
Karasuka, Salsa, Arumi dan Zalia, berdiri mematung menatap tak jelas kearah Hiu.
'Apa?... .Apa yang telah di katakannya. Apa dia hanya pura-pura?.' batin Zalia.
'Pantas saja, mungkin ini yang menyebabkan dia tidak kembali, dia pasti lupa dengan ingatannya.' batin Arumi.
'Libra... . Apa kau benar-benar telah melupakan ku?.' batin Karasuka.
Sementara Salsa tersenyum menatap Hiu yang sedang menatap canggung kepada mereka, walau air mata mulai berderai dari sudut matanya yang indah. Tapi sebercak kebahagiaan terlihat jelas di raut wajahnya. 'Akhirnya aku menemukan mu Libra.' batin Salsa.
Sedangkan Hiu dahinya berkedut, dia menatap canggung empat gadis cantik di hadapannya. 'Kenapa wajah mereka terasa tidak asing di benakku? apakah sebelumnya aku mengenal, dan mereka mengenaliku?. Apalagi kedua gadis itu, mereka terasa sangat familiar di hatiku. Siapa mereka?.' batin Hiu menatap Salsa dan Karasuka.
Karena penasaran, Zalia datang mendekat menghampiri Hiu. "Aku Zalia saudara sepupu mu, apa kau tidak ingat padaku?."
Libra tertegun menatap Zalia sambil mengerjap matanya, dan tak lama kemudian dia menggeleng kepala.
"Ha? ... kau melupakan ku?." ucap Zalia melotot.
"Bagaimana dengan aku, apa kau juga tidak ingat pada ku?. Aku adalah Arumi kakakmu ." ucap Arumi mendekat.
Lama Hiu menatap Arumi sambil memegang kepalanya berusaha untuk mengingat sesuatu, namun dia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"Tidak." balas Hiu sambil mengerjab
ngerjab matanya.
"Apa?. bajingan, bagaimana kau bisa melupakan kami sebagai saudara mu?." ucap Zalia kesal melompat memukuli tubuh Hiu.
"Bag."
"Bug."
"Bag."
"Hei, hei, hei. Apa yang kau lakukan." Teriak Hiu menghindar sambil menutupi kepalanya dari serangan mendadak Zalia. 'Ada apa dengan gadis gila ini, kenapa dia galak sekali.' batin Hiu.
__ADS_1
Sebenarnya dia bisa membalas dengan mudah, tapi entah kenapa perasaannya sama sekali tidak ingin membalasnya. Dia lebih rela menerima pukulan itu, sambil terus menghindar.
"Hentikan, hentikan Zalia. Kau sudah memukuli nya." teriak Arumi meluru maju.
"Biarkan saja, aku sedang mengembalikan otaknya yang mungkin sedang konslet." balas Zalia sambil terus memukuli Hiu.
"Hei hei hei, kau bisa melukainya bodoh?." teriak Arumi sembari menarik tubuh Zalia kebelakang.
Pada saat yang sama rombongan Leo mendekat begitu juga dengan Rolex, mereka berhenti di pinggir jalan lalu keluar dari dalam mobilnya.
Rolex terus berlari kearah Salsa, di ikuti semua orang yang menjadi pegawalnya. "Ada apa Nona!?." Teriaknya tergesa-gesa kemudian melihat seorang pemuda di depannya. Tatapannya agak tajam ke arah Hiu, sebab dia belum mengenal dan belum pernah melihatnya.
Sedangkan Leo sangat terperanjat, dia berdiri terpaku menatap pemuda yang di pukuli Zalia tidak jauh di depannya.' Libra?.' batinnya. Beberapa saat kemudian dia baru tersadar, lalu berjalan cepat kearahnya.
"Libra, bagaimana kabarmu?. Apa yang kau lakukan di negara ini,
kenapa kau tidak kembali?." Tanya Leo beruntun pada Hiu. Hiu mengalihkan pandangannya, lalu dia berdiri tercengang menatap pemuda yang begitu mirip dengan wajahnya.
'Siapa orang ini, kenapa wajahnya begitu mirip dengan ku?.' batin Hiu.
"Kau pasti heran kan? biar aku kasi tau, dia itu sebenarnya saudara kembarmu. Apa kau tidak bisa mengingat sedikit pun tentang kami?." ucap Zalia berhenti memukuli Hiu.
'Saudara kembarku?' batin Hiu. Dia kembali coba mengingat memori masa lalu dalam ingatan hingga peluh mulai terlihat di dahinya, dia terlihat berusaha untuk mengingat semua masa lalunya.
"Libra, coba kau lihat satu persatu wajah kami. Siapa tau dengan begitu kau akan mengingat masa lalumu, atau kau masih mengingat nama Naira maupun Arya pratama?. Mereka
itu orang tua kita." ucap Arumi.
Hiu menggelengkan kepalanya dia sama sekali tidak bisa mengingat, tapi tatapannya terkunci pada wajah dua gadis yang tak lain adalah Salsa dan Karasuka.
"Tunggu... . Apakah kau mengingat wanita yang bernama Jamilah?." tanya Zalia.
Mendadak jantung Hiu berdesir mendengar nama itu, dia gemetar dan keringat dingin dengan cepat membasahi tubuhnya. "I_Ibu?... ." Ucapnya. Perlahan beberapa memori mulai masuk dalam ingatannya.
"Ha?...benar. Itu benar. Kau sudah mulai bisa mengingat masa lalumu. Ayo, terus ingat lagi." Ucap Zalia kegirangan sembari memeluk bahu Hiu. "Lihatlah, coba lihat baik-baik wajah mereka. Mereka adalah Salsa dan Karasuka. Kau pasti bisa mengingatnya."
__ADS_1
Mendadak wajah Salsa dan Karasuka yang di tunjuk Zalia jadi cemas menatap Hiu, mereka begitu berharap agar Hiu bisa mengingat nya.
"Salsa... . Karasuka..."
Gumam Hiu menatap dua gadis itu. Dahinya mulai berkedut mengingat dua nama yang tidak asing dalam hatinya, perlahan memori mulai bermunculan dalam ingatannya.
'Cobalah pedang ini, ia terbuat dari induk besi yang keras dan tajam.'
'Kenalkan... . Namaku Salsabila Nastiti, panggil saja Salsa.'
"Hehe... sekarang aku sudah ingat,
terimakasih Zalia kau sudah mengembalikan ingatanku." teriak Hiu, kemudian mengalihkan pandangannya dari Zalia kearah Salsa dan Karasuka. "Hei, kenapa kalian menatapku tajam seperti itu?. Karasuka Azumi dan Salsabila Nastiti." ucap Hiu semangat.
"Astaga, kau benar telah mengingat semuanya." pekik Zalia menatap Hiu.
"Ya, namaku Libra Aeros. Aku sudah mengingat semuanya."
"K, Kau sudah mengingatnya?." Ucap Salsa dan Karasuka tergagap. Mata mereka terbuka lebar saking senangnya. Kemudian secara sadar atau tidak Salsa dan Karasuka langsung berlari melompat ketubuh Libra, kaki jenjang mereka menggantung di udara Kemudian menciumi wajah Libra dengan gemasnya.
"Hei hei hei, apa yang kalian lakukan!?. Kenapa kalian jadi gadis yang tidak sopan dan tak tau malu?." bentak Libra.
"Aku merindukanmu bodoh?." ucap Karasuka da Salsa bersamaan.
"Sejak kapan kalian jadi gila? Lepaskan!." teriak Libra menggoyang goyangkan tubuhnya.
Namun Salsa dan Karasuka sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya, mereka seperti melekat di tubuh itu dan berpegangan erat pada leher dan tubuh Libra.
Arumi dan Zalia tertawa terkekeh kekeh melihatnya, sementara Leo dan yang lainnya hanya tersenyum senyum sambil membalikkan badanya kebelakang.
Bersambung.
__ADS_1