Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Jubah pelindung


__ADS_3

Mata Libra terbelalak kaget, menatap tubuh Karasuka yang dengan tiba-tiba telah di selimuti jubah berwarna putih. Jubah itulah yang telah melindungi tubuhnya hingga tidak pernah mendapat goresan luka. Dia kagum dengan jubah itu, pedangnya saja tak mampu menembus untuk melukai tubuhnya.


"Jubahmu itu sangat hebat, aku sama sekali tidak bisa melukaimu dengan pedangku, dari mana kau mendapatkannya?." tanya Libra seraya memuji jubahya.


Karasuka tersenyum menatap Libra, begitu mendapat pujian darinya. kemudian dia mengatakan ; "Jubah ini sama dengan Garis-garis biru milikmu, aku telah memilikinya sejak lahir. Tapi pedang yang kupakai pemberian dari ayahku, pedang itu adalah warisan dari leluhur kami. Aku lebih kagum padamu, walaupun kau terluka, kekuatanmu bisa mengobati tubuhmu dengan cepat. Sedangkan aku perlu beberapa minggu untuk bisa kembali pulih."


"Tapi aku juga kelabakan dengan jubahmu itu, kau bisa menghilang dan muncul di tempat lain sambil menyerangku, pedangmu juga sangat keras dan tajam, sesuai dengan karaktermu yang memang ahli dalam menggunakannya , dengan jubah itu kau bisa menyerang seseorang dari berbagai arah. Untung saja aku punya kekuatan yang bisa mengobati, kalau tidak, aku pasti sudah mati waktu itu." balas Libra merendah, dia tidak mau terlihat sombong di mata Karasuka.


"Hehehe ... ." Karasuka terkekeh sambil menggeleng kepala mendengar perkataan Libra, seiringan dengan itu jubahnya kembali menghilang.


Kemudian dia mengatakan ; "Kalau saja aku tidak meledakkanmu terlebih dahulu pakai bazoka, maka aku tidak akan punya kesempatan untuk melawanmu."


"Hehehehe ... ." Mereka sama-sama tertawa kekeh mengingat pertarungan yang sudah berlalu itu.


"Sekarang kita adalah teman, bukan lagi musuh, kita pasti akan maju dengan pesat jika bersama. Oya ... berapa umurmu?." tanya Libra.


"Memangnya kenapa?." balas Karasuka mengerut dahi menatap Libra.


"Aku memberi nama kelompok ini RTB, singkatan dari remaja tangan besi. Jadi intinya ... orang-orang dalam kelompok ini adalah kumpulan anak muda."


"Oh ... emangnya kau lihat, aku ini sudah tua?. balas Karasuka cepat.


" Oh tidak ... kau masih muda dan sangat cantik." balas Libra gugup.


"Bilang saja muda, tidak usah ada embel-embel cantiknya." celetuk Karasuka malu-malu.


"Tapi aku berkata jujur." tegas Libra.


Karasuka tambah malu, wajahnya merona mendengar ucapan dari Libra. Kemudian dia berkata ; " Aku baru sembilan belas tahun."


"Wah, maknanya kau satu tahun lebih tua dariku." celetuk Libra


"Kalau begitu kau harus panggil kakak padaku." balas Karasuka sambil tersenyum mengejek.


"Ha?... mana bisa begitu, kau lihat tubuhmu, walaupun tinggi tapi badanmu kecil, hanya bagian tertentu saja yang besar." kata Libra polos setelah memerhati tubuh Karasuka.


Bajingan, dia malah meneliti tubuhku.

__ADS_1


Gumam Karasuka sambil memiringkan tubuhnya dari tatapan Libra.


"Lihat aku, aku lebih tinggi dan tubuhku lebih besar darimu." kata Libra sambil memamerkan tubuh kekarnya.


"Sudah, jangan banyak bicara." balas Karasuka sambil menyerang Libra dengan pedang di tangannya. Libra terkejut, dengan cepat dia menangkis dan menghindar serangan Karasuka yang gesit dan datang tiba-tiba.


"Whuss ... ."


"Tang"


"Ting"


"Tang"


Ayunan suara pedang berserta dentingan nyaring terdengar dari dua besi yang berbenturan. Karasuka sengaja melakukan serangan itu untuk menutupi rasa malu campur kesal setelah bentuk tubuhnya di teliti.


Walaupun sebenarnya, ada perasaan senang dalam hatinya yang entah karena apa.


"Huh ... hampir saja. Kau memang gadis yang selalu menyerang tiba-tiba."


tukas Libra kesal.


Aku sangat kagum padanya, walau pun baru saja aku telah mengajarkan cara menggunakan pedang padanya, tapi dia sudah bisa menangkis dan menghindari serangan ku. Kalau dia terus berlatih, aku yakin kemampuannya dalam menggunakan pedang , akan seimbang denganku.


Setelah selesai berlatih menggunakan senjata api. Dari jauh, Arumi dan yang lainnya sedang menatap kearah Libra dan Karasuka yang sedang berlatih menggunakan pedang. Kemudian dia berasumsi melihat mereka.


"Mereka itu sangat serasi. Yang satu tampan, dan yang satunya cantik. mereka juga sama-sama kuat. " kata Arumi.


"Huh ... harusnya aku tidak terlahir menjadi sepupunya, jadi aku bisa menikahinya suatu hari nanti." celetuk Zalia.


"Hehe ... ." Arumi tertawa, begitu juga yang lainnya sambil menatap Zalia.


"Kau menikah saja dengan Hiro atau Yakuza." canda Leo menatap Zalia.


Zalia bertolak pinggang sambil melotot menatap Leo kemudian dia


berkata ; "Kau pikir aku gadis yang suka om-om."

__ADS_1


"Hahaha ... ." Mereka tertawa mendengar ocehan Zalia.


"Ayo kita kita kesana." kata Arumi sambil berjalan kearah Libra dan Karasuka, di ikuti yang lainnya.


"Hai ... apa kalian tidak letih?." tanya Arumi setelah mereka sampai di dekat Libra dan Karasuka.


Libra dan Karasuka menghentikan latihannya, lalu berbalik menatap Arumi dan yang lainnya. Kemudian mereka berjalan kearah sebuah pohon yang rindang lalu duduk di sana.


"Apa kau tidak lebih baik tinggal di negara ini saja? dengan begitu kekuatan kelompok RTB tidak akan berkurang. Kita akan menjadi satu-satunya kelompok mafia dari kumpulan anak muda, bukankah itu sepertinya keren?." kata Arumi pada Karasuka. Kemudian karasuka menjawab sambil tersenyum.


"Tentu saja, aku memang sudah betah tinggal di negara ini. Oleh sebab itu, aku berencana untuk beli rumah dan pindah kuliah di sini."


"Yes ... ." teriak Zalia sambil mengangkat tangannya senang, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka ikut senang dengan keputusan Karasuka.


"Kalau begitu kita harus merayakan hari ini." celetuk Zalia, yang kemudian mendapatkan tatapan dari yang lainnya.


"Kau ingin merayakan dengan cara apa?." tanya Leo.


" Untuk siang ini kita cukup lomba motor, malam nanti kita pergi ke club.


Bagaimana?." tukas Zalia.


" Wah, itu keren. Idemu memang mantap Zalia, ayo cepat bergegas." teriak Leo sambil berlari kearah gudang.


"Kau juga, Karasuka. Ayo ... di gudang ada sepuluh motor baru, yang telah di beli oleh kakek." teriak Zalia sambil menarik tangan Karasuka. Kemudian mereka berlari dengan girang kearah gudang.


Saat itu, Lazio, Geri, Hiro, dan Yakuza yang sedang berlatih, terlihat bengong melihat anak-anak muda itu berlari dengan kencang melewati mereka.


"Ada apa?." tanya Geri yang merasa heran, pada ketiga temannya. Namun ketiga temannya juga dalam keadaan bengong sambil menggelengkan


kepala. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara bising dari arah gudang.


"Rum..rum..rum ... ."


"Rum..rum.. rum ... ."


"Reng..reng..reng ... ."

__ADS_1


Suara motor milik Libra paling bising dan beda sendiri bunyinya. Sebab dia memakai motor yang telah di belikan almarhum ibunya. Tapi motor itu sangat laju, sebab dia telah merombak isi mesinnya.


Sesaat kemudian terdengar suara yang sangat bising, mereka keluar secara berbarengan sambil menekan-nekan pedal gas motornya. kemudian melaju dengan kencang mengitari lokasi markas yang lumayan luas.


__ADS_2