
Saat itu kelompok mafia kelas atas di ibu kota sedang berkumpul, dan yang terkuat di antara mereka adalah Tiger wolf, mereka sedang memikirkan cara untuk masuk menguasai kota M. Tapi ada halangan untuk menguasai kota itu, yaitu kelompok RTB. Kota M adalah kota terbesar nomor tiga di negara itu, oleh sebab itu mereka begitu ingin menguasainya. Pada saat itu seorang telah angkat bicara pada saat Arendra dan Trimaran tengah berpikir mencari solusi, dia adalah Arbeto yang telah menawan keluarga Aleksander. Diapun mengatakan ;
" Nyonya, Tuan, aku telah menawan keluarga Aleksander, seorang diantaranya sepertinya bisa untuk di ajak bekerja sama untuk mencari kelemahan bocah itu. Dia bernama Erina, anaknya telah mati di bunuh bocah itu." tukas Arbeto.
"Bagus, bawa wanita itu kesini sekarang." balas Trimaran.
"Baik nyonya." Arbeto segera menghubungi anak buah di markasnya untuk membawa Erina.
Setelah beberapa waktu, Erina telah sampai bersama anak buah Arbeto dan langsung di hadapkan pada Trimaran. Kemudian Trimaran menanyainya.
"Aku dengar anakmu telah di bunuh seseorang, apakah kau ingin membalasnya?." tanya Trimaran.
"Ya Nyonya ... dia bernama Libra, mungkin umurnya dalam kisaran, lapan belasan." balas Erina.
"Apakah kau punya informasi lain tentang anak itu, mungkin sesuatu yang bisa membuatnya lemah. Atau tempat dimana mereka bisa di temukan, karena mereka sekarang berada dalam persembunyian." kata Trimaran.
"Saya tidak mengetahui banyak tentang anak itu, Nyonya. Tapi saya tau dia memiliki seorang ibu yang sepertinya sangat di sayangnya. Saya melihatnya beberapa waktu yang lalu. Tapi kalau kelompok Elang putih yang di pimpin oleh Daris pratama, mungkin bisa di selidiki lewat perusahaan yang mereka miliki." tukas Erina.
"Hmm ... bagus." balas Trimaran senang. Dia mulai mendapatkan rencana untuk menghadapi Libra. Tapi sebenarnya tidak semua informasi yang dia dapat, akurasi lagi. Seperti :Jamilah. Mereka tidak tau kalau dia telah mati.
"Ibu... Ayah, aku akan pergi ke kota M. Aku ingin pindah sekolah kesana untuk menyelidiki kelompok itu."
__ADS_1
Arendra dan Trimaran menatap kearahnya, begitu juga semua orang. Dia adalah Salsabila nastiti, anak kedua dari Arendra dan Trimaran. Dia memiliki seorang abang bernama Argi gait zaganda, dua tahun lebih tua darinya. Satu bulan lagi Salsa akan menamatkan sekolahnya, dia berencana melanjutkan kuliah di kota M, agar bisa menyelidiki kelompok RTB.
Salsa seorang gadis yang sangat cantik, begitu juga Argi seorang pemuda yang sangat tampan. Sebagai anak seorang bos mafia, sejak kecil Salsa dan Argi telah di ajari berbagai kemampuan, mulai dari cara membunuh dengan sistematis maupun secara langsung. Mereka di ajari menggunakan racun kimia, ilmu beladiri, mengunakan senjata tajam bahkan menembak, mereka sudah ahli dalam melakukannya. Dan juga di ajari cara bertahan hidup dalam keadaan sulit saat di butuhkan. Mereka berdua telah di gembleng untuk menjalani kehidupannya.
"Apa aku harus menemanimu?." tanya Argi menoleh adiknya.
"Hehe... tidak usah, kau sudah kuliah di sini. Tapi sesekali datanglah menjengukku." balas Salsa.
Salsa kekeh melihat abangnya yang selalu ingin menjaganya, mereka memang abang beradik yang yang selalu dekat dalam menjalani kesehariannya. Sejak mereka masih kecil, Argi tidak akan membiarkan siapapun yang menyakitinya, apalagi membuatnya menangis. Oleh sebab itu tiada orang yang berani mengganggunya, walaupun sebenarnya, Salsa mampu melindungi dirinya sendiri.
Salsa seorang gadis yang sangat di sayang dalam keluarganya, mulai dari Ayahnya, Ibunya, Abangnya, kedua Nenek dan Kakeknya, mereka sangat menyayanginya. Oleh sebab itu dia mendapatkan perlindungan ketat dari mereka semua, mulai dari yang dia ketahui, maupun yang di lakukan secara diam-diam.
" Huh... baiklah, ibu akan mengurusnya. Ibu juga akan mengirim orang-orang yang bisa di andalkan untuk menjagamu." tukas Trimaran sambil mendengus pasrah. Dia tau setelah anaknya itu punya keinginan maka sulit untuk mencegahnya. Maka yang bisa dia lakukan hanya melindungi anaknya itu lewat semua kemampuan dan kekuasaan yang dia miliki.
# # #
Di tempat lain. Libra, Arumi, Zalia meninggalkan markas untuk pergi ke rumah Libra yang sudah lebih seminggu di tinggalkan. Mereka menaiki mobil sport warna biru milik Zalia, Sambil menuju kearah sana mereka berbincang di dalam mobil.
"Kau adalah Bos dari RTB, jadi semua aset yang di milikinya juga milikmu, kelompok Elang putih memiliki beberapa perusahaan, begitu juga dengan Serigala api, semua perusahaan yang ada pada dua kelompok ini sekarang jadi milikmu, karena kau pemimpinnya." celetuk Zalia.
Libra bengong menatap Zalia yang sedang mengemudi, dia sama sekali tidak tau menahu tentang hal itu. Kemudian Arumi menimpali perkataan Zalia agar lebih jelas. Dia tau, Libra pasti bingung mendengarnya.
__ADS_1
"Apa yang di katakan oleh Zalia itu memang benar, kaulah pemilik perusahaan itu walau tidak seutuhnya. Sebab perusahaan itu milik organisasi, tapi karena kau ketuanya, maka kau orang pertama yang berkuasa di dalamnya, bahkan di dalam hal keuangan. Tapi lambat laun kau pasti akan mengerti, kami akan mengajarimu nantinya."
Kemudian Libra mengerut dahi sambil bertanya ; "Aku ingin tau, dalam hal apa saja perusahaan ini bergerak."
"Kita ini Organisasi Mafia, tentu saja ada yang legal dan ilegal, bahkan lebih banyak ilegalnya." balas Arumi sambil mendengus kemudian kekeh.
Kemudian Libra ikut terkekeh dan
berkata ; "Tapi aku tidak mau menyakiti orang lain maupun menyusahkan mereka. Apa lagi itu orang-orang biasa sepertiku."
Arumi tersenyum menoleh pada Libra dan berkata ; "Kau ini ketuanya, maka kau yang akan mengaturnya."
Setelah berapa lama dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Libra. Rumah kecil itu peninggalan Jamilah, rumah ibu yang telah membesarkannya.
Dia keluar dari dalam mobil dan berdiri tertegun menatap rumah itu yang sedikit kusam setelah seminggu lebih di tinggalkan. Mulai terbayang semua kenangan saat bersama ibunya, mulai dia masih kecil hingga sudah besar, di mana dia selalu mendapatkan kasih sayang dan belaian. Terlihat jelas kesedihan dalam matanya, perlahan air matanya jatuh tak terasa dari sudut matanya, kemudian di usapnya lalu berjalan kearah depan dan membuka pintu rumah itu. Setelah itu mereka bertiga masuk kedalam.
"Aku ingin membangun rumah ini menjadi panti asuhan untuk anak-anak terlantar, yang tidak memiliki orang tua. agar mendapatkan pendidikan dan kasih sayang." tukas Libra.
Arumi dan Zalia menoleh Libra sembari memikirkan apa yang ada di pikirannya.
Kemudian, mereka mulai mengetahui apa yang telah di rasakan di lubuk hati Libra yang paling dalam.
__ADS_1
Yaitu: Kerinduan.
Bersambung