
"Jangan menatapku seperti itu." Ucap Salsa malu-malu. Dia sedikit gugup menundukkan Kepala wajahnya pun terlihat memerah. Salsa baru sadar kalau dirinya baru saja mengungkapkan perasaan dalam hatinya.
"Hehehe... . Bagaimana dengan orang tuamu?. Maaf, baru kali ini aku mengucapkannya. Terimakasih juga atas pertolonganmu pada orang tuaku saat itu." Buru-buru Libra menarik kepala sambil cengengesan malu. Dia terkesiap, ketika kedapatan memandangi wajah Salsa terlalu intense.
"Tidak apa-apa, mereka sudah lama sembuh kok."
"Baguslah kalau begitu, setidaknya aku tidak begitu malu padamu." ucap Libra. "Mulai kapan kalian datang kenegara ini?." sambungnya.
"Baru semalam."
"Oh... .Lalu kemana kakakmu? sepertinya tadi aku tidak melihatnya."
"Mungkin urusannya belum selesai di hotel."
__ADS_1
"Urusan?. urusan apa?." Dahi Libra berkerut. Dia pikir orang sekelas Argi tidak akan ambil pusing hanya di karenakan sebuah urusan.
"Nanti kau tau sendiri."
"Hehe, kalian sudah mulai main rahasia denganku ya?."
"Bukan rahasia si?. Hanya saja dia tidak mau iblis di tubuhmu menjelma. Dan kau mengamuk, sementara kami masih di dalam mobil ini bersamamu."ucap Arumi memotong Salsa.
'Memangnya apa yang terjadi?... .' Hugh, sudahlah. Seperti katanya, nanti aku juga akan tau." batin Libra.
"Aku pasti akan membalas mereka." Ucap Libra lirih tapi penuh ancaman, membuat ngeri setiap telinga yang mendengarnya. Bak memiliki dua kepribadian yang berbeda. Dari wajah yang mulanya terlihat teduh dan menyenangkan, berubah jadi dingin dan menakutkan. Tangan kanannya mengepal erat, di iringi bola mata yang sangat tajam menatap jauh kedepan. Seakan dia telah melihat sesuatu yang membuatnya sangat marah di sana.
Satu jam telah berlalu, tampak ke lima mobil mewah itu telah memasuki halaman basement hotel H2O. Satu persatu mereka turun dari mobil mengikuti Salsa yang berjalan di depan. Waktu terus berlalu sejak pertemuan mereka. Bahkan Libra sudah mengetahui tentang sindikat kartel narkotik yang juga ada dalam negara itu. Hanya saja interogasi yang di lakukan Gentu dan Leony tidak berhasil mengungkapkan keberadaan markas kartel narkotik itu di negara ini. Di karenakan orang-orang yang sudah mereka tangkap hanyalah sebagian kecil dari kelompok sindikat itu, menyebabkan mustahil bagi mereka untuk mengetahui di mana posisi markas sindikat narkotik itu berada.
__ADS_1
Dua hari kemudian. Libra pergi ke kampung nelayan membawa serta semua temannya untuk bertemu Rahman dan Arin yang selama ini menjadi keluarganya di negara M. Mereka datang dengan menggunakan tujuh mobil mewah yang berhasil menarik perhatian orang-orang yang yang bermukim di kampung itu. Banyak mata yang terheran-heran dan penuh tanda tanya melihat orang kaya yang datang ke kampung mereka, sehingga mereka terus mengikuti di mana agaknya mobil-mobil itu akan berhenti.
Tak lama kemudian ketujuh mobil itu pun berhenti tepat di depan rumah pak Rahman. Pak Rahman dan Arin yang sememangnya ada di dalam rumah menjadi terkejut, setelah mengintip dari balik jendela melihat jejeran mobil-mobil mewah berhenti tepat di depan rumahnya.
"Siapa gerangan orang-orang yang datang kerumah kita ini ya yah?." bisik Arin.
"Tidak tau." balas pak Rahman mengeleng.
Tapi beberapa saat kemudian mata pak Rahman dan Arin hampir saja melompat saat melihat Libra keluar dari salah satu mobil itu.
"kak Hiu!?." gumam Arin terperanjat.
Spontan Arin membuka pintu lalu berlari melompat naik ketubuh Libra. Kemudian menggelantung manja di depan pemuda yang bertubuh tinggi itu. Libra terkesiap hingga hampir terjengkang kebelakang seandainya saja kuda-kuda kakinya tidak reflek mengimbangi. Sementara bola matanya hampir keluar dari tempatnya saking terkejutnya. Sedangkan Salsa dan Karasuka mendadak menatap horor pada gadis cantik yang memiliki rambut panjang terlihat akrab dengan Libra.
__ADS_1
Bersambung