menuju rumah Anisa, dia menyempatkan sebentar untuk memberitahu Salsa yang masih di Kampung Nelayan.
flashback
Libra mulai melangkahkan kakinya melewati dapur untuk menuju pantai, tapi seketika langkahnya berhenti melihat nampan di atas meja.
"Lah... . Berarti tadi mereka sudah mau buat kopi dan tehnya... . Tapi di tinggal begitu saja setelah melihat pantai. Dasar payah" omel Libra.
Kemudian dia kembali melangkahkan kakinya keluar dari pintu belakang rumah Pak Rahman. Kakinya yang panjang melangkah lebar tanpa menggunakan alas kaki menapak di pasir putih yang menuju ke pantai.
Dari jauh di bawah pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang pantai. Libra berdiri tertegun menatap dua gadis cantik yang berlarian di tepian pantai, sesekali mereka saling melempar dan tertawa cekikikan. Ada sebuah perasaan yang sulit di gambarkan ketika matanya menatap mereka. Perasaan yang sudah bertahun tersimpan dalam hatinya, tapi dia sendiri tidak tau bentuk dari perasaannya itu apa.
Mereka adalah Salsa dan Karasuka. Dua gadis yang selama ini menaruh hati padanya. Hanya saja sampai saat ini Libra belum menyadarinya.
__ADS_1
Libra kembali melangkahkan kakinya untuk mendekat ke pantai. Hingga terdengar suara memanggil, melengking-lengking namun lembut dan merdu terdengar di telinga.
"Hei, Libra... . Libra... . Kemari" teriak Salsa dan Karasuka melompat-lompat sembari menggapai-gapai kan tangannya.
Libra melangkahkan kaki kearah mereka sambil menggelengkan kepalanya, setelah dekat dia pun berkata; "Kalian di suruh buat minum malah lari ke pantai"
"Dia duluan Lib, aku cuma ngikut aja" tunjuk Karasuka pada Salsa.
"Ia Kak, ini semua gara-gara kak Salsa. Kami semua jadi ngikut kesini" kata Arin yang berlari mendekat.
"Eh, aku kan gak ngajak kalian. Kenapa aku yang di salahin " ucap Salsa melotot pura-pura marah.
"Udah, ayok mandi" ucap Salsa menarik tangan Libra ke air, sedangkan Karasuka mendorongnya dari belakang.
"Hei.Hei.Hei" pekik Libra ketika di tarik dan di dorong ke air.
"Bagaimana kalau nanti malam kita berkemah di sini?" ucap Karasuka yang sedang bermain-main air seperti anak kecil bersama Salsa dan Libra.
lama mereka bermain di pantai itu. Ada yang berjalan menyusuri pantai seperti petualang. Ada yang kejar-kejaran seperti orang tauran. Malah ada yang bolak-balik berenang ketengah dan ke pinggir, seperti orang yang sedang ikut lomba di kolam renang.
Hanya Jeri sendiri yang agak beda dari lainnya. Dengan bersusah payah dia memanjat pohon kelapa demi mengambil degan yang ada di sana. Mungkin haus kali ya? Pasalnya air laut rasanya asin.
Setelah Jeri sampai di puncak tertinggi, dia terlihat begitu bahagia. Wajahnya merona-rona saking gembiranya, memeluk erat batang pohon itu yang ter ayun-ayun tertiup angin.
"Woi monyet, cepat turunkan degannya"
__ADS_1
Jeri tersentak, dia mendongak kebawah. Alangkah terkejutnya dia mendapati semua temannya sudah bertolak pinggang menengadah kearahnya. 'Eh! kapan-kapan pula mereka ada di situ?' batin Jeri.
"Jatuhkan degannya" jerit Gara dari bawah.
"Panjat sendiri" balas jeri.
"Kalau kau gak mau jatuhkan degannya, ku cucuk pantatmu pakai kayu" ancam Gara sambil mencari-cari kayu di sekitarnya.
Jeri tersentak sambil mengangkat sedikit bokongnya 'Buset' batinnya.
"Hoi.Hoi.Hoi. Sabar!" Segera Jeri meraih kelapa muda dan menjatuhkan semua yang ada di sana.
Saat muda-mudi itu menikmati degan di bawah pohonnya. Pak Rahman datang tergesa-gesa menyampaikan pesan dari Rolex.
"Nak Salsa. Nak Salsa. Yang mana yang namanya Salsa?" ucap Pak Rahman tercungap-cungap. Dia lupa nama mereka, padahal tadi sudah kenalan semua. Maklum, sudah tua.
Jari semua orang menunjuk kearah Salsa, sementara Salsa sendiri mengangkat jarinya menunjuk ke atas. "Saya, Pak. Ada apa?"
Pak Rahman menoleh kearah Salsa kemudian berkata; "Begini ceritanya.Tadi ada yang nelpon berdering-dering di telepon mu. Karna gak henti-henti jadi bapak angkat. Katanya dari bapak Rolex. Dia bertanya tentang mu. Bapak bilang kalian semua lagi di pantai. Jadi dia menyuruh bapak menyampaikan pesannya padamu. Dia bilang katanya abangmu sekarang di rumahnya Annisa. Sebab katanya Anisa sekarang dalam bahaya. Begitu katanya" ucap Pak Rahman menjelaskan. Tapi malah terdengar rumit dan bertele-tele.
"Ayo, kita harus segera pergi ke rumah Annisa" ucap Salsa berlari.
"Kalau begitu aku pergi duluan" ucap Libra sembari mengeluarkan sayapnya, lalu terbang tinggi melesat di angkasa.
Pak Rahman dan Arin yang belum pernah melihat sayap di tubuh Libra, terperangah dan terkagum-kagum hingga terus menengadah menyaksikan Libra terbang sampai menghilang.
__ADS_1
Begitu tersadar dari kekagumannya mereka mendapati kalau orang-orang di sekitarnya ikut menghilang, mereka sudah pergi meninggalkan Kampung Nelayan menggunakan mobilnya.
bersambung