Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
One by one 2


__ADS_3

berselang waktu kemudian, tiga mobil Rolls-Royce berhenti di halaman rumah sakit. Tidak lama setelah itu pintu terbuka, dan orang-orang yang ada di dalam keluar dari mobilnya.


Karasuka, Zalia, Arumi dan semua rekannya terlihat senang dan sekaligus malu ketika melihat Salsa yang berjalan kearah mereka.


"Kalian di sini?." Sapa Salsa yang berjalan cepat kearah mereka.


Karasuka, Arumi, Zalia dan mereka semua tersenyum menggantung menyambut kedatangan Salsa, mereka masih malu padanya mengingat kejadian di hari sebelumnya.


"Salsa." Dengan cepat Arumi meluru kearahnya. "Maafkan aku Sal." ucap Arumi terisak, seraya memeluk Salsa.


" maafkan aku tidak mempercayaimu. "


Salsa tersenyum seraya membalas pelukan Arumi. "Sudahlah.Aku memaafkan mu. " balas Salsa.


"Kami juga, Salsa. Kami bersalah, karena tidak mempercayaimu. Bahkan kami bertindak kasar padamu. Sudika kau memaafkannya?. " ucap Karasuka.


Salsa menoleh, kearah Karasuka. Dia melepas pelukan Arumi seraya berjalan ke arahnya. "Aku sudah memaafkan mu. Bahkan aku sudah mengatakannya semalam, padamu."


"Bagaimana dengan kami?." tanya Leo yang berdiri tidak jauh darinya.


"Hehehe... ." Salsa tertawa menganggukkan kepala. "Ya... . Aku juga memaafkan kalian. Di mana Libra?. Aku tidak melihatnya."


Leo, Arumi, Zalia, dan mereka semua diam. Belum ada yang menjawab pertanyaan Salsa. Hingga Karasuka, angkat bicara.


"Dia sudah menitip pesan padaku, Salsa. Dia meminta maaf, padamu."


ucapnya memohon.


Salsa mengerut dahi, dia merasa heran


dengan ucapan Karasuka. Berbagai pertanyaan mulai timbul di hatinya.


"Memangnya dia kemana?." Tanya Salsa, pada Karasuka. Sedangkan Karasuka bingung untuk menjawabnya.


"Dia... . Dia."


Salsa membuka matanya lebar, seraya mengangguk kepala mengikuti irama kata Karasuka. "Dia kenapa?." tanya Salsa tidak sabar mendengar jawabnya.


"Dia sebenarnya, pergi ke pelabuhan." Jawab Karasuka.


"pelabuhan!?... . Buat apa ?. Pelabuhan mana?." tanya Salsa penasaran. Membuat Karasuka semakin bingung. "Tolong katakan yang jelas, agar aku bisa paham." ucap


Salsa.


"Sebenarnya Libra dan kakakmu bertarung di pelabuhan, aku dengar kakakmu mengatakan di utara. Mereka melakukan one by one di sana."


"Ap-apa!?. One by one?." Salsa sangat cemas. "Ayo kita pergi kesana sekarang juga. Tempat itu lumayan jauh dari sini."


"Tapi, Salsa. Apa kau tidak ingin melihat ibumu?." tanya Karasuka.


"Tentu saja ingin. Tapi ada hal mudharat, yang harus segera di selesaikan. Kita harus memisah mereka sebelum terlambat."


"Nona. Anda belum pulih. Anda tidak boleh pergi kesana." cegah Rolex.


"Baiklah. Kali ini aku terpaksa membangkang padamu, paman Rolex. Memang benar kakak memberiku ijin untuk pergi kesini, Tapi dia juga tidak bilang perlu ijin untuk pergi kepelabuhan kan?.


" Tapi nona... ."


"Paman Rolex." Salsa kesal pada Rolex.


"Hugh... ." Baiklah. Tapi Anda harus membantuku jika tuan muda marah, Nona." Rolex tau. Argi akan selalu menuruti adiknya.


"Tentu saja." balas Salsa senang. "Apa di sini ada mobil lagi?. Aku memerlukan


beberapa mobil, untuk membawa teman-temanku kesana."


"Ada, Nona. Lihat lah... . Mereka semua, orang-orang Tiger Wolf. Kita bisa menggunakan mobilnya." tunjuk Rolex pada orang-orang di areal rumah sakit.

__ADS_1


" Bagus. Ayo segera pergi." seru Salsa.


_____________________________________


Pada masa yang sama di pelabuhan.


Libra dan Argi Melakukan pertarungan sengit, yang masih seimbang. Mereka belum menggunakan kekuatan penuh untuk saat ini.


Walau sesekali Libra menggunakan sayapnya dan Argi selalu saja menghilang kedalam tanah.


Masing-masing mereka menggunakan kekuatan dan cara mereka sendiri dalam bertarung.


'Hugh, sulit sekali untuk mencederainya. Dia bisa menggunakan sayapnya untuk terbang menghindari pukulan ku.' gumam Argi.


'Sial. Dia selalu saja menghilang kedalam tanah, saat terdesak. Nampaknya sulit sekali untuk ku mencederainya.' gumam Libra.


Sinar matahari senja yang damai, terlihat begitu indah dari pelabuhan yang sudah tak terpakai. Seketika berubah mencekam, ketika Libra dan Argi, mulai menaikkan performa daya tempur mereka.


Perlahan cahaya hijau dan merah berkeliaran di tubuh Argi, yang mulai tenggelam kedalam tanah. Sedangkan Libra. Garis-garis biru mulai terbentuk di tubuhnya seiring rambut yang mulai tegak berdiri.


"Rasakan, ini... ."


"bum."


Tiba-tiba Argi muncul dari bawah tanah


di belakang Libra, meninju sangat keras dengan tangan kanannya.


Libra terpental jauh ke depan karena karena tinju itu, hampir saja tubuhnya jatuh kelaut kalau saja dia tidak dengan cepat menggunakan sayap, untuk terbang ke atas. 'sial.' gumamnya.


Libra kembali terbang ke atas pelataran


pelabuhan yang lumayan luas, dan berdiri tepat di hadapan Argi.


"Aku tidak akan mati hanya karena pukulan seperti itu." ejek Libra.


Dia membuat sarkas dengan gaya ekspresi takut di wajahnya. Lalu kembali menyerang Libra dengan cepat menggunakan tinjunya.


"Whush."


"Whush."


"Whush."


Argi dan Libra kembali saling menyerang dan menghindar, hinga pada saat... .


"Bum."


"Bum."


Mereka saling terkena pukulan yang lumayan keras.


Libra terkena pukulan di wajahnya, dan Argi terkena pukulan di lehernya. Mereka sama-sama terhuyung kebelakang. "Argh... ." Erang mereka berdua.


Tapi dengan cepat mereka kembali menyerang, seakan ingin memberi tau dialah yang paling kuat di antara mereka.


Hari sudah mulai gelap. Libra dan Argi mulai masuk ke level tertinggi kekuatan mereka.


Garis-garis biru mulai terlihat terang di tubuh Libra, bersamaan dengan matanya yang perlahan berubah warna


menjadi merah menyala. Pedang berselimut api miliknya, juga sudah muncul dari tangan kanannya.


Di sisi lain. Argi mulai memusatkan kekuatan untuk membentengi tubuhnya. Cahaya merah yang berkeliaran perlahan mulai menggumpal.


Satu persatu bagian tubuhnya


tertutupi perangkat besi. Matanya merah menyala. Ketika perangkat terakhir, menutupi kepalanya.

__ADS_1


Dan pada akhirnya seluruh tubuhnya telah sempurna. Tertutupi oleh jirah besi yang terbentuk oleh cahaya merah yang menjadi salah satu kekuatannya, di samping cahaya hijau yang masih terus berkeliaran di sekitar jirah yang di pakainya.


Jirah besi itu sepertinya sangat kuat. pedang berwarna merah juga muncul di tangan kanan beserta aura mematikan yang keluar dari dalam tubuhnya.


'Jirah itu sepertinya sangat kuat. Pedang itu juga terlihat sangat hebat. Aku harus hati-hati dengan orang ini. kekuatan yang dia miliki tidak bisa di samakan dengan yang lain. '


Secepat kilat, Libra melesat mengayunkan pedangnya kearah Argi.


"Tuing___ng."


Dengan mudah Argi menangkis serangan itu dengan pedang di tangan kanannya, Dan berbalik menyerang Libra dengan tangan kirinya.


"Rasakan ini."


"Bum."


"Argh."


Libra terbang jauh kebelakang. Dia mengerang sebelum tubuhnya membentur tembok. Tembok pembatas Pelabuhan itu hancur seketika dan Libra jatuh berguling-guling di sana. 'Sial. Tenaganya sangat kuat.' gumam Libra berdiri sambil memegangi dada kirinya.


"Baiklah aku akan menyerangnya dari atas" Sayap muncul di bahu Libra, segera dia melesat terbang ke atas, lalu turun menukik ke arah Argi.


"Sing_________ng." bersiap menebas Argi yang ada di bawah.


"Rasakan ini." seru Libra.


"Whush." suara ayunan pedang.


Sesaat sebelum pedang menyentuh jirah nya. Argi lebih dulu masuk kedalam tanah, dan keluar di belakang Libra.


'Sial. Dia tenggelam lagi.' gumam Libra.


Kemudian dengan cepat Libra menebas, mengayunkan pedangnya kearah belakang. Dia pikir Argi akan muncul dan menyerangnya lagi dari arah belakang. "Whush."


Tebakannya benar. Argi muncul di belakangnya. Tapi saat itu, Argi sudah melompat, dan menyerangnya dari arah atas.


"Jleb"


"Bum."


Argi menusuk dada kiri Libra dengan pedang, sebelum tangan kiri meninju keras dada kanannya.


Libra terpental jauh, di iringi Argi yang mengikuti di belakang.


Argi menebaskan pedangnya lagi dan kembali meninju dada Libra, sebelum tubuhnya jatuh ke lantai.


"Srakk"


"Bumm."


Dada Libra terkoyak, darah menyembur kemana-mana. Tubuhnya terbentur keras. Kerikil beterbangan seiring tubuhnya yang terhempas menyeret di atas lantai.


"Argh."


Libra mengerang sebelum dia menutup matanya.


"Hehe, hanya segitu saja." gumam Argi.


Argi menyeringai puas, berjalan mendekat ke arah Libra dan berdiri di sana.


"Berani sekali kau melukai keluarga ku. Sekarang kau tau akibatnya kan?. Aku pikir kau sangat kuat, tidak taunya mati dengan mengenaskan."


"Hehehe, seandainya saja teman atau anak buah mu tau. Pasti mereka akan kasihan, melihatmu. Apa lagi ibu yang membesarkan mu, dia pasti akan sangat sedih melihatmu. Hahahaha... ."


Maaf teman-temanku. Seperti nya setelah bab ini, saya akan menulis satu bab lagi untuk mengakhiri cerita Libra. Di karenakan cerita ini, sepertinya tidak begitu di sukai oleh pembaca.


Sekali lagi, Maaf.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2