Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Setan gila 2


__ADS_3

Trimaran dan Atmaja mampu menangkis serangan pedang Libra dengan cahaya hijau, yang membentuk di tubuh mereka. Sedangkan Wijaya memiliki jirah besi, dan pedang untuk menangkis serangan Libra.


"Kau pikir pedang mu ini begitu hebat, sehingga berani melawan ku?." Seru Trimaran, menahan ujung pedang Libra.


Dahi Libra berkerut menatapnya, lalu menendang dada Trimaran, sangat kuat dengan menggunakan kakinya.


"Bum."


"Argh."


Trimaran terlempar jauh, seiring erangan dari mulutnya. Dia jatuh berguling di atas lantai.


"Kakiku juga kuat, apa dada mu bisa menahannya?. Hahaha... ." Sayap muncul di bahunya seiring tubuhnya melesat ke angkasa menembus kaca jendela, dia tertawa keras hingga menggema.


Suaranya yang berubah serak terdengar begitu seram dan menakutkan, kemudian dia kembali terbang menukik kebawah, bersiap dengan pedangnya kearah Trimaran.


" Pergilah ke neraka_________a."


"Sring___g."


"Bum."


"Duar."


Libra menabrak dinding, sebelum menebas Trimaran dengan pedangnya. Terjadi percikan api akibat benturan pedang miliknya dan cahaya di tubuh Trimaran yang berkumpul di tangannya, tubuh Trimaran menyeret di lantai dia terdorong kuat keluar dari dalam rumahnya.


Dengan cepat Libra melesat mengejar tubuh Trimaran yang terdorong keluar, dia mau menebas tubuh itu lagi. Namun Arendra menangkis pedangnya sebelum menyentuh tubuh Trimaran.


"Ting___ng."


"Jangan harap bisa melukai tubuh istriku." kata Arendra. Menahan pedang Libra dengan pedangnya.


"Hehe... ." Libra hanya menyeringai menatap lekat wajah Arendra dengan sorot matanya yang tajam.


Pada saat yang sama, bayangan cepat datang kearahnya dari arah samping. Atmaja meninju tubuhnya sangat keras, menyebabkan tubuhnya terbang menghancurkan tembok.


Tidak ada ekspresi kesakitan di wajah Libra karena pukulan itu, kekuatannya yang berupa garis-garis biru dengan cepat mengobati cedera di tubuhnya.


Libra bersiap kembali ketempat dimana Atmaja meninjunya, sebelum tubuhnya kembali di tinju oleh Atmaja dari arah belakang. ' Sial.' mengerang geram.


"Duar."


"Duar."


Dia kembali terlempar, namun cepat berdiri setelah tubuhnya terhempas di tembok yang kedua, debu beterbangan menghalangi pandangan tapi tidak dengan pandangannya. Matanya yang merah menyala dapat melihat dengan jelas saat Wijaya, Arendra, Trimaran dan Atmaja melesat dan berdiri di hadapannya.


"Bagus, berkumpul lah kalian, agar aku mudah membunuh kalian sekaligus." seru Libra.


Tiba-tiba kobaran api yang menyelimuti pedang Libra, berubah warnanya menjadi hitam. Seperti bayangan dia bergerak kesana kemari menyerang empat orang itu menggunakan pedangnya, sesekali dia mengunakan sayapnya untuk bergerak lebih cepat.


Dia menebas apa saja yang ada di dekatnya, bahkan dia menebas tiang-tiang rumah itu. Api hitam mulai berkobar di mana-mana dari setiap benda yang tersentuh pedangnya.


"Kalian membunuh ibuku, maka aku akan jadikan tempat ini kuburan." seru Libra menyerang dan menghancurkan rumah besar itu sambil menebas setiap orang yang ada di dalamnya.

__ADS_1


Rumah besar itu mulai runtuh. Di saat


yang sama, Arendra mulai menyadari anggapannya tentang kekuatan Libra, sudah salah.


Dia tidak menyangka pemuda itu jauh lebih kuat dari apa yang sudah di pikirkannya. ' Gila, kekuatan apa itu.' Gumam Arendra agak jauh dari Libra yang sedang meluru cepat kearahnya.


"Whush."


"Tuing___ng."


"Duar."


Arendra masih sempat menangkis serangan cepat itu dengan pedangnya, namun pedangnya patah hingga pedang milik Libra membentur jirah di tubuhnya. Diapun terpelanting kebelakang terdorong kekuatan pedang milik, Libra.


Dengan cepat Arendra berdiri kembali. Namun sesaat kemudian dia terkejut, ketika mendapati jirah besi yang di pakainya sudah retak. ' sial. Sepertinya


hari ini aku akan mati.' gumamnya di hati.


"Whush"


"Matilah kau."


"Duar."


Tiba-tiba Atmaja datang dengan cepat menghantam Kepala Libra dengan runtuhan tiang bangunan, tiang itu hancur dan Libra jatuh ke lantai. Meskipun kepalanya tidak hancur, tapi darah sudah mengalir ke wajahnya.


"hrrrrr."


Libra mengerang saking geramnya, kemudian dia bangkit menyerang Atmaja dengan sangat ganasnya.


"Ting."


"Ting."


' Sial, anak ini cepat sekali. ' gumam Atmaja.


Atmaja mulai kewalahan dengan serangan itu, perlahan dia mengumpulkan semua kekuatan dalam tubuhnya untuk melawan Libra. Cahaya


hijau yang menyelimuti tubuhnya membentuk sosok Serigala.


"Whush."


"Bum."


Dua kekuatan bertemu. Libra terpental kebelakang begitu juga dengan Atmaja.


"Uhuk."


"Uhuk."


Atmaja memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, Seiring menghilangnya cahaya hijau dari tubuhnya.


"Ayah." teriak Trimaran. Trimaran berlari melewati api, mendekati Atmaja yang sudah terlentang di lantai.

__ADS_1


"Ayah." Teriaknya lagi setelah berada di sisi Atmaja. "Bagaimana keadaanmu Yah?." Tanya Trimaran sambil mengusap darah di sudut mulut ayahnya, kemudian memangku kepala Atmaja di pahanya.


Atmaja masih terengah-engah mengatur nafasnya, dengan suaranya yang lemah dia berkata ; "Anak itu sangat kuat, berhati-hatilah dengannya.


Sayang, sekarang Argi tidak ada."


Atmaja teringat, seorang yang paling kuat di antara keluarga mereka. Dia adalah Argi gait jaganda, abang dari Salsabila Nastiti. Dia sekarang pergi ke kota M untuk menyusul adiknya.


Kalau saja ada dia, mungkin keadaan tidak akan separah ini. Argi mewarisi kekuatannya, dan besannya, Wijaya.


Dia mampu menggabungkan kedua kekuatan itu, di dalam tubuhnya.


Libra menatap puas ketika melihat Atmaja sudah tak berdaya, sekarang tinggal tiga orang lagi yang masih tersisa sebelum membunuh mereka semua. Arendra dan Trimaran mulai lemah, hanya Wijaya saja yang masih kuat di antara mereka.


'Anak ini sangat kuat, aku harus sangat berhati-hati untuk melawannya.' gumam Wijaya.


Dia berdiri di sudut yang lain, tidak jauh dari Libra dan Arendra. Secepat kilat dia dan Arendra secara bersama menyerang Libra, dari arah kiri dan kanan.


Libra yang sebelumnya telah siaga bisa menangkis serangan kedua orang itu, walaupun secara bersamaan. Walau pada akhirnya, dia tidak berhasil menghadang pedang Wijaya yang menusuk tubuhnya. Tapi sebelumnya dia sudah menebas jirah, milik Arendra hingga pecah.


Arendra terpental terbawa kekuatan pedang itu, dia jatuh tersungkur. Darah segar mengalir dari mulutnya, dan kekuatannya perlahan mulai menghilang dari tubuhnya. Sekarang dia sekarat, terbujur di samping Trimaran.


Sedangkan Libra masih berdiri


seiring pedang yang masih menusuk


di dadanya, dia menatap pias kearah Wijaya.


Lalu dengan cekatan tangan


kirinya mencengkram erat,


leher ,Wijaya. "krrrrrk." Libra meremas leher itu, membuat Wijaya melotot menahan sakitnya.


Trimaran yang melihatnya dengan cepat melakukan tindakan, sebelum Wijaya mati lemas karena kehabisan napas. Dia berlari sangat cepat mengumpulkan kekuatannya, meninju dada Libra dengan sekuat tenaganya.


"Dum."


Libra terpental seiring lepasnya pedang yang menusuk dadanya, dia menabrak puing-puing bangunan yang tersisa sebelum kembali berdiri menatap geram kearah depan.


Garis-garis biru dengan cepat mengobati lukanya, seiring dia melesat kearah Trimaran dengan pedang yang bergetar siap untuk menebas mati lawannya.


"Whush."


"Ting_________________ng." Suara dengungan dari benturan dua besi


yang sama-sama sangat


keras, menimbulkan percikan api dan cahaya yang sangat terang.


Tiba-tiba Karasuka muncul menghalangi pedang Libra yang sudah dekat ke leher Trimaran.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2