Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Pergi kuliah


__ADS_3

Malam sudah begitu larut tapi mereka masih bersemangat untuk bersenang-senang, padahal sudah ada di antara mereka yang sudah terlihat lelah walaupun rasa mabuk sudah agak berkurang ketika tubuh mereka bergerak saat berjoget.


"Woi... ayo kita pulang, sebentar lagi pagi. Kau juga Salsa, pulanglah nanti orang tuamu resah menunggumu di rumah." Libra berteriak di tengah dentuman musik, dia memanggil rekan-rekannya untuk kembali. Kemudian berjalan kearah meja dimana mereka tadi berkumpul.


Satu persatu rekanya datang dan duduk di kursinya masing-masing. Libra menoleh pada Salsa kemudian diapun bertanya ; " Bagaimana dengan mu Salsa, apa kau bisa pulang sendiri?."


Salsa menoleh kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata. "Bisa... mabuk ku sudah hilang saat berjoget tadi."


"Hehehe... ." Libra tertawa dengan jawaban Salsa. "Apa rumahmu jauh dari tempat ini?." tanya Libra. "Tidak... tidak begitu jauh." balas Salsa. "Bagus, kalau begitu kami tidak perlu mengantarmu. Tapi kau harus berhati-hati di jalan. Baiklah, ayo kita segera pulang." baru saja dia berdiri, Zalia sudah menyanggahnya. "Tunggu, bayar dulu." Libra menoleh Zalia sambil berkata ; "Tadi yang mabuk siapa?."


"Dia." Semua menunjuk Salsa.


"Hehe... ." Salsa malah tertawa ketika semua menunjuknya. "Baik-baik, jangan takut aku akan membayar semuanya." kemudian dia berjalan kearah kasir. Tapi baru saja berapa langkah Libra sudah memanggilnya. "Tunggu, biar aku saja yang bayar." Dia merasa tidak enak karena di bayarin seorang gadis yang baru saja di kenalnya.


"Hmm... itu baru benar, di sini kau bosnya. Salsa, ke marilah. Biar saja Libra yang membayarnya." Salsa berjalan kembali, karena pada saat itu Libra lebih dulu berjalan cepat kearah kasir. Bukan berarti dia tidak punya uang, uangnya bahkan cukup untuk membeli klub itu.


Tidak begitu lama, Libra sudah berjalan kembali sambil mengatakan ; "Ayo kita pergi dari sini." kemudian mereka mulai beranjak berdiri meninggalkan klub itu. "Tunggu dulu." semua menoleh pada Salsa. " Apa lagi?." tanya Libra. "Boleh aku meminta nomor kalian?.


" Benar juga, hampir saja terlupakan." seru Libra. Setelah diam sesaat, kemudian mereka masing-masing menarik handphon dari sakunya untuk saling bertukar nomor telepon dengan Salsa. "Jangan lupa kabari aku setelah sampai di rumah mu." Salsa menoleh Libra sambil mengangguk kepala.


Setelah itu mereka berjalan keluar menuju mobil masing-masing kemudian bergerak pergi meninggalkan klub itu.


Sampai di rumah, sepuluh pengawal Salsa yang sedari tadi mengikutinya berjalan cepat datang menghampiri.


"Nona... apa kau punya rencana pada mereka? Salsa berhenti sebentar, namun berjalan lagi menggeleng Kepala sambil berkata ; " Saat ini belum."


Setelah berada di dalam rumah, Salsa langsung menuju kamarnya kemudian membanting tubuhnya di atas tempat tidur. " Hah... malam yang sangat menyenangkan." Dia terlentang di atas tempat tidurnya, wajahnya sumringah mengingat apa yang terjadi

__ADS_1


malam ini. "Bersama dengan mereka sangat menyenangkan, aku tidak akan memikirkan hal yang buruk untuk mereka. Setidaknya untuk saat ini."


Kemudian dia teringat sesuatu, cepat-cepat dia meraih handphone yang ada di sebelahnya, kemudian mengutak-atik mencari nomor yang baru saja di simpan. Setelah ketemu, dia langsung menelpon nomor itu.


📞 "Halo... apa kalian sudah sampai?." tanya Salsa.


📞 "Belum... kami masih dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi baru sampai. Bagaimana dengan mu?."


balas Libra.


📞 "Aku malah sudah ada di atas tempat tidur. Apa rumah kalian jauh?" ucap Salsa menelisik.


📞 "Lumayan." balas Libra singkat.


📞 "Hm... baiklah. Hati-hati di jalan." Setelah itu Salsa memutuskan sambungan teleponnya.


Satu minggu setelah itu. Libra, Leo, Arumi dan semua yang ikut pergi ke klub malam itu kecuali Jeri, pergi menuju tempat kuliah. Mereka pergi dari rumah masing-masing. Mereka sudah tidak tinggal lagi di markas dalam hutan, hanya orang-orang tertentu saja yang masih tinggal di sana. Sekarang mereka semua tinggal di kawasan perumahan elit, dekat pinggiran kota.


"Reng"


"Reng______ng."


Saat itu libra menghentikan motornya diparkiran tepat di sebelah mobil-mobil mewah yang berbaris rapi di sebuah bangunan elite dan mewah, ketika beberapa mata sedang memandang rendah padanya yang terlihat tak berkelas.


Libra hanya berpenampilan biasa yang membuat dirinya tak terlihat seperti orang kaya, dia mengerti dengan isi pikiran orang-orang yang sedang menatapnya tapi dia sama sekali tidak peduli dengan pandangan mereka.


Hari ini adalah hari pertamanya kuliah di tempat itu di mana tempat itu adalah tempat kuliah bagi anak-anak orang kaya, hanya dia saja yang datang ke tempat itu dengan menggunakan motor walau dia juga memiliki mobil mewah di rumahnya.

__ADS_1


Dia berjalan santai kearah ruangannya kemudian memilih duduk paling pojok setelah sampai di dalam. " Hai... ." Ada yang menyapanya dari arah kiri, kemudian dia menoleh kearah suara yang tak asing di telinganya. "Hei... kau juga di sini?." balas Libra pada pemilik suara yang tak lain adalah Salsa. "Ia, ini hari pertamaku kuliah di sini, bagaimana denganmu?." tanya Salsa.


"Sama juga sepertimu, hari ini hari pertamaku kuliah di sini." balasnya.


"Bagaimana dengan yang lain?." kembali Salsa bertanya. "Mereka juga di sini, mungkin ada di kelas yang lain." balas Libra. "Baguslah kalau begitu."


Salsa seorang gadis yang cantik. Tentu saja banyak mata laki-laki di situ yang meliriknya, mereka seakan iri ketika melihat Libra seperti akrab dengannya.


Tidak lama setelah itu seorang lelaki paruh baya memasuki ruangan, dia seorang dosen yang mengajarkan mata pelajaran bisnis.


"Saya adalah Ronal, orang yang akan memberikan pendidikan pada kalian. Tolong perkenalkan nama kalian satu-satu." katanya tegas.


# # #


Pada waktu yang sama di tempat yang lain sekumpulan orang telah menelusuri kota M, dengan berbekal sedikit informasi mereka sedang mencari tau tentang keberadaan kelompok RTB. Mereka adalah orang-orang yang datang dari Perancis,


di kirim oleh seorang bos kartel narkotik dari negara itu.


"Kita harus membuat rencana untuk mengetahui tentang kelompok itu, aku dengar mereka memiliki perusahaan. Bagaimana mana kalau kita membuat kekacauan di sana, aku yakin kelompok itu akan keluar untuk melindunginya."


Kata seorang dari mereka, yang tak lain adalah Wiliam. Orang yang pernah datang menemui Arendra beberapa waktu yang lalu.


"Bagus." kata Platinum. Dia adalah orang nomor dua yang berkuasa di kelompok kartel narkotik, dia langsung turun tangan sendiri untuk menguasai kota M, tentu saja harus menyingkirkan


dulu kelompok RTB yang belum bisa di taklukkan Arendra wijaya.


"Buat rencana sebaik mungkin, kirimkan dulu pion untuk menjadi umpannya agar kita bisa mengetahui situasinya. Lebih bagus, jika kita mengetahui kelemahannya."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2