
Ketika sudah berada di jalan yang cukup ramai di pusat kota, Libra menurunkan kecepatan mobilnya. Begitu juga dengan Karasuka, Jeri, dan Leo. Saat itu, Libra kembali berada di posisi paling depan di antara tiga mobil lainnya. Kemudian dia mengikuti arahan Zalia sebagai penunjuk jalan, dan akhirnya mereka berhenti di depan sebuah klub yang ramai pengunjungnya. Klub itu terkenal di kota M, elite dan mahal. Hanya orang-orang kaya saja yang berkunjung di tempat itu.
Libra dan rombongannya keluar dari dalam mobil mereka masing-masing. Mengikuti Zalia yang berjalan paling depan, di ikuti olehnya dan Karasuka yang berada di belakangnya. Mereka terlihat persis seperti gerombolan gangster, dari sekumpulan anak muda.
Libra memperhatikan suasana sekitar, dia kagum melihat panorama yang indah di depan klub itu, dia juga kagum melihat banyaknya mobil mewah yang berjejer di situ. Kemudian dia bertanya
pada Zalia ; " Apa kau sudah sering datang ke tempat ini?."
"Ya... di sini tempat berkumpulnya anak-anak muda." Balas Zalia, sambil menoleh ke arah Libra di belakangnya.
"Pantas saja... Kau sudah terlihat sangat pasih, pada tempat ini." sambung Libra. "Hehehe." Zalia terkekeh, sambil terus berjalan masuk kedalam klub itu di ikuti Libra dan yang lainnya. "Ayo... kita duduk di sana." kata Zalia sambil berjalan ke sudut dekat dinding kaca, mereka menyusun empat meja menjadi satu untuk duduk bersama. "Ok... kalian mau pesan apa?. Tanya Zalia setelah mereka duduk di kursinya masing-masing sambil menatap rekan-rekannya, dan berakhir pada Libra.
Libra sendiri di antara mereka yang tidak pernah masuk ketempat seperti itu, dia jadi bingung dengan pertanyaan dan tatapan dari Zalia. "Apa...?." Lagi Zalia bertanya, sambil mengangkat kepalanya ke arah Libra. "Aku tidak tau, apa di sini ada cappucino?." balasnya lugu, dan terlihat bingung. Zalia terperangah sambil melotot. " Mana ada." celetuk Zalia heran. Dia bingung melihat Libra yang memesan minuman seperti itu di tempat seperti ini. Sedangkan rekannya yang lain, ingin sekali rasanya tertawa melihatnya. "Apa kau tidak pernah masuk ketempat seperti ini?." tanya Zalia. "Tidak." balas Libra lugas. "Pantas, saja." celetuk Zalia menatap Libra.
Dari lima belas anak muda itu, hanya Libra yang yang tidak pernah masuk ketempat seperti itu. Mulanya dia hanya orang biasa, dia tidak pernah pergi ke tempat-tempat seperti itu, dan seandainya dulu dia punya keinginan. Dia tetap tidak akan melakukannya. Karena jika sampai ketauan almarhum ibunya, maka ibunya akan sangat marah padanya. Oleh sebab itu dia merasa sangat bingung, saat di tanya oleh Zalia.
"Kalau begitu jangan beri dia minum beralkohol, aku rasa dia tidak pernah minum seperti itu. Aku takut dia akan mabuk." seru Arumi.
"Habis itu...dia kita beri minum apa? Tidak mungkinkan jus pukat, di tempat seperti ini." tukas Zalia.
__ADS_1
Libra yang tau sedang di bicarakan , jadi sebal dan malu.
minum apa sih yang buat aku mabuk, racun saja tidak mempan padaku
Kemudian dia menggenang masa kecilnya.
flashback
Saat itu. Dia sedang bermain di dalam kamar, sedangkan Ibunya memasak makanan kesukaannya di dapur. Dia melihat sebuah botol, yang tersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Karena penasaran, dia merangkak kebawah kolong tempat tidur itu untuk mengambil botol yang sudah di lihatnya. Setelah itu dia kembali merangkak keluar, begitu mendapatkan botolnya. Dia mengguncang botol itu, lalu terdengar suara air dari dalamnya. Dia yang waktu itu masih kecil, merasa penasaran dengan isi botol itu. Dia tidak tau, kalau botol itu berisi racun serangga. Dia membuka penutup botol itu kemudian meminum isinya.
Pada saat itu. ibunya masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan kesukaannya, yang baru saja siap di masak. Tapi alangkah terkejut, ibunya. Saat melihat dia telah meminum air dari botol itu. Ibunya menjerit histeris kala itu, dia berlari merampas botol itu dari tangannya. Kemudian sambil menangis. Ibunya mengangkat tubuh kecilnya sambil membalikkan kepalanya kearah bawah, seraya menepuk-nepuk bahunya. Berharap dia akan memuntahkan racun yang telah di minumnya.
Tapi Libra tidak memuntahkannya bahkan tiada sedikitpun perubahan pada wajahnya. Jamilah heran, dia memperhatikan wajah dan tubuh anaknya dengan teliti. Dia melihat garis-garis biru yang halus, di sekujur tubuh anaknya itu. Itu adalah kekuatan yang ada dalam tubuhnya, kekuatan itu telah menetralisir racun, hingga racun itu sama sekali tidak berpengaruh pada tubuhnya.
"Aku memang tidak pernah meminum minuman beralkohol, apalagi masuk ketempat seperti ini. Tapi bukan berarti aku tidak bisa meminum, seperti apa yang kalian minum. Jadi kalian pesankan saja untukku seperti apa yang ingin kalian pesan ... . Aku tidak akan mabuk. Kalau kalian tidak percaya, kita bisa bertaruh. Bagaimana?." tantang Libra sambil tersenyum kearah rekan-rekannya.
"kau... serius?. tanya Karasuka yang duduk di sebelah kirinya. Dia sudah tau kalau Libra memiliki kekuatan yang mampu mengobati dirinya sendiri jika terluka, tapi dia juga ingin tau apakah kekuatan yang di miliki Libra, mampu melindungi tubuhnya dari jenis serangan yang lain. "Tentu saja." balas Libra lugas.
"Baiklah, aku ikut bertaruh dengan mu."
__ADS_1
kata Karasuka, sambil tersenyum menatap Libra.
" Ok... minuman apa yang alkoholnya paling tinggi, di klub ini?." tanya Libra. Dan saat itu semua rekan, menatap kearahnya.
" Memangnya kenapa, apa kau ingin memesannya?." tanya Leo.
"Ya... aku ingin memesannya, bagaimana kalau kita bertaruh?. siapa yang mabuk dia yang akan membayar semuanya, bagaimana?."
"Gila... minuman itu alkoholnya sangat tinggi, jangan bertaruh dengan minuman itu. Aku tidak akan memesannya, mungkin ada di antara kalian yang ingin memesan seperti Libra?." tanya Leo.
"HaHaHa... ." Libra tertawa, kemudian kembali berkata ; " Kita bertaruh dengan standar kita masing-masing, kalian tidak perlu mengikuti aku."
Pada saat itu seorang gadis yang sangat cantik, datang menghampiri mereka. "Apa aku boleh ikut bergabung?." Dia bertanya sambil menatap Libra dan teman temannya. Mendadak Libra diam menatap gadis itu, yang berdiri ketepatan di
dekatnya. Gadis itu sangat cantik, kulitnya halus dan mulus. Bulu matanya lentik hidung mancung, dia cantik setara dengan Karasuka.
Sebelumnya...dari sudut yang lain dalam ruangan itu, gadis itu telah memperhatikan rombongan Libra. Dia sudah duduk dalam klub itu sebelum rombongan Libra datang, bersama dengan sepuluh orang pengawalnya. Gadis itu penasaran pada dua orang pemuda yang yang ikut bergabung dalam rombongan Libra.
"Bukankah itu, Roger dan Mahesa?... . Dan gadis itu adalah Karasuka, aku mengenal mereka walau mereka tidak kenal padaku." seru Gadis itu, kemudian dia kembali berkata. " Apa yang sedang mereka lakukan di kota ini, sepertinya ini menarik." Semua pengawal gadis itu ikut menoleh kearah mereka.
__ADS_1
"Benar... mereka anak Lazio, dan gadis itu Karasuka." kata seorang pengawal setelah memperhatikannya. "Kalian tunggu di sini, aku akan coba cari tau." kata gadis itu seraya berdiri dan berjalan kearah mereka.
Bersambung.