
Di saat Argi sedang tertawa puas, garis-garis biru di tubuh Libra bekerja cepat mengobati lukanya. Itulah kelebihan dari kekuatan yang di milikinya, dia bisa mengobati dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Seperti bayangan tubuh Libra bergerak cepat kembali berdiri, luka yang tadinya menganga sekarang telah sembuh dengan sempurna. Dia sama sekali tidak terlihat kalau tubuhnya pernah terluka.
Argi tersentak ketika melihat Libra sudah berdiri di depannya.Tadinya dia pikir Libra sudah mati. tidak di sangka dia masih hidup dan sekarang sedang berdiri menatap tajam kearahnya. 'Sial. Aku pikir dia sudah mati.' gumamnya.
Sementara Libra tersenyum menyeringai, menatap Argi. Dia seperti tau apa yang sedang di pikirkan lawannya.
"Hehe... . Aku tidak akan mati semudah itu, walaupun tubuhku terluka. Separah apapun luka yang kudapatkan
kekuatanku bisa menyembuhkannya.
Sedangkan kau. Kau akan terluka dan mati jika aku menghancurkan jirah itu hingga lepas dari tubuhmu. Benar, kan?." ucap Libra.
"Benar... . Tapi kau belum tentu bisa menghancurkan jirah ini. Jirah ini sangat kuat, sementara itu aku akan terus melukai tubuhmu. Kekuatanmu itu akan terus melemah jika terus terpakai untuk mengobati lukamu. Benar,kan?. " balas Argi.
"Hahaha... . Kalau begitu kita seimbang. Teruslah bersembunyi di dalam tanah agar aku tidak bisa menghancurkan jirah itu, dan jangan keluar dari dalam sana. Mataku seperti radar, aku bisa melihatmu dengan jelas dari atas walaupun dalam gelap." Seru Libra mengejek sambil melesat ke angkasa.
"Dan kau.Teruslah terbang di atas sana, jangan pernah turun ke bawah. Karena aku bisa melukai tubuhmu lagi. Ingat. Kulitku lebih tajam daripada radar. Aku bisa mengetahui di manapun kau turun ke atas tanah ini." balas Argi berteriak. 'Sial. Dia pikir, dia saja yang pandai bicara.' gumamnya kesal.
_______________________________________
Sementara itu di tempat lain, enam mobil sedang berjejer berjalan pelan. Salsa yang tidak sabar, tak habis-habisnya menggerutu melewati jalan yang rusak itu untuk menuju arah pelabuhan.
Dia datang bersama para sahabat dan sepuluh orang pengawalnya, untuk melerai pertarungan antara Libra dan abangnya.
"Huh, sial."
"Apa masih jauh lagi?." tanya Arumi yang duduk di jok belakang.
"Tidak, hanya sedikit lagi. Tapi jalan rusak ini saja yang membuat kita jadi lambat, tempat ini sudah lama tidak di pakai, jadi jalannya tidak lagi di benahi. Huh... . Semoga saja kita tidak terlambat." balas Salsa sambil fokus menyetir mobilnya.
_______________________________________
Libra di atas sana terbang berputar kesana kemari untuk mencari celah agar bisa menyerang jirah milik Argi. Pedangnya harus lebih dulu mengenai
tubuh Argi agar merusak jirah itu, sebelum pedang Argi mengenai tubuhnya yang akan berakibat buruk pada kekuatan garis-garis biru di tubuhnya.
Sedangkan Argi. Dia terus mendongak ke atas, matanya yang tajam terus menatap kemanapun arah tubuh Libra bergerak dengan sayapnya.
Dia tidak ingin memberi celah sedikitpun untuk Libra menyerangnya dari atas tanpa sepengetahuannya, satu-satunya cara untuk bisa menyerangnya hanya bisa di lakukan dengan cara frontal.
__ADS_1
'Sial, sepertinya dia juga bisa melihat ku dalam gelap.' gumam Libra dari atas. Dia tidak mendapatkan celah sedikitpun untuk menyerang Argi.
' Baiklah kalau begitu, kita akan bertarung mati-matian untuk menentukan siapa yang paling kuat di antara kita.' Kemudian dia berteriak sambil meluncur cepat kebawah.
"Kalau pun mati. Matilah."
"Whus_______________sh."
"Ting."
"Dumm."
Terjadi ledakan hebat akibat benturan dua kekuatan milik Libra dan Argi, menimbulkan percikan api dan angin yang membawa debu pasir dan kerikil terbang jauh keluar pelabuhan.
Mereka terus bertarung. Bertarung dan bertarung tanpa henti. Hingga pada akhirnya mereka kelelahan. Kekuatan mereka pun sudah jauh berkurang.
Pada tubuh Libra sudah terlalu banyak mendapatkan luka, hingga darah sudah
terlihat membasahi seluruh pakaian nya. Garis-garis biru yang tadinya terang sekarang terlihat sangat redup. Nafasnya tersengal sambil mengumpulkan kekuatan terakhirnya yang tersisa. Dia menggenggam pedangnya erat. Seketika api yang menyelimuti pedangnya berkobar, berubah warna menjadi hitam.
"Kalau tidak aku, dialah yang akan mati malam ini." Dia bersiap untuk menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menyerang.
Dan di sisi lain. Argi juga tak jauh beda dengan Libra, dia sangat kelelahan. Kekuatannya juga sudah jauh berkurang, bahkan setiap bagian dari jirah besinya sudah terlihat retak. Sekarang dia hanya mengandalkan kekuatan dari cahaya hijau yang di wariskan dari kakeknya, kakek dari ibunya. Yaitu kekuatan serigala yang sedari tadi membantunya untuk bergerak cepat mengimbangi Libra. "Kalau bukan aku, maka dialah yang akan mati. Atau kami akan sama-sama mati malam ini." Seketika cahaya hijau berpusat di ujung pedangnya, dia berlari sangat cepat kearah Libra.
"haaaaaaa." teriak mereka berdua.
"Bomm... ."
Terjadi ledakan yang sangat keras akibat benturan itu, hingga menimbulkan cahaya yang terang dan menghancurkan lokasi pelabuhan.
Saat itu tubuh Libra terpental jauh ke tengah laut terbawa oleh gelombang kekuatan, sedangkan Argi terpental ratusan meter jauhnya dari lokasi ledakan.
"Cahaya apa itu?." tanya Arumi.
"Duar."
"Duar."
Baru saja Arumi selesai bicara tiba-tiba sesuatu datang menghantam mobil mereka, setelah menabrak tembok di depan.
"Sial, kita sudah terlambat." Seru Karasuka yang duduk di sebelah Salsa, Salsa menghentikan mobilnya lalu keluar dari dalam untuk melihat apa yang sudah menghantam depan mobilnya.
__ADS_1
"Kakak?... ." Alangkah terkejutnya Salsa, kala itu. Saat mendapati Argi yang telah membentur depan mobilnya.
"Sa-Salsa, adikku." Ucapnya tergagap sebelum menutup matanya.
Sedangkan Libra di tengah laut sempat teringat Jamilah ibunya, dia bergumam
sangat lirih dalam hatinya ketika matanya akan tertutup dan tubuhnya mulai tengelam terbawa oleh arus.
'Ibu... , Aku akan menemui mu.'
"Kakak!?. Kaka______K." Teriak Salsa histeris. "Karasuka, carilah di mana Libra." Dia masih teringat Libra sebelum memeluk tubuh abangnya yang sudah terluka parah dan mengenaskan.
Sontak, Karasuka, Arumi dan Zalia yang
ada di dalam mobil keluar, ketika mendengar teriakan Salsa. Begitu juga orang-orang yang ada di belakang mobil mereka.
"Tuan!?. Tuan muda." teriak Rolex. "Ayo
satukan kekuatan kita untuk menolong
Tuan muda." seru Rolex pada sembilan temannya.
Sementara Karasuka berlari sangat kencang, dengan menggunakan kekuatan jubahnya. Dia mondar-mandir
di serpihan pelabuhan yang sudah hancur itu, untuk mencari keberadaan tubuh Libra.
"Di mana dia?." Gumam Karasuka setelah tidak menemukan tubuh Libra.
Karasuka berdiri di tengah pelabuhan yang sudah jadi serpihan. Matanya menelusuri arah, dari mana tubuh Argi sudah terlempar. Dengan begitu dia bisa menebak, kemana arah tubuh Libra akan terlempar.
"Laut. Dia sudah terlempar kelaut."
Gumam Karasuka setelah mengetahui kemana arah tubuh Libra terlempar.
Dengan segera dia menggunakan kekuatan jubahnya untuk mengapung, berlari cepat di atas air.
"Oh Tuhan, bagaimana aku bisa mencari tubuhnya yang sudah pasti tenggelam ke dasar laut yang luas ini?
Tuhan... . Tolonglah dia."
Gumam Karasuka yang sudah pasrah
__ADS_1
dengan keadaan itu, dia terlihat sangat sedih hinga air matanya mulai muncul dari sudut matanya yang indah itu.
bersambung