Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Serangan Platinum kemutiara 3


__ADS_3

"Anakku. Sekarang ibu dalam ketakutan nak?. Adikmu menangis bertanya tentangmu, ayahmu telah tertembak. Dani dan Bima telah mati, semua laki-laki di rumah ini pergi ke perusahaan untuk mengamankan kekacauan. Sekarang rumah kita di kepung ratusan orang.


Anakku, Libra. Ibu ingin berkisah padamu. Maafkanlah kesalahan ibu dan ayahmu, dulu. Dia seorang suami yang sangat mencintai istrinya lebih dari apapun . Dan ibu juga sangat mencintai suami ibu, yaitu ayahmu. Maafkanlah kami berdua. Sesungguhnya kami sangat menyayangimu." Terkirim satu jam yang lalu.


Dahi Libra, berkerut membaca pesan dari ibunya. Kesan dari kata-katanya, seperti dia akan pergi untuk selamanya.


'Aku juga menyayangimu bu.' Wajah Libra langsung berubah gelap, segelap hatinya yang di rundung cemas.


"Ada apa Lib?." tanya Karasuka yang merasa heran.


"Ibuku, dalam bahaya." balas Libra ringkas.


"Apa?." pekik Leo dan Arumi bersamaan, mendengar ucapan Libra.


"Kita harus segera pulang." Teriak Leo, berlari bersama Arumi. Namun sesaat kemudian mereka berhenti ketika melihat Libra masih berdiri di tempatnya.


"Lihatlah, pesan ini terkirim satu jam yang lalu." Menunjukkan Hp, lalu meremasnya hingga remuk tak berbentuk karena kesal. "Dan kita memerlukan waktu hampir satu jam untuk kembali kesana."


" Jadi...apa lagi yang bisa kita lakukan?." seru Arumi menatap Libra. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya.


Tapi Libra tidak menjawab. Dia hanya diam. Wajahnya semakin gelap. Hatinya bertambah gelisah, kemudian dia kembali menatap langit seraya berteriak ;


" Tuhan... . Kau sudah ambil, satu ibuku. Jangan ambil, satu lagi dariku. Jika kau ambil juga. Maka aku bersumpah atas diriku. Aku akan jadikan dunia ini neraka. Sebelum aku, masuk ke neraka Mu."


Leo dan Arumi, tercengang mendengar teriakan Libra. Begitu juga dengan yang lainya. Salsa mendekat, lalu menyentuh bahunya seraya berkata ; " Libra, kita hanya bisa menggunakan mobil untuk cepat sampai di sana."


Libra hanya menggeleng kepala seraya


bergumam. "Seandainya aku bisa terbang... ." menatap ke langit.


Tiba-tiba saja.


Matanya merah menyala.


Rambutnya tegak berdiri, hitam berkilau.


Garis-garis biru bermunculan di sekujur tubuhnya sangat terang. Saking terangnya, garis-garis biru itu membentuk menjadi cahaya yang bergerak kebelakang tubuhnya.


Cahaya itu berubah menjadi gumpalan sayap.


Dalam beberapa saat. Libra memiliki dua sayap yang lebar di belakang tubuhnya.


Segera dia melesat terbang ke angkasa. ' Tunggulah sebentar aku, ibu.' Gumamnya. Melayang cepat menuju ke arah ibunya.


Arumi dan yang lain masih tercengang menatap kagum ke angkasa, ketika Leo berteriak mengejutkan mereka.


"Ayo kita pergi." Kata Leo berlari ke arah mobilnya. Mereka semua kembali tersadar, lalu ikut berlari mengejar Leo menuju ke arah mobil.


Semua orang sudah masuk dalam mobilnya. ' Aku harus cepat sampai di rumah. ' gumam Leo. Leo mengendarai mobilnya lebih cepat dari biasanya, bahkan lebih cepat dari semestinya.


Sedangkan Salsa.


Wajahnya terlihat kusam dan cemas, hatinya berdebar. ' Apakah ayah yang menyerang mereka?.' Diam-diam


dia mengirim pesan pada ayahnya, sambil tetap fokus mengemudi mobil mengikuti Leo, di depan.

__ADS_1


Tidak menunggu lama, ayahnya telah membalas pesan darinya. Jantungnya berlari sedikit kencang, ingin mengetahui jawaban pesan darinya.


Buru-buru dia melihat Hp, untuk mengetahui jawabannya.


" Tidak."


Seketika wajah Salsa, kembali cerah.


' Syukurlah.' gumamnya. Dia menghela napas lega, mengetahui bukan ayahnya yang menyerang keluarga Libra.


Sementara di sana. Di ibukota. 'Siapa yang menyerang kelompok itu?.'


Pikiran Arendra Wijaya, masih berputar


sekeliling kota M.


Dia sama sekali tidak tau menau tentang penyerangan pada keluarga Daris Pratama.


# # #


Di tempat lain.


"Dor."


"Dor."


"Dor."


"Dor."


Leony, melesat dan bersarang di dalam kepala keempat orang yang memegang tangan dan kaki Naira yang meronta.


Dia merasa iba melihatnya, dan kesal kepada empat lelaki itu. Naira langsung membenahi pakaiannya


dan duduk di atas meja di tengah banyaknya manusia dalam ruangan itu. Sesekali masih terdengar suara isak tangisnya.


Orang-orang di sekitarnya tercengang, apalagi Platinum. Dia sangat marah dengan Leony.


"Dor."


"Dor."


Dengan cepat dia menembak tangan dan kakinya, menyebabkan pistol terlempar dari tangan Leony, dan dia jatuh terduduk ke lantai.


"Bodoh. Apa yang kau lakukan?." maki Platinum.


"Maaf Tuan. Tapi kalian sudah keterlaluan." Balas Leony, yang sudah terduduk di lantai dan darah mulai mengalir dari luka membasahi pakaiannya.


" Hehe, sejak kapan aku harus mendengar pendapat mu?." Platinum menyeringai. Dia terlihat sangat marah lalu mengangkat senjatanya kearah Leony.


"Dor."


"Dor."


Gentu berhenti dan berbalik, saat mendengar letusan peluru yang pertama. Dia langsung mengangkat senjatanya dan menembak kearah, Platinum. Saat melihat Platinum mengangkat senjata kearah teman dekatnya, Leony.

__ADS_1


Platinum terdorong kebelakang akibat tembakan itu, walaupun pelurunya tidak dapat menembus baju anti peluru yang di pakaiannya.


Dalam sekejap, suasana di dalam ruangan itu menjadi kacau. Saling tembak menembak, terjadi antar mereka sendiri. Gentu melawan puluhan orang, tapi Leony berusaha membantu dengan tubuh yang sudah terluka. Walaupun pada akhirnya, Platinum lah yang jadi pemenangnya.


Tirex, menampar wajah Gentu, dengan keras. Lalu menyeret tubuhnya dengan paksa kehadapan Platinum, dia mendapat tiga luka tembakan yang menyebabkan darah hampir membasahi seluruh pakaiannya.


Sedangkan Platinum, tersenyum puas melihatnya.


"Seret gadis itu kemari." Bentak Platinum pada anak buahnya menunjuk


Leony.


"Baik, Tuan." Segera dua orang anak buahnya menarik paksa rambut Leony


kearah Platinum.


Naira yang masih duduk di atas meja menahan getir, ketika melihat keadaan dua gadis itu yang mengenaskan. Tapi


apalah dayanya, dia sendiri tidak tau nasibnya akan bagaimana.


Platinum menatap nanar kedua gadis itu, sesaat kemudian dia tersenyum mengejek kearah mereka.


"Ambil dua meja lagi, letakkan di sampingnya." Teriak Platinum pada anak buahnya, sambil menunjuk meja Naira.


"Dek."


Jantung Naira berdetak, dia tau mereka akan mengulangnya lagi. Pelan-pelan dia ingin turun dari atas meja, tapi baru saja ingin melakukannya. Platinum, sudah menahan tubuhnya.


"Hahaha... . Kau ingin turun ya?, sabar.


Kami belum menggilir mu sampai mati." Kata Platinum, buas menatap Naira Yang ketakutan.


Bersamaan dengan itu dua meja telah di letakkan di sebelah meja Naira.


"Naikkan mereka keatas." menunjuk Gentu dan Leony.


Anak buah Platinum mencengkram tubuh Gentu dan Leony, lalu membantingnya di atas meja. Mereka berdua memberontak, tapi tenaga mereka kalah kuat dengan kondisi tubuh yang sudah terluka.


"Hahaha... ."


Mereka semua tertawa girang, sekarang ada tiga orang wanita cantik yang tubuhnya akan di nikmati. Masing-masing ketiga tubuh wanita itu di pegang erat, kaki dan tangannya.


Mereka berontak, dan meronta.


"Tolong... . Jangan lakukan."


# # #


Dari ketinggian, Libra menatap kebawah. Matanya yang merah menyala menembus awan, melihat dengan jelas. Bahkan dia mampu melihat apa yang terjadi pada ibunya.


Dia terbang melesat menukik kebawah.


Dari telapak tangan kanannya, keluar pedang berselimut api. Kali ini, api itu berwarna hitam.


Hitam seperti hatinya yang di puncak kemarahan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2