
Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang akan terjadi, kita harus tetap bersama. Ibu akan memarahiku jika aku pergi tanpamu, apa pun yang akan terjadi nanti, biarlah. Namun aku tetap tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini. jika memang akan mati di sini, biarlah kita mati bersama.
"Kurang ajar, bukankah mereka anak-anak Lazio?." kata Arbeto pada tiga anak buahnya.
"Benar Bos ... mereka memang anak Lazio." Kata seorang anak buahnya, setelah memperhatikan dua pemuda yang di kenali nya.
"Nampaknya mereka telah berkhianat, aku akan melaporkan semua ini pada Arendra wijaya." kata Arbeto.
Sedangkan Mahesa, terus menatap abangnya yang jatuh terkena tembakan pada kaki kanannya. Dia berusaha keras untuk bertahan, sambil membalas tembakan pada orang-orang yang telah menembaknya. Kemudian Mahesa teringat pada pesan ibunya, lalu dia menoleh kebelakang sambil berkata pada anak buahnya; "Cepat pergi dari sini, tinggal kan kami. Sebelum kelompok mafia, Tiger Wolf datang kemari. Bawa mereka ke bandara sekarang juga." titahnya, menunjuk keluarga Aleksander.
Anak buah Mahesa, terlihat bingung dengan perintah yang di berikan pada mereka. Dengan suara yang tegas, Mahesa kembali berkata sambil
berteriak ; " Cepat, segera pergi dari sini sebelum semuanya terlambat dan jadi sia-sia." Setelah berteriak, dia berbalik. Berlari kearah abangnya.
Kemudian Mahesa memapah Roger untuk berdiri dengan tangan kirinya. Sambil menembaki musuh yang berlindung di dalam rumah, dengan sniper yang ada di tangan kanannya.
"Dor Dor Dor"
"Aku sudah menyuruh mu untuk pergi, Kenapa kau kembali?." tanya Roger.
" Ibu akan memarahiku, jika meninggalkan mu sendiri di sini. Dia sudah berpesan, agar kita selalu bersama." balas Mahesa.
"Bodoh" kata Roger, sambil tersenyum menatap adiknya. Kemudian dia kembali berkata ; " Baiklah ... kita akan hadapi bersama."
Sejurus itu, suara tembakan terdengar beruntun. Terjadi antara Roger dan Mahesa, melawan Arbeto dan anak buahnya.
"Dor Dor Dor"
"Dor Dor Dor"
"Arh ... ."
Erang Mahesa yang terkena tembakan di bahu kanannya. Nania yang melihat semua itu, membuat hatinya jadi iba. Dia segera merampas dua pistol milik anak buah Roger , kemudian berkata ;
__ADS_1
"Kalian pergilah dulu ke bandara, bawa keluarga ku kesana." Setelah itu dia berlari sambil menembaki musuh yang berlindung di dalam rumah, untuk membantu Roger dan Mahesa.
Nania adalah anak gadis dari Geri dan Rindi. Selain wajahnya yang cantik, dia juga gadis yang pemberani. Keberanian seperti itu mungkin di turunkan dari sifat ayahnya, yang telah bekerja sebagai seorang mafia.
Gara, Roni dan Jeri tercengang, melihat keberanian Nania yang berlari sambil menembak musuh dengan dua pistol di tangannya.
"Dor"
"Dor"
Apa yang di lakukan oleh Nania telah memancing semangat di hati Gara, Roni dan Jeri, untuk ikut membantu melawan musuh.
"Berikan pistol mu itu pada ku, kalian cepat pergilah ke bandara, bawa keluargaku." kata Gara, pada anak buah Roger.
Kemudian dia berlari membantu Roger, Mahesa, dan Nania, sambil menembaki
musuh yang berlindung di dalam rumah. Begitu juga dengan Roni, dia juga ikut berlari untuk membantu . Setelah mendapatkan pistol, dari anak buah Roger.
Sekarang hanya tinggal Jeri, anak muda dari keluarga Aleksander yang tersisa. Dia menggeleng kepala, sambil berteriak kesal menatap saudara-saudaranya ; " Hah ... aku juga anak muda seperti kalian. Jika kalian ingin bar-bar, maka aku akan ikut bersama."
Kemudian anak buah Roger, segera bergegas meninggalkan lokasi itu, mereka membawa keluarga Aleksander yang sudah tua dan masih anak-anak.
Sedangkan Jeri, dia masih berpikir sejenak. Untuk menaklukkan musuh yang sedang berlindung dalam rumah itu. Umurnya baru tujuh belas tahun, dia yang paling muda, dari ke-enam anak muda yang sedang berusaha melawan kelompok Arbeto. Selain anak muda yang tangguh, Jeri juga di kenal memiliki watak yang cerdas oleh keluarganya.
Setelah menemukan cara, dia berjalan mengelilingi rumah Arbeto sambil menggenggam dua pistol di tangannya. Kemudian masuk kedalam rumah itu, dari sudut yang lain lewat jendela. Dengan berhati-hati, dia berjalan mengendap menuju suara tembakan yang di lakukan oleh musuh yang sedang bersembunyi di dalam rumah itu. Begitu menemukannya, tanpa memberikan jeda sedikitpun pada mereka. Dia langsung menembak musuh-musuhnya dari arah belakang dengan dua pistol dalam genggamannya.
"Dor"
"Dor"
"Dor"
"Dor"
__ADS_1
Seketika itu juga. Empat orang musuh yang sedang bersembunyi di dalam rumah itu, mati di tangannya. Dan salah satu orang yang telah mati itu, adalah Arbeto.
Kemudian Jeri keluar dari dalam rumah, berjalan kearah Roger, Mahesa Nania, Gara dan Roni. Sambil mengatakan ; "Mereka sudah mati ku bunuh."
Namun tiba-tiba, Roger mengangkat senjatanya dan langsung menembak ke arah orang yang berada di belakang Jeri.
"Dor Dor Dor"
Saat itu juga, seorang wanita yang hampir saja menembak Jeri, telah mati bersimbah darah terkena tiga peluru dari senjata laras panjang milik Roger.
Jeri yang terkejut, membalikkan badannya kebelakang. Dan alangkah terkejutnya dia melihat orang yang hampir saja membunuhnya itu
adalah Erina. Yang tak lain adalah tantenya sendiri, begitu juga dengan Roni dan Gara. Sedangkan Nania, dia tutur bibi padanya.
Nania maju selangkah, menatap mayat Erina sambil berkata ; "Bibi Erina telah berkhianat, seandainya dia tadi tidak mati tertembak. Mungkin salah satu dari kita yang akan mati di tembaknya. Ayo... sekarang kita harus segera pergi dari sini." tukas Nania sambil menatap Jeri, kemudian dia berbalik membantu Roger.
"Kau masih kuat berjalan?." tanya Nania.
"Masih" balas Roger.
" Bagus " kata Nania. Kemudian dia menoleh Mahesa. "Bagaimana dengan bahu mu?."
"Tidak apa, aku masih bisa bertahan."
balas Mahesa.
"Baiklah, kita harus segera pergi dari sini." kata Nania, sambil berjalan memapah Roger. Sedangkan Mahesa, di bantu oleh Gara. Roni berjalan paling belakang untuk melindungi orang di depannya. Dan Jeri berjalan di depan.
"Terimakasih, kalian telah menolong kami." kata Roger.
"Kau salah, kalianlah yang telah menolong kami." balas Nania, sambil tersenyum.
"Ayo cepat, di depan ada mobil. Aku sudah berpesan pada anak buah mu, agar meninggalkan satu mobil untuk kita." kata Jeri. Sambil menoleh kebelakang pada Roger, yang sedang di papah oleh Nania.
__ADS_1
Setelah sampai di depan, Jeri menoleh ke kanan dan ke kiri mencari mobil yang telah di pesannya. Setelah menemukan, dia berlari ke arah mobil itu dan masuk di ruang pengemudi. Jeri menyalakan mobil itu setelah berada di dalam, kemudian menjalankan mobilnya untuk mendekat rekan setimnya. Dengan buru-buru dia membukakan pintu mobil sambil berkata ; "Ayo cepat kita harus segera pergi."
Bersambung