
Anisa masih berdiri di dekat pintu, yang masih tertutup dalam ruangan itu. Dia terlihat ketakutan.
Sementara itu. Orang-orang di luar mulai berkumpul, ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam.
Walau Anisa melihat Himawari dan Hinata dapat melawan setiap musuh yang datang menyerang, dia tetap saja gelisah dan gemetaran.
Diam-diam dia menghubungi ayahnya. Agar segera datang, membawa beberapa orang lagi untuk menanggulangi kekacauan yang terjadi di hotel itu.
Tirex yang sedari tadi memerhatikan gerakan Himawari dan Hinata yang bisa dengan mudah mengalahkan anak buahnya, mulai beranjak berdiri dari tempat duduknya. 'Rupanya dua wanita ini lumayan kuat, aku harus turun tangan sendiri untuk memberi pelajaran pada mereka.' gumam Tirex.
Dia berjalan santai dengan tatapan mata yang tajam ke arah Himawari dan Hinata, seakan memberi tau pada mereka. Kalau dia sama sekali tidak menganggap, dan bahkan memandang rendah kemampuan mereka berdua.
Himawari yang mengetahui Tirex mendekat, tidak menyia-nyia kan kesempatan itu untuk melayangkan serangan kepada Tirex. Tubuhnya berputar seiring mengangkat kaki kanan, ke wajah Tirex. Namun kekuatan tendangan kakinya, sama sekali tidak berpengaruh pada tubuh Tirex.
Tirex yang memiliki postur tubuh tinggi dan besar, hanya sedikit bergeser terkena tendangan itu. Kemudian dia menatap tajam, seraya tersenyum mengejek Himawari.
"Hehe, apa cuma segitu saja kekuatan mu... . Lebih baik kau pergi saja ke klub, untuk jadi penari." ucap Tirex sinis.
"Binatang... . Jaga ucapan mu." balas Himawari.
"Wush."
"Wush."
"Bagh."
"Bugh."
Bersama Hinata, Himawari menyerang ke titik-titik vital tubuh Tirex. Sedang kan para security, terus bertarung dengan anak buahnya.Tirex memang kuat, tapi tetap saja dia sedikit kewalahan menghadapi dua wanita tangguh sekali gus.
"Rasakan ini."
"Bam."
Tendangan kaki kiri Hinata, mengenai tepat di dada Tirex. Tenaganya lumayan kuat hingga membuat Tirex terlempar kebelakang, membentur lemari sebelum terhempas ke lantai. Namun cepat dia bangkit kembali.
"Lumayan." Ucap Tirex sembari mengusap debu di sudut pakaiannya. "Sekarang giliran ku." lanjutnya. Tatapan matanya mulai serius, otot-ototnya mulai mengencang seiring jari yang mengepal.
Pada saat itu Himawari dan Hinata kembali akan menyerang Tirex bersama, tapi belum saja mereka sempat melakukan gerakan. Tirex lebih dulu menyerang mereka menggunakan tinjunya. Gerakannya sangat cepat dan akurat, hingga tak terbaca mata Himawari dan Hinata.
"Bugh."
__ADS_1
"Bugh."
"Duar."
Himawari dan Hinata mendapat pukulan keras di dadanya, mereka berdua terpental keluar menembus dinding kaca ruangan itu.
"Akh."
"Uhuk."
"Uhuk."
Himawari dan Hinata meringis menahan sakit di dadanya, mereka berusaha bangkit walaupun terbatuk darah untuk membalas serangan Tirex yang cukup bertenaga.
Tapi sayangnya, belum saja sempat mereka untuk berdiri tegak. Tirex sudah lebih dulu meluru kearah mereka memberikan kan tendangan yang cukup keras ke dadanya lagi. Tendangan keras itu menyebabkan Himawari dan Hinata, kembali terhempas ke lantai.
"Bum."
"Hehe... .Kalian hanyalah wanita-wanita lemah, tidak seharusnya menjadi lawan ku." seringai Tirex.
"Uhuk."
"Uhuk."
Tirex sangat puas dengan kemampuan yang di milikinya. Apalagi setelah melihat dua wanita itu, sudah tidak berdaya. Anak buah Tirex dan Gasio yang masih ada di dalam juga merasa senang. Mereka kagum dengan kehebatan Tirex, seiring berjalan keluar ruangan. Sementara itu, Anisa dan manajer Mardi bersama orangnya terlihat cemas.
"Tak."
"Tak.'
"Tak."
Dengan langkah pasti dan santai dia mendekat, kemudian menunduk lalu menjambak rambut Himawari dengan tangan kiri.
"Akh." Himawari meringis.
"Hehe... . Sudah aku katakan. Kau lebih pantas jadi penari." gumam Tirex di telinga Himawari.
"Hentikan. Jangan lakukan itu." Seru Anisa yang merasa iba melihat Tirex, menyiksa Himawari. Dia ingin sekali mendekat, tapi kakinya sulit sekali untuk di gerak kan.
Tirex menoleh sebentar, tatapannya begitu dingin dan sinis melihat Anisa. Kemudian, dalam sekejap wajahnya berubah begitu ganas. Tangan kiri semakin erat mencengkram rambut Himawari yang merasa kesakitan, sementara tangan kanan di angkat ke atas mengepal erat bersiap meninju kepala Himawari hingga remuk. Tapi pada saat yang sama, dia di kejutkan oleh bayangan yang datang cepat meluru kearahnya. Tirex tidak sempat menghindar, dia hanya bisa menghadang gerakan bayangan itu. Tapi sayangnya bayangan itu jauh lebih cepat dan kuat meninju dadanya.
__ADS_1
"Bum."
Tubuh Tirex terpental, kembali masuk kedalam setelah membentur pintu hingga hancur ruangan manajer. Sementara Anisa dan orang-orangnya yang masih ada di dalam terkejut mendengar benturan itu.
"Akh, sial." Gumam Tirex berusaha bangkit, sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Matanya melirik, namun mendadak dia terkejut setelah melihat sosok yang tengah berdiri di luar. Keningnya berkerut, mengingat sesuatu. 'Aku seperti mengenal sosok-sosok itu... . Ya, benar sekali, mereka orang-orang yang bertarung denganku satu tahun yang lalu. Gawat, sepertinya keadaan akan menjadi sulit, apa lagi aku hanya sendiri.' batinnya.
Segera Tirex merogoh benda di balik pakaian, kemudian menusukkan enam jarum suntik sekaligus ke jantungnya.
"Jleb."
"Krr_____r_____rak."
Kuku yang tajam dan runcing keluar dari jari-jari Tirex. Tubuhnya mendadak membesar, seiring pakaiannya yang koyak rabak. Otot-otot nya menyembul keluar, di ikuti ekor yang mulai muncul di belakang. Dia telah berubah menjadi monster, menyebabkan orang yang melihatnya jadi takut dan ngeri. Terutama mereka yang ada dalam ruangan itu.
Tirex terpaksa melakukan itu, dia tau lawannya bukan orang-orang biasa. Apa lagi setelah melihat pemuda yang memiliki aura luar biasa, berdiri paling depan di antara sosok-sosok yang di kenalnya itu. Dia tau, pemuda itulah yang tadi menyerangnya. Dia adalah Argi Gait Zaganda. Anak muda yang sekarang jadi pemimpin utama kelompok mafia Tiger Wolf, di negara X.
Tanpa mengulur waktu. Tirex langsung melesat menusuk kuku-kuku panjang di jarinya, ke tubuh Argi yang tidak menghindar.
"Tuing___ng."
"Hehe, kuku mu masih kurang tajam untuk menggores kulitku." sarkas Argi.
Tirex terperanjat mengetahui kukunya tidak mampu menembus tubuh Argi, yang secara tiba-tiba di selimuti cahaya berwarna merah. 'Anak muda ini sangat kuat. Aku akan mati konyol di sini jika berusaha melawan. Aku harus mencari cara untuk lepas dari mereka.' monolog Tirex.
Dengan gerak yang cepat, dia berbalik. Masuk kedalam ruangan manajer, lalu mencengkram leher Anisa yang berdiri di dekat pintu.
"Kalau begitu aku akan membunuhnya saja." seru Tirex.
"Jangan... . Jangan bunuh dia." seru Mardi panik.
Darah mulai mengalir, di leher Anisa. Kulitnya yang halus tergores dalam, oleh kuku-kuku yang tajam di jari Tirex.
"Akh..."
Anisa meringis kesakitan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Semakin dia bergerak, maka semakin dalam kuku-kuku itu masuk kedalam lehernya. Dia hanya mampu menahan rasa sakit itu seraya memejamkan matanya. Wajahnya yang putih mulus, berubah merah. Tubuhnya mendingin menggigil ketakutan seraya pasrah oleh keadaan yang menimpanya.
Pada saat itu Rolex bersiap untuk melakukan tindakan terhadap Tirex, begitu juga temannya yang lain.
"Jangan... . Jika kalian melakukannya, gadis itu akan segera mati." ucap Argi.
"Biarkan saja dulu, aku sedang mencari celah untuk menyelamatkan nyawanya." lanjutnya.
__ADS_1
Bersambung