
Sejak dua hari ini setelah mengenal Anisa, Argi terus saja kepikiran pada gadis cantik itu. Walau baru pertama kali berjumpa dengannya, tapi entah kenapa wajah cantik itu begitu ngangenin di hatinya. Oleh sebab itu dia sengaja pergi sendiri agar tidak ketauan oleh anak buahnya atau temannya untuk melihat keadaan Anisa di rumahnya. Sebenarnya Argi tidak berani terang-terangan untuk menemui Anisa. Hanya saja asal dia bisa melihat gadis itu dalam keadaan baik walaupun dari jarak yang jauh, maka hatinya sudah merasa senang. Tentu saja dia akan melihat gadis itu dengan caranya sendiri. Dengan kemampuan luar biasa yang dia miliki, dia bisa menghilang kedalam tanah dan timbul di mana saja yang dia mau.
Flashback
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Argi untuk mencapai hotel H2O, dari pabrik bekas yang sudah tidak terpakai. Dia muncul di atas lantai kemudian jalan perlahan meletakkan tubuh Anisa di atas kasurnya.
"Kau tidak usah takut padaku, aku tidak punya niat jahat padamu. Jadi jangan berpikiran macam-macam tentangku." ucap Argi seraya meletakkan tubuh Anisa di atas tempat tidur. "Oya, untuk sementara kau tidurlah di kamar ini karena malam sudah sangat larut. Nanti aku akan menyuruh adikku Salsa, agar meminjamkan pakaiannya untuk mengganti pakaianmu yang sudah kotor. Besok pagi aku akan mengantarmu, atau kau bisa menghubungi ayahmu untuk menjemputmu di sini." tukas Argi.
"Lalu bagaimana denganmu?."
Setelah di pikir-pikir olehnya, apa yang di katakan Argi memang benar. Selain malam sudah sangat larut, dia juga merasakan lelah dan sedikit agak terkejut atas apa yang terjadi padanya. Untung saja Argi bisa menyelamatkannya.
"Tidak usah khawatir padaku, aku akan keluar dari kamar ini. Lagi pula aku sudah memesan beberapa kamar di hotel ini. Jadi aku bisa istirahat di kamar lain bersama temanku."
"Kalau begitu terimakasih. Maaf, aku sudah menyusahkanmu." ucap Anisa bersungguh-sungguh.
"Oh, tidak apa-apa. Santai saja. Aku tidak merasa di susahkan olehmu." ucap Argi seraya melangkah kearah pintu.
"Tunggu! ... . Siapa namamu?."
__ADS_1
"Argi Gait Zaganda. Panggil saja Argi." ucapnya menoleh kebelakang.
"Baiklah, Argi. Terimakasih, kau sudah menolongku."
Argi tidak lagi membalas ucapan Anisa, dia terus melangkah meraih handel pintu lalu keluar dari kamar itu. Di luar pintu kamar itu Argi berhenti sebentar, lalu melangkah pergi sambil tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Entah kenapa hatinya begitu senang ketika Anisa mengucapkan terimakasih padanya.
Sementara di dalam kamar, Anisa masih terduduk tanpa bergeser sedikitpun dari tempat Argi meletakkannya. Dia tersenyum sendiri dengan hati yang berbunga-bunga sambil menatap pintu di mana tadi Argi baru saja keluar dari kamar itu. 'Dia tampan walau agak kaku. Tapi sepertinya dia pria yang baik.' batinnya.
* * *
Di luar, di sebuah taman di depan hotel. Salsa baru saja memutuskan panggilan pada Karasuka yang sekarang berada di Jepang, saat hpnya kembali berdering mendapat panggilan dari Argi.
📞"Halo Kak, ada apa?."
📞"Di taman, Kak. Di depan hotel.
Memangnya kenapa?."
📞"Hm... . Tidak apa-apa. Bisakah kau
__ADS_1
pinjamkan, pakaianmu pada Anisa?."
📞"Memangnya ada apa Kak?
Apa Kakak sudah pulang?."
📞"Sudah... .Sekarang kakak sedang
mencari Rolex. Kau tau dia di mana?
Oya, sekarang Anisa ada dalam kamar
kakak. Pakaiannya di penuhi oleh darah.
Oleh sebab itu kakak meminjam
pakaianmu agar bisa di kenakan olehnya."
📞"Baiklah, Kak. Aku akan segera mengantarkan pakaian untuk Anisa kekamar Kakak. Oya... . Paman Rolex beserta yang lainnya, sekarang ada di ruang bawah tanah hotel ini. Mereka menginterogasi orang-orang yang membuat kerusuhan. Menurut Gentu dan Leony, orang-orang itu anak buah kartel narkotik dari Perancis."
__ADS_1
📞"Mereka lagi... . Baiklah, kau segera antarkan pakaianmu untuk Anisa. Kakak akan melihat mereka." balas Argi.
Bersambung