
Satu tahun telah berlalu namun tiada kabar tentang Libra, entah dia masih hidup atau sudah mati hanya Tuhan saja yang tau.
Di tengah lapangan terbuka, Salsa terlihat sedang menangis sedih di bawah guyuran hujan. Dia menyaksikan sebuah pesawat yang sedang beranjak pergi meninggalkan bandara.
"Hiks-hiks-hiks. Kenapa kau juga pergi?. Kenapa?. " Ucap Salsa menatap pesawat yang membawa Karasuka, pulang ke negaranya.
Setelah hilang nya Libra. Salsa berubah menjadi gadis yang pendiam dan pemurung, jarang sekali dia mau tersenyum ataupun tertawa. Hanya Karasuka saja yang bisa membuat hidupnya agak sedikit bermakna.
Selama ini mereka berdua membangun kembali kelompok RTB yang sempat hancur. Dengan bantuan Gentu dan Leony, kelompok itu sekarang jauh lebih kuat dan berkuasa di banding dahulu.
"Tuhan... . Mengapa kau buat hatiku serapuh ini?. Cabut saja perasaan ini dari hatiku. Aku belum lama mengenal Libra, tapi kenapa hatiku selalu mengingat wajah dan namanya?.
Dan dia.
Lihatlah dia.
Dia satu-satunya sahabatku yang bisa membuatku tersenyum.
Tapi lihatlah.
Dia juga pergi meninggalkan ku.
Kenapa?.
Kenapa?.
__ADS_1
Hiks-hiks-hiks. "
Salsa berteriak menatap langit di bawah guyuran hujan, sedang tangannya menunjuk kearah pesawat
yang baru saja terbang ke udara. Dia seperti mengadu pada Tuhan nya, mengadu betapa sedih hatinya kehilangan mereka.
Tak lama kemudian tubuhnya terjatuh, dia merosot ke atas tanah. Kepalanya tertunduk, dia menangis tersedu mengenang dua sahabat yang sudah pergi meninggalkannya.
' Libra.
Karasuka.
Aku ingin hidup bersama kalian. '
'Selamat tinggal kota M, aku tidak sanggup lagi untuk terus hidup di sini. Biarlah semuanya jadi kenangan dalam hatiku.' Gumam Karasuka yang ada di dalam pesawat. Dia menatap kebawah melalui kaca, air matanya mengalir deras teringat kenangan di kota itu.
Selama ini Karasuka selalu menunggu, mengharapkan Libra kembali lagi. Tapi setelah satu tahun lamanya, dia pun mulai menyerah.
Dia mencoba berdamai dengan hatinya, rela akan takdir yang mengatakan kalau Libra memang telah tiada.
____________________________________
"Ayo kita pulang. Kenapa kau hujan-hujanan di sini?, nanti kau bisa sakit."
Tiba-tiba Arumi datang memayungi tubuh Salsa, dia tau sahabatnya itu sangat sedih atas perginya Karasuka.
__ADS_1
Salsa menoleh ke arah Arumi, dia masih sesenggukan sambil mengusap wajahnya, tapi dia juga menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Ayo kita pulang." balas Salsa.
Setengah jam kemudian, Salsa sudah tidak lagi di dalam bandara. Sekarang dia tengah berjalan lesu masuk kedalam rumahnya.
Rambut dan pakaiannya yang basah,
semakin membuat dia terlihat miris dari wajahnya yang murung dan terlihat kusam.
Di sudut lain. Argi menatap sedih adiknya tersayang, dia berdiri tidak jauh di hadapan Salsa yang berjalan menunduk tanpa menyadarinya.
'Maafkan kakak Dik.' gumamnya sedih di dalam hati. 'Andai saja kakak tau kau akan jadi begini, kakak berani bersumpah tidak akan berkelahi dengan Libra.' lanjutnya bergumam sangat menyesal.
"Kakak?."
Ucap Salsa sambil berjalan mundur selangkah, setelah menabrak tubuh Argi yang berdiri di depannya.
Argi tidak menjawab, dia malah memeluk Salsa dengan raut sedih di wajahnya. "Kenapa kau jadi begini?,
maafkan kakak."
Hanya itu saja yang bisa Argi ucapkan untuk mengungkapkan rasa sesal di hatinya, dia tidak sanggup lagi berkata banyak melihat adiknya yang menderita karena kehilangan dua sahabatnya.
"Apa Karasuka sudah pergi?."
"Sudah, Kak. Dia pulang ke negaranya meninggalkan ku sendiri." balas Salsa sedih. "Kak. Maukah Kakak membawaku pergi jalan ke negara M ?. Entah kenapa, aku ingin sekali datang ke negara itu." Salsa menatap Argi penuh harap.
__ADS_1