Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Hamparan pasir


__ADS_3

Dalam ruangan tamu rumah pak Rahman yang bisa dikatakan rumah paling besar di kampung itu, mereka semua duduk bersila di atas tikar. Sementara di luar rumah. Para penduduk kampung yang kepo berjalan mondar-mandir, sesekali mengintip kedalam melalui pintu maupun jendela untuk mencari tau siapa orang kaya yang bertamu di rumah kades mereka. Ada juga di antara penduduk itu yang malah berselfie dengan gaya yang parlente, di depan mobil yang berjejer rapi.


"Mobil bugatti ni woi, mumpung gak di lihat orangnya numpang selfie dulu ah... ." 1


"Cetrek. Cetrek."


"Gantian gantian. Nah, pegangkan Hpku potokan aku ya?. Sebentar, aku mau gaya dulu." 2


"Are you ready?." 1


"Cetrek. Cetrek."


"Bagus tidak. Bagus tidak." 2


"Ya bagus lah. Tampang kayek monyetpun kalau potonya di mobil beginian pasti hasilnya bagus." 1


"Hei jangan sentuh mobilnya, kalau sampai licet mampus lo dandaninya." 3


"Cetrek. Cetrek."


Selesai dia memarahi dua pemuda yang berselfie di depan mobil, ibu-ibu kepo itu langsung berselfie di depan mobil ala-ala syahri**. Begitulah yang terjadi di luar. Sementara di dalam rumah. Pak Rahman terlihat sungkan dan bengong menghadapi tamu terhormat yang datang entah dari mana bersama Libra.


"Kenalkan Pak. Mereka ini teman-tenamanku." ucap Libra memecah keheningan.


"Oh?. Ia ia." ucap pak Rahman manggut-manggut.


"Yang itu namanya Arumi, dia kakak kandung ku. Yang di sebelahnya itu bernama Zalia, dia saudara sepupu ku. Dan yang di sebelahnya lagi itu gadis Jepang pak, namanya Karasuka. Cantik kan pak?."


"Oh, ia ia. Cantik sekali. Pantas saja wajahnya agak beda dari yang lain. Rupanya kamu datang dari Jepang ya Nak!?."


"Ia Pak." Karasuka mengangguk malu.


"Nah sekarang mereka Pak. Yang terlihat lebih tua dari kami dan memiliki muka seram, mereka itu pengawalnya dia Pak. Namanya Salsa, Salsabila Nastiti."


Rolex dan sembilan temannya menatap cemberut kearah Libra, sementara yang lainnya hanya tersenyum-senyum geli mendengar apa yang telah di katakannya.


"O... ." bibir pak Rahman sampai membentuk huruf O saking bulatnya.


"Hiu, kamu itu kalau ngomong di kondisikan. Orang cakep-cakep kamu bilang seram." ucap pak Rahman."Oh, ya maaf. Bapak sudah biasa memanggilmu dengan panggilan Hiu, kau tidak marahkan?."


"Tidak, Pak."


"Bagus lah." kemudian pak Rahman mengalihkan pandangannya.


"Kamu yang namanya Salsa ya? namamu sangat bagus Nak. Mata air Surga. Pasti orang tuamu sangat menyayangi mu." ucap pak Rahman yang langsung mendapat anggukan oleh Salsa.


"Terima kasih, Pak." balas Salsa tersenyum.


"Bukan saja orang tuanya pak, tapi semua keluarganya ikut menyayanginya. Lihat saja itu abangnya yang selalu mengikutinya kemana-mana."


"Yang mana abangnya?."


"Yang itu." pak Rahman mengikuti arah pandangan Libra.

__ADS_1


"Oh, tampan sekali. Pantas saja adiknya sangat cantik." puji pak Rahman.


"Saya Argi paman?."


"Oh, ia ia. Terus yang lainnya siapa namanya?."


"Aduh, banyak sekali jika saya kenalkan satu-satu pak. Yang penting bapak kenal wajahnya saja sudah cukup."


"Loh, kok begitu?." ucap pak Rahman seraya memegang keningnya. Tapi belum sempat dia menurunkan tangannya. Seseorang telah lebih dulu memperkenalkan namanya.


"Saya Leo, Paman. Kembaran dia." ucap Leo menunjuk Libra di ikuti tatapan pak Rahman kearahnya.


"Wah pantas saja wajahmu sangat mirip dengannya."


"Saya Seno, Paman." ucapnya sembari mengangkat tangan.


"Saya Rubi."


"Saya Gara, Paman."


"Saya Roni."


"Saya Jeri."


"Nama saya Roger, Paman. Dia Mahesa, adik saya." ucapnya seraya mengalihkan pandangan kesebelah.


"Wah, kalian ini sangat kompak. Bisa di lihat dari cara pakaiannya yang sama."


Roger dan Mahesa mendongak kebabawah menelisik pakaiannya, beberapa saat kemudian mereka terkekeh mengetahui apa yang di katakan oleh pak Rahman memang benar.


"Apa kalian tidak ingin memperkenalkan nama pada Pak Rahman?." kata Leo pada gadis-gadis yang belum memperkenalkan namanya.


"Oh iya, namaku Gentu, Paman."


"Saya Leony."


"Saya Nadia, yang ini kembaran saya Nadira."


"Saya Nania, Paman."


Dengan cepat gadis-gadis itu memperkenalkan namanya dengan gaya suara yang sengaja mereka buat-buat manja.


"Saya Arin, Kak. Anak satu-satunya ayah saya yang paling cantik. Kata Kak Hiu. Oya. Saya ini cuma adiknya Kak Hiu lo... . Jadi jangan cemburu dengan saya ya?."


Salsa dan Karasuka yang tadinya sempat menatap horor pada Arin langsung celingukan karena malu.


"Eh... . Arin. Kenapa tamunya gak di ambilkan minuman? ambilkan dulu sana." sergah pak Rahman.


"Oh, Arin lupa yah. Sebentar, biar Arin ambilkan dulu."


"Dari tadi, kek." ucap Libra.


"Ia ia ini aku mau buatin. Mau teh kopi atau manding." ucap Arin.

__ADS_1


"Apa itu manding." tanya Libra heran.


"Manis dingin Kak." balas Arin tersenyum.


"Manding ajalah... . Tapi kalau bapak--bapak yang kejam itu aku tidak tau, mungkin mereka mau minum kopi." seloroh Libra mengarahkan pandangannya kepada pengawal Salsa dan Karasuka.


Rolex Mamba Piton bahkan Hiro dan Yakuza saling berpandangan, mereka bingung dan akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Kopi.


"Saya kopi aja." ucap Rolex.


"Yang lain?."


"Samakan aja." kata Comodor.


"Ya. Samakan aja." sambung Hiro.


"Baiklah. Tungu sebentar ya?." ucap Arin bergegas kebelakang.


"Biar aku bantu." ucap Arumi ikut bergegas.


Namun pada akhirnya bukan saja Arumi, tapi semua gadis ikut bergegas kebelakang untuk membantu Arin.


"Gak usah repot-repot Kak biar Arin aja." ucap Arin yang merasa segan.


Arin merasa segan bukan karena tanpa sebab. Dia mengerti kalau gadis-gadis itu dari kalangan orang kaya. Dan dia pikir, orang kaya tidak akan mau pergi kedapur. Apalagi dapur kecil seperti di rumahnya. Rumahnya saja, mungkin lebih besar dari kamar mereka.


"Gak papa Rin, biar kita sama-sama. Gak usah sungkan begitu. Harusnya kami yang sungkan Rin, nyelonong aja masuk kedapur rumahmu."


Arin tidak membantah lagi, dia tersenyum lebar mendengar kata-kata Arumi.


Akhirnya gadis-gadis itu menyibukkan diri di dalam dapur. Ada yang menyibukkan diri dengan membersihkan gelas, memasak air. Di selinggi perbincangan antara mereka.


"Rin... . Apa lautnya dekat dari rumahmu?." Tiba-tiba Salsa teringat tentang Libra.


"Dekat, Kak. Tinggal buka pintu dapur, sudah kelihatan pantainya."


"Masa si Rin?."


"Kalau kakak tidak percaya buka saja pintu itu." ucap Arin seraya menatap pintu dapur rumahnya.


Karena penasaran dan ingin tau. Salsa langsung melangkahkan kakinya kearah pintu itu lalu membukanya dengan sebelah tangan. Kemudian terlihatlah hamparan pasir putih yang sangat indah membentang luas di hadapannya. Menghiasi lautan biru dengan deburan ombak kecil yang menghempas kepantai. Di selinggi burung-burung camar yang sesekali menukik kebawah nenangkap ikan yang menjadi mangsanya. Naik lagi ke udara terbang dan melayang lalu menukik lagi kelaut, begitu seterusnya tak lelah.


"Itu pantai?." ucap Salsa setelah sekian detik memandangi keindahan di hadapannya.


"Ya ialah. Masa gunung. Kak Salsa ini gimana sih."


Belum saja Arin selesai bicara, Salsa sudah berlari ke arah pantai. Kakinya yang jenjang menapak mantap menjejak pasir tanpa menggunakan alas kaki.


"Kak... . Kak, tunggu."


Arin mematikan kompor lalu ikut berlari mengejar Salsa. Sementara gadis-gadis yang lain menjadi bingung, mereka cepat-cepat mendekat pintu melihat keluar. Tak lama kemudian merekapun ikut berlari menuju pantai, meninggalkan dapur begitu saja tanpa menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah lama bertukar cerita di dalam rumah dengan para tamunya. Pak Rahman mulai merasakan kering pada tenggorokannya, hingga berkali-kali dia berdehem. Tapi air minum yang di tunggu-tungu tak juga kunjung datang untuk di hidangkan. Sampai pada masa dia sudah tidak tahan lagi, akhirnya diapun memangil anaknya.

__ADS_1


"Riiiin, Ariiin. Mana minumnya?."


Bersambung


__ADS_2