
Setelah malam datang. Libra bersiap untuk pergi jalan ke kota, sesuai dengan rencana mereka. Saat dia berjalan keluar, dia melihat Naira yang sedang duduk berkumpul dengan keluarga. Di situ ada Daris pratama, Arya, dan juga yang lainnya.
"Apa kalian jadi pergi?." sapa Naira yang sudah mengetahui rencana mereka.
"Ia, Bu ... kami akan jalan-jalan ke kota."
balas Libra, sambil melirik Zalia. "Zalia udah gak tahan kelamaan tinggal dalam hutan, katanya cuma bisa dengar suara monyet sama
burung." sambungnya.
"Woi... jangan jual, namaku ya?. Aku gak ada bilang gitu." sanggah Zalia.
"HaHaHa." Libra tertawa lepas. Dia sengaja ngerjain Zalia.
"Hehe ... ." Sedangkan yang lain tertawa kekeh melihatnya. Mereka senang melihat ke akuran, Libra dan Zalia.
"Libra, marilah." kata Daris pratama seraya mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya, kemudian memberikannya pada Libra. "Ambilah, ini milikmu." lanjutnya.
Dahi Libra berkerut, menerima sebuah kartu berwarna kuning keemasan yang di berikan Daris pratama. Dia heran, lalu bertanya ; " Apa ini Kek?."
"Kartu itu bernama diamond card. Bisa di gunakan di banyak perusahaan, dan sudah di terima di seratus enam puluh dua negara. Penggunaannya tidak di batasi, jumlah penarikan atau debit ketika berbelanja. Kartu itu juga, bisa di gunakan sebagai alat pembayaran di jutaan merchant, dan penarikan tunai di ATM di seratus lima puluh negara di seluruh dunia." jelas Daris.
Libra tercengang, mendengarnya. Dia tidak pernah bermimpi, memiliki uang sebanyak itu. "Terimakasih Kek." tukas Libra. Dia nampak senang, kemudian memasukkan kartu itu dalam sakunya.
"Wah ... kalau gitu nanti kau, yang akan bayar semuanya." celetuk Zalia. "Ayo... kita berangkat." lanjutnya.
"Baiklah, panggil mereka. Aku menunggu di depan." kata Libra.
"Hati-hati" kata Naira.
"Ia, Bu... ." balas Libra. Sambil berjalan keluar.
"Aku tidak menyangka, akhirnya dia kembali dalam keluarga ini ... . Aku sangat berterima kasih pada almarhum kak Jamilah, dia telah membesarkan anakku dengan baik. ungkap Naira.
" Semua itu salahku ... maaf kan aku." seru Arya menoleh Naira. Dia terlihat sedih mengenang yang pernah dilakukannya pada Libra.
"Sudahlah, jangan di ingat lagi. Semuanya sudah berlalu, sekarang dia telah kembali." kata Daris pratama.
Di luar, sambil menunggu yang lain. Libra sedang berbincang dengan Hiro, Yakuza, Dani dan Bima.
"Apa kalian tidak ingin ikut bersama? tanya Libra. Tapi hanya di balas senyuman dengan mereka. Beberapa saat kemudian, Dani baru angkat bicara; "Kami ini sudah tua, jadi tidak cocok gabung dengan anak muda."
"Hehe ... ." Libra kekeh, kemudian berkata ; "Aku melihat wajah kalian belum tua, apa lagi dia." menunjuk Bima.
"Aku memang, baru dua puluh lima. Tapi kalau kita semua pergi, siapa yang akan jaga di sini?." tukas Bima.
__ADS_1
"Benar juga ... ." kata Libra. Dia menggaruk belakang kepalanya, kemudian berkata ; " Oke... malam ini kami yang pergi, besok giliran kalian, bagaimana?."
"Dil... besok giliran kami." kata Bima.
"Oya...aku ingin bertanya padamu, Hiro. Apa orang tua Karasuka sudah mengetahui keadaannya?. Aku tidak ingin mereka khawatir, dan pergi menemui Tiger Wolf, untuk mencarinya." kata Libra.
"Jangan takut, aku sudah mengabari ayahku. Mereka tidak akan pergi kesana." balas Karasuka dari belakang. Dia berjalan kearah Libra bersama Arumi, Leo dan yang lainnya. Bahkan Roger dan Mahesa, likut bersama.
Libra berbalik melihat ke arah suara, kemudian dia tertegun menatap kecantikan Karasuka. " Terimakasih, kau mau memikirkan orang tuaku." sambung Karasuka, ketika di hadapan Libra. Sedangkan Libra, masih tertegun menatapnya. "Hei... kenapa matamu." kata Karasuka, sambil menggerakkan tangannya di hadapan mata Libra.
"Oh... tidak apa." balas Libra setelah sadar, dia agak gelagapan. "Ayo kita pergi." katanya sambil berjalan.
"Hei... mobilnya di sana... kenapa kau malah berjalan masuk kedalam? seru Zalia.
" Ha?... akh... ." Libra berbalik. Kemudian berjalan cepat ke arah mobil sambil menggaruk belakang kepalanya. Sedangkan yang lain, mereka semua tertawa geli melihat polah nya. Sambil berjalan di belakangnya.
"Hehe...Dia ini... terkadang mengerikan, terkadang lucu." kata Arumi.
Kemudian mereka semua, masing-masing masuk kedalam mobil.
Libra satu mobil dengan Arumi, Zalia dan Rubi. Karasuka dengan Nania, Nadia, dan Nadira. Sedangkan Leo, dia bersama Seno, Roger dan Mahesa. Dan Jeri bersama dua sepupunya, Gara dan Roni.
Tak lama setelah itu, empat mobil sport berwarna biru, merah, hitam dan putih melaju dengan kecepatan tinggi dari dalam hutan, menuju pusat kota M. Libra berada di posisi depan saat itu, sebelum mobil berwarna merah yang di kemudikan Karasuka menyalip dan meninggalkannya jauh di belakang.
"Wu_______um... ."
"Ayo ke__."
"Wu_______um... ."
"Wu_______um... ."
Belum selesai Zalia bicara, Leo dan Jeri telah menyalib mereka.
"Ha?... ayo kejar." seru Zalia menatap mobil Leo dan Jeri yang jauh di depan.
"Baiklah, walaupun aku belum genap satu bulan pandai mengemudikan mobil, bukan berarti aku tidak berani main bar-bar." Setelah itu Libra mulai berkonsentrasi, kemudian menekan kandas pedal gas mobilnya.
"Wu__________________um... ."
Tidak peduli jalan ramai, tikungan atau apapun. Dia tetap menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Wush... ."
"Wush... ."
__ADS_1
Dia kembali menyalib Leo dan Jeri, dan sekarang Karasuka tidak begitu jauh di depannya.
"Gila ... bertahun aku main balap liar, gak pernah bar-bar seperti dia." Seru Jeri sambil menatap mobil Libra yang sudah melewatinya. Sedang dia sendiri berada di depan Leo.
"Itu karena dia, lebih nekat darimu." kata Gara.
"Hehe... pasti." balas Jeri kekeh.
Sementara mobil yang di kemudikan Karasuka terus melaju dengan kencang, dia tidak memberikan kesempatan pada Libra untuk menyalipnya.
"Wu_________um... ."
"Tin ti_______in... ."
"Wush."
"Wush."
Karasuka terus menyalip mobil-Mobil yang ada di depannya, begitu juga dengan Libra.
"Hentika____n ... kita bisa mati." kata Nadia yang ketakutan. begitu juga dengan Nadira dan Nania.
"Hehehe ... aku yakin. Zalia, Arumi dan Rubi juga ketakutan seperti kalian dalam mobil Libra.
Benar saja apa yang dikatakannya , tak berapa lama setelah itu, mobil Libra mulai agak melambat.
" Kalian bisa lihat, mobil yang di kemudian Libra sudah mulai agak melambat. " tukas Karasuka. Sambil menatap kaca spion kearah belakang.
Sedangkan di mobil Libra, Arumi dan Rubi sangat ketakutan. Begitu juga dengan Zalia, Sampai-sampai dia mencekik leher Libra, agar mau memelankan kecepatan mobilnya.
"Uhuk Uhuk." Libra terbatuk karena cekikan Zalia.
"Makanya, dengarkan aku, kalau tidak aku akan terus mencekik mu." seru Zalia.
"Bukannya tadi kau yang menyuruhku
untuk mengejarnya." balas Libra.
.
"Ia itu tadi. sekarang tidak lagi. Apa kau tidak melihat banyak orang, kita bisa mati tertabrak atau menabrak.
Lagi pula klub sudah dekat dari sini.
"Baik, baiklah" lepaskan tanganmu dari leherku." kata Libra.
__ADS_1
Bersambung.