Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Pantai


__ADS_3

Di saat pak Rahman berteriak memanggil nama anaknya. Di tepi laut terlihat sepuluh orang gadis jelita sedang berlarian suka cita, dengan pakaian mereka yang sudah basah. Sepuluh gadis itu nampak serasi dengan tubuh yang sama tinggi dan rupa yang sama cantik, berkejaran, saling melempar. Tertawa cekikikan semaunya seakan lupa kalau yang hidup di dunia ini bukan hanya cuma mereka.


Sementara itu di dalam rumah, pak Rahman mulai mengangkat tumbuhnya untuk berdiri. Dengan menggunakan baju koko dan sarung kotak-kotak yang melekat di tubuhnya, tubuh tua itu berjalan terseok kearah dapur untuk melihat anak-anak gadis yang tadinya akan membuat minuman. Setelah sampai di depan pintu yang memisahkan antara dapur dan ruangan lainnya perlahan tangannya menggeser tirai lalu menjulurkan kepalanya kedalam, tapi alangkah terkejutnya dia melihat tidak ada satupun orang yang ada di sana.


"Kemana mereka?."


Pak Rahman kembali melangkahkan kakinya untuk lebih dalam masuk kedalam dapur, matanya menelisik keseluruh ruangan. Hingga terpusat pada nampan yang sudah tersusun gelas terisi kopi dan teh, yang sudah tercampur oleh gula. Hanya saja belum ada air di dalamnya. Kemudian dia mendekati panci di atas kompor lalu melihat air yang terlihat masih panas di dalamnya. Matanya teralihkan oleh cahaya terang dari luar, di situ dia baru sadar kalau pintu dapur sedang terbuka. Pak Rahman berjalan kearahnya, kemudian berdiri tepat di tengah pintu menatap jauh kehadapan.


"Patutlah tidak ada. Pasti anak-anak ini pergi kesana. Hugh, dasar anak-anak. Bukannya di selesaikan dulu buat minumnya." gerutu pak Rahman.


Kemudian pak Rahman berbalik mengayunkan langkahnya kearah dispenser. Tangannya bergerak cepat meraih gelas yang terletak di sebelah, lalu menuang air ke gelas dan langsung meminumnya.


"Ah, segernya." cicit pak Rahman. "Sudah di tunggu-tunggu sampai tenggorokan kering. Eh, malah sudah pergi kepantai." sambungnya teringat Arin dan gadis-gadis lainnya.


Setelah itu dia kembali mengayunkan langkahnya kearah kulkas, membuka dan menarik dua krat air mineral dari dalamnya. Kemudian membawanya keruang tamu.


"Maaf ya Pak. Anak-anak. Kita minum ini saja. Anak-anak gadisnya sudah pada pergi kepantai." cicit pak Rahman seraya meletakkan dua krat air mineral di atas tikar.


"Ha!?. Pantas saja dari tadi tidak kedengaran suara mereka di dapur. Rupanya mereka sudah pergi kesana. Dasar, mereka. Bukannya di buatkan dulu air minumnya." gerutu Libra seraya meraih botol air mineral di depannya, kemudian membagikan pada yang lain.


"Memangnya pantainya tidak jauh Lib?." tanya Rubi.


"Tidak. Mungkin kurang lebih sekitar seratus meter dari belakang rumah Paman." balas Libra.


"Kalau gitu aku juga mau pergi kesana Lib. Tidak apa-apa kan?." ucap Rubi.


"Ya tidak. Memangnya kenapa? tidak ada yang ngelarang. Laut pun yang buat Tuhan." balas Libra.


"Paman. Saya pergi kepantai dulu ya?."


"Ya sudah, pergi sana!. Tapi hati-hati. Jangan sampai terseret ombak lalu tenggelam seperti dia." balas pak Rahman seraya menoleh Libra. Sementara orang yang di bicarakan hanya menanggapi dengan senyuman. Begitu juga dengan Argi yang duduk tidak jauh di hadapannya.


Setelah Dua hari Libra sadar dan bertemu kembali dengan teman-temannya yang sudah lama terpisah. Dia juga bertemu dengan Argi. Seorang yang sama kuatnya dan menjadi rival dalam hal bertarung. Namun sejak dua hari ini setelah mereka bertemu kembali. Tidak ada dendam yang tersimpan dalam hati mereka. Bahkan dalam kurun waktu dua hari itu. Libra dan Argi sudah menjadi teman yang akrab, dan merekapun akhirnya mengikat tali persahabatan.


"Tungu, Rub. Aku ikut." ucap Seno beranjak berdiri.


"Apa pantai nya indah, Paman?." tanya Leo.

__ADS_1


"Ya indah, si?. Kalau kau mau tau, lihat saja sendiri." balas pak Rahman.


Leo celingukan, tapi akhirnya dia mengangkat tubuhnya berdiri mengikuti Rubi dan Seno. Sementara Gara Roni Jeri Roger dan Mahesa yang juga penasaran ikut berdiri di belakang Leo.


"Paman. Kami juga ikut pergi kepantai." pamit Mahesa pada pak Rahman.


"Ya sudah, pergi sana." ucap pak Rahman pada Mahesa.


"Apa kalian tidak ingin ikut dengan mereka kepantai?." ucap pak Harun menatap Libra dan Argi.


"Tidak, Paman. Saya akan kembali lebih dulu ke Hotel." balas Argi.


"Loh. Bukannya adikmu masih di sini, kenapa mau pulang duluan?.


" Tidak apa-apa Paman. Ada dia di sini yang menjaganya, jadi aku tidak begitu risau." balas Argi seraya melirik Libra.


"Oh, ya sudah kalo gitu. Hati-hati nanti di jalan.


"Ya, paman. Terima kasih atas sambutannya." tukas Argi seraya beranjak berdiri.


"Terserah kalian. Kalau kalian mau ikut pulang, ya silakan." balas Argi.


"Kalau begitu kami pulang saja, Tuan."


"Lalu bagaimana dengan kalian?. Apa kalian mau tetap menunggu di sini atau ikut dengan kami pulang ke hotel?." ucap Argi menatap Hiro dan Yakuza. Mereka tidak langsung menjawab. Melainkan saling memandang. Setelah sekian detik mereka berpikir, barulah mereka bisa memutuskan untuk ikut dengan Argi pulang ke hotel.


"Baiklah. Kami rasa, kami ikut pulang saja dengan kalian. Bisakah kami menumpang denganmu?." ucap Hiro menatap Argi.


"Ayo." ucap Argi.


"Lib, jagakan adikku. Jangan sampai dia terluka." ucapnya melirik Libra seraya bergegas pergi.


"Aku tau alasan, kenapa kau ingin sekali cepat pulang." cicit Libra.


"Apa?." tukas Argi menghentikan langkahnya.


"Anak pemilik hotel itu!." balas Libra seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kau, salah." ucap Argi mengelak. Dia terlihat gugup dan wajahnya berubah merah. Dengan cepat dia kembali menguasai perasaannya agar tidak ketauan. Kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil. Lalu pergi dengan cepat meninggalkan rumah pak Rahman bersama Hiro dan Yakuza.


'Sial. Bagaimana dia bisa tau.' batin Argi.


"Hiu. Apa di negara X, kau juga orang kaya seperti mereka?." Ucap pak Rahman pada Libra setelah di rumah itu hanya tinggal mereka berdua. Libra tidak menjawab. Dia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan pak Rahman.


"Baiklah, paman. Paman aku tinggal pergi dulu ya?. Aku mau kepantai melihat mereka." ucap Libra seraya mengangkat tubuhnya berdiri.


"Ya sudah, pergi sana." balas pak Rahman.


Libra mulai melangkahkan kakinya melewati dapur untuk menuju pantai, tapi seketika langkahnya berhenti melihat nampan di atas meja.


"Lah... . Berarti tadi mereka sudah mau buat kopi dan tehnya... . Tapi di tinggal begitu saja, setelah melihat pantai. Dasar payah." omel Libra.


Kemudian dia kembali melangkahkan kakinya keluar dari pintu belakang rumah pak Rahman. Kakinya yang panjang melangkah lebar tanpa menggunakan alas kaki menapak di pasir putih yang menuju ke pantai.


_________________________


Sementara itu di tempat lain. Argi mengurangi laju kecepatan mobilnya kemudian berhenti di pinggir jalan. Dia melepaskan seatbelt di tubuhnya lalu keluar dari dalam mobil di ikuti Hiro dan Yakuza. Begitupun dengan mobil rombongan Rolex yang tadinya mengikuti di belakang. Mereka keluar dari dalam mobilnya.


"Ada apa Tuan Muda." tanya Rolex mendekat.


"Tidak ada apa-apa. Aku ada urusan sebentar, kalian pulanglah lebih dulu ke hotel." balas Argi.


"Tapi Tuan. Tuan muda mau ke mana?."


"Sudahlah, jangan banyak tanya. Kalian pulang saja dulu, atau jalan-jalan terserah kalian mau kemana." ucap Argi malas sementara Rolex dan yang lain bengong melihatnya."


"Tunggu apalagi. Cepat pergi sana."


ucap Argi yang perlahan tubuhnya mulai tenggelam kedalam tanah. Sedangkan Hiro dan Yakuza masih berdiri terpaku menatap kagum kemampuan Argi yang belum pernah di lihat nya.


"Tuan muda mau kemana?." tanya Comodor pada Rolex.


"Mana aku tau... . Dia pun tidak bilang."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2