
Sepuluh pengawal itu membiarkan saja gadis itu pergi meninggalkan mereka, mereka sudah tau kalau gadis itu bukanlah gadis biasa yang lemah. Dia kuat dan pintar, bahkan dia lebih hebat dari sepuluh laki-laki yang kuat dan tangguh. Lagi pula mereka tetap di sini untuk tetap mengawasinya.
# # #
"Bagaimana, bolehkah aku bergabung dengan kalian?, aku tidak ada teman, aku hanya datang sendiri kesini." kata gadis itu. Namun tidak ada satupun di antara mereka yang menjawab, mereka semua menatap gadis itu sambil berspekulasi di dalam hati masing-masing. Begitu juga dengan Libra, dia merasa heran dengan seorang gadis yang berani datang sendiri menghampiri sekumpulan anak muda. Namun sesaat kemudian setelah berpikir, Libra angkat
bicara ; " Baiklah ... kau carilah kursi dan bergabunglah dengan
kami." kata Libra sambil sedikit senyum pada gadis itu. "Terima kasih." ucap gadis itu senang.
"Hanya seorang gadis, kenapa aku harus berpikir banyak tentangnya. Seandainya dia bisa berubah jadi seribu, aku juga tidak peduli. Hidupku dalam genggamanku."
Saat Libra sedang bergumam dalam hatinya, gadis itu menarik kursi dari meja sebelah, dan meletakkan di sisi kanannya. Dahi Libra sedikit berkerut.
' kenapa dia memilih duduk di sebelah ku ?. ' Tapi seperti apa katanya. Hidupnya dalam genggamannya. Jadi dia tidak takut, dengan apapun.
"Boleh aku duduk di sebelah mu?." tanya gadis itu. "silahkan." balas Libra sambil sedikit bergeser kearah Karasuka. Sekarang dia di apit dua orang gadis cantik, yang membuatnya sedikit sungkan untuk berbuat bagaimana.
"Terimakasih." kata gadis itu seraya tersenyum setelah dua kali mengucapkannya. Dia duduk di sebelah Libra, kemudian dia kembali mengatakan ; "Kenalkan ... namaku Salsabila nastiti, panggil saja Salsa." katanya tersenyum manis, sambil mengulurkan tangannya kearah Libra. Walau sedikit sungkan, Libra tetap menyambut tangan gadis itu sambil berkata. "Aku Libra." katanya. Sambil bergumam dalam hatinya.
' Tangan gadis ini lembut sekali. ' Berbeda pula dengan Salsa, dia malah terkejut dan bergumam dalam hatinya
" Rupanya dia yang bernama Libra... .
Jauh-jauh aku datang ke kota ini khusus untuk mencarinya. Tidak di sangka, sekarang dia malah di depanku. "
__ADS_1
Sebelumnya. Salsa sudah pernah mendengar nama itu dari ayah dan ibunya, saat mereka mengirim anak buah untuk menyelidiki Karasuka dan Lazio yang hilang di kota M.
" Tidak di sangka mereka sekarang telah bergabung dengan pemuda ini. Seperti apa hebatnya dia, hingga mereka bisa takluk dengannya. Ini sungguh menarik... aku akan terus mencari tau tentang anak muda ini."
"Sebenarnya kami sedang bertaruh minum, apa kau mau ikutan?. Setiap orang meminum dengan minuman standarnya masing-masing, tidak perlu harus minum yang sama." kata Libra sambil tertawa tulus pada Salsa.
"Boleh, aku akan ikut." balas Salsa. Sambil tersenyum manis menatap Libra.
"Baiklah kalau begitu ... Tapi kau harus tau. Di sini perjanjiannya, siapa yang mabuk dia yang akan bayar semuanya. Tapi aku pikir, untukmu ada pengecualian. Karena kau datang sendiri, jadi kau tidak perlu minum banyak agar tidak mabuk. Di ta__ ."
"Woi ... boleh begitu ya?." sanggah Zalia sebelum Libra menyelesaikan kata-katanya.
"Dia datang sendiri...nanti kalau dia mabuk pulangnya gimana?." kata Libra menoleh Zalia.
"Tidak apa, aku akan memilih minuman standar ku saja. Aku tidak akan mabuk." kata Salsa membela diri.
"Terimakasih." balas Salsa tersenyum, kearah Karasuka yang sedang tersenyum padanya.
"Baiklah ... sekarang kita akan mulai. Rubi, kau panggil pelayanan agar masing-masing bisa memesan." seru Leo.
Tidak begitu lama, akhirnya botol minuman telah berjejer di atas meja. "Ingatnya?, siapa yang mabuk dia yang bayar semuanya." kata Libra mengingatkan sambil tertawa kekeh.
"Aku melihatmu seperti sangat yakin, kalau kau tidak akan mabuk." seru Karasuka. "Tentu saja yakin, minuman beralkohol ini tidak akan berpengaruh padaku. Lihat, ada lima botol di hadapanku. Nanti aku akan menghabiskannya. Jadi kalian harus menghabiskan jumlah yang sama milik kalian sepertiku. HaHaHa... ." balas Libra sambil tertawa senang menatap Karasuka.
"Cih... sombong sekali kau, nanti kau bisa mati jika menghabiskannya." Karasuka melirik jenis minuman yang di pesan oleh Libra, jenis minuman itu memiliki kadar alkohol yang sangat tinggi. Tapi dia juga penasaran, apakah Libra benar-benar bisa menghabiskannya.
__ADS_1
"Hei ... kau jangan berlagak ya?, hanya untuk di pandang hebat. Aku tidak ingin kau keracunan atau mati karena minuman itu." seru Arumi mengingatkan Libra. Manusia umumnya hanya bisa meminum dua puluh lima mili liter untuk jenis minuman beralkohol tinggi, tapi Libra telah memesan lima botol sekaligus jenis minuman itu. Apa dia ingin mati? pikir Arumi.
Libra sendiri sangat sebal saat semua rekan menatap kearahnya. "hugh... mereka tidak percaya padaku." Gumamnya sambil mengangkat bahu. Perlahan dia membuka penutup botol itu, lalu memasukkan ujung botol kedalam mulut meminumnya begitu saja.
"Gluk"
"Gluk"
"Gluk"
"Ahh... heeg." Dia bersendawa, setelah menghabiskan satu botol minumannya seperti air mineral saja. "Aku sudah menghabiskan satu botol milikku, sekarang giliran kalian. HaHaHa... ." seru Libra tertawa.
" Bajingan... sok sekali dia. " gumam Zalia di hati sambil matanya melotot kearah Libra. Sedangkan yang lainnya juga ikut melotot, menatap kearah yang sama. "Gila dia... ." pikir mereka.
Setelah hampir dua jam, Libra sudah meminum semua isi dari botol minumannya, hanya tinggal satu gelas lagi untuk menghabiskan keseluruhannya. Sedangkan yang lainya baru menghabiskan dua atau tiga botol saja minuman mereka, itupun sudah terlihat sebagian dari mereka yang wajahnya mulai memerah.
"Gila... dia memang tidak mabuk, bahkan tiada sedikitpun perubahan pada wajahnya. Sekarang aku benar-benar yakin, kekuatan yang ada padanya mampu melindungi tubuhnya dari apapun. " gumam Karasuka.
Sedangkan ,Salsa yang ada di sebelah juga merasa heran. Dia sudah menunggu lama untuk melihat Libra mabuk agar bisa melakukan sesuatu pada kumpulan mereka. Diam-diam dia memasukkan racun kimia kedalam gelas Libra. Dia ingin sekali melihat, apakah Libra masih bisa hidup. Setelah dari tadi dia melihat tiada perubahan apapun pada wajahnya, walaupun hampir menghabiskan keseluruhan minuman beralkohol tinggi miliknya.
Salsa berencana akan membunuh semua kumpulan itu setelah Libra mati atau pingsan, karena racun yang telah dia masukkan kedalam gelasnya sangat berbahaya pada tubuh manusia. Salsa sangat senang telah berhasil memasukkan racun itu, yang sebelumnya dia buat sendiri.
Selain hebat dalam berkelahi, Salsa juga ahli dalam kimia. Dia bisa mengubahnya menjadi obat ataupun racun, yang bisa membunuh manusia dengan cepat. Sambil menunggu efek yang terjadi pada Libra, Salsa terus meminum minuman beralkohol yang telah di pesannya. Tapi setelah sekian lama menunggu, belum juga terlihat ada tanda atau perubahan pada tubuh Libra. Wajah Salsa tampak berkerut heran menoleh Libra di sebelahnya, walaupun dia sudah meminum racun itu, tapi tetap saja dia tidak apa-apa. Sedang dirinya sendiri mulai merasakan agak pusing, setelah banyak meminum minuman beralkohol yang sudah di pesannya.
"Celaka... kenapa malah aku yang mabuk?... ." gumam Salsa.
__ADS_1
Bersambung