Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Serangan Platinum kemutiara


__ADS_3

Dalam keadaan terkejut Dani dan Bima menarik pistol yang tersimpan di pinggangnya. Sedangkan Arya buru-buru mengambil HP dari saku celananya, kemudian menekan tombol panggilan pada Daris Pratama.


"Dor."


"Dor."


"Dor."


"Hahaha... kalian ingin mencari pertolongan ya?." Platinum tertawa lepas setelah menembak Arya, Dani dan Bima yang sekarang sudah jatuh ketanah.


"Argh..." Dani mengerang kesakitan. "bedebah denganmu." Kata dani yang sudah tersungkur di tembus peluru. Dia sangat geram dan mencoba untuk bangkit kembali, begitu juga dengan Bima. Ingin membalas tembakan.


"Dor."


"Dor."


"Dor."


"Dor."


Namun belum saja mereka sempat mengarahkan moncong pistol kearah Platinum, Tembakan beruntun menghujani mereka berdua.


Anak buah Platinum yang banyak telah menghujani peluru kearah kedua kaki, tangan, dan perut mereka. Dani dan Bima jatuh terkulai tak berdaya.


"Argh..." Dani kembali mengerang kemudian berkata ; "maafkan kami Tuan, atas ketidakberdayaan kami melindungi Tuan." Kata Dani menoleh Arya di sampingnya, yang juga tergeletak di tanah. Sedangkan Bima. dia langsung mati, ketika mendapat hujan peluru.


"Tidak apa-apa." Kata Arya tersenyum, sambil mengeluarkan darah dari mulutnya akibat tembakan di dadanya.


Dia juga mengeluarkan air mata dari sudut matanya. 'Istriku, cepatlah pergi.'


Gumam Arya ketika mengingat istri tercintanya masih di dalam rumah.


"Terimakasih." Balas Dani tersenyum pada Arya. Darah telah membasahi seluruh pakaiannya, dia hanya bisa menggerakkan kepalanya, setelah kaki dan tangannya lumpuh terkena tembakan.


"Hahaha... . Kasian kalian." Seru Platinum mengejek sambil berjalan kearah Arya, Dani, dan Bima yang sudah mati. "Inikah penguasa kota M, yang di takuti?." Platinum menginjak kepala Dani yang masih hidup, walau sudah tak berdaya. Tubuh dani bergetar menahan sakit. Sedangkan Arya menatap nanar Platinum, sambil berkata ; "Kau akan mendapat balasan yang lebih kejam dari ini."


"Benarkah?." Platinum menoleh Arya.


"Hahaha... . Kepung rumah ini." Kemudian dia memijak keras kepala Dani, tubuh itu bergetar hebat sebelum mati.

__ADS_1


Dengan cepat anak buah Platinum menyebar, kesegala penjuru rumah. Sesekali terdengar suara tembakan, antara anak buah Platinum dan Arya yang masih tersisa.


Sementara di dalam rumah anak-anak kecil sedang di tenangkan para Art karena menangis ketakutan, termasuk Dea, adik Libra yang melihat ayahnya telah tertembak dari jendela. Naira sendiri sedang menangis sambil mengirim pesan pada Libra, Leo dan Arumi setelah berkali-kali tidak mengangkat telepon nya. 'Oh Tuhan... kemana kalian. Cepatlah pulang.' Gumam Naira dalam hati pada anak-anaknya. Tapi sebelumnya, dia sudah menghubungi mertuanya, yaitu Daris Pratama.


"Naira, apa di rumah ini ada menyimpan senjata api?." tanya Sherina yang terlihat cemas.


"Ada." Balas Naira menoleh Sherina. Kemudian dia berjalan cepat menyusuri lorong tempat penyimpanan senjata, di ikuti para wanita lainnya.


"kreek." Naira membuka pintu ruangan tempat menyimpan senjata, kemudian masuk kedalam di ikuti lainnya.


"Pilih mana yang kalian suka." ucapnya setelah mengambil senjata untuknya.


Bergegas Sherina memilih senjatanya di ikuti yang lain, kemudian dia


berkata ; " Suami-suami kita belum sampai, jadi kita harus berjuang sendiri untuk bertahan."


" Segera bawa anak-anak ke ruang bawah tanah." Perintah Naira pada Art, setelah kembali ketempat semula. "Kau juga Dea, pergilah bersama mereka." Ucapnya lembut pada anaknya yang menangis sesenggukan. "Di mana, bang Libra bu?." tanya Dea seperti mengharapkan kedatangan Libra.


Naira menunduk membelai rambut anaknya, memberikan ketenangan dengan tatapan dan kata-katanya.


"Abang mu pasti akan datang, untuk sementara pergilah bersembunyi dulu di ruang bawah tanah bersama mereka."


Di luar, Platinum telah beralih menyiksa Arya setelah Dani mati, Dia menginjak dada Arya yang telah terluka sambil menerima telepon dari bawahannya.


📞 "Katakan." Platinum.


📞" Tuan... . Kami telah membakar rumah ini, tapi sepertinya orang-orang yang kita cari tidak ada di dalamnya." Tirex.


Platinum menyeringai menatap ke dalam rumah, dahinya berkerut memikirkan sesuatu.


📞"Kalau begitu kemarilah." Kata Platinum, sambil matanya tetap menatap kedalam rumah. "Bagaimana dengan Gentu dan Leony?."


📞"Sepertinya mereka juga tidak mendapati orang yang di cari." Tirex.


📞"Hehe... . Segeralah bawa mereka kesini, Sepertinya orang yang di cari berkumpul di rumah ini." Setelah itu, Platinum memutuskan sambungan teleponnya. Beralih menatap wajah Arya, yang merah menahan sakit di injak, sesekali kedengaran olehnya erang kesakitan dari mulut Arya.


"Hehehe... . Sakit ya?." Platinum menyeringai puas, melihat kesakitan Arya. Dia malah menekan kuat dada Arya dengan kakinya.


"Dor"

__ADS_1


"Dor"


"Dor"


Anak buah Platinum berbalas tembakan dengan penghuni di dalam rumah, mereka juga menembaki pintu dan jendela agar terbuka untuk masuk kedalam. Sedangkan anak buah Arya. Mereka semua sudah mati di tangan anak buah Platinum.


Tidak lama setelah itu. Ratusan mobil telah memasuki halaman rumah yang luas, mereka adalah, Tirex, Gentu, dan Leony bersama anak buahnya.


"Tuan." Sapa ,Tirex, Gentu, dan Leony menunduk kepala.


"Masuk dan tawan semua orang yang ada di rumah itu, orang yang tadi kalian cari juga pasti ada di dalam." kata Platinum.


"Baik tuan." Ucap serentak ketiga orang itu.


Tirex merentang tangan pada anak buahnya, sebagai tanda dia meminta senjata. Kemudian seorang anak buah menggendong mesin gan memberikan padanya. Setelah itu.


"Ded ded ded ded."


Letusan keras dari peluru yang menerjang, menghancurkan pintu dan apa saja di depannya.


"Cepat berlindung." Kata Naira yang menyadari tembakan itu memiliki daya penghancur kuat. Segera mereka berlindung di balik dinding sambil ber tiarap untuk menghindari tembakan.


Sementara Arya yang masih di injak dadanya menatap sedih keluarganya yang berada di dalam rumah, air matanya mengalir deras meski sedikitpun tiada kedengaran isak tangis dari mulutnya. 'Kapan pertolongan datang ? ' Gumamnya sedih di dalam hati.


"Wilyam." seru Platinum.


"Ia, Tuan."


"Ikat dia." Platinum memerintahkan Wilyam, agar mengikat Arya.


"Baik tuan." Wilyam menoleh Arya yang sudah di tinggalkan Platinum, yang berjalan kearah dalam rumah di ikuti ratusan anak buahnya.


"orang ini sudah sangat lemah, berdiripun aku rasa dia sudah tidak mampu, untuk apa mengikatnya.


tapi sudahlah, daripada nanti dia marah padaku." kata Wilyam di hati.


Di tempat lain rombongan Daris Pratama, Lazio dan Geri Aleksander memecut kendaraannya dengan kencang untuk kembali ke Mutiara. setelah Daris Pratama mendapat panggilan telepon yang tidak jelas dari Arya. Dan akhirnya dia kembali mendapat panggilan dari Naira, barulah dia paham dan segera putar balik dengan tergesa-gesa .


Begitu juga dengan Geri dan Lazio. Mereka patah balik setelah mendapatkan telepon dari istri-istrinya. Sekarang mereka dalam keadaan sangat cemas menuju kediaman keluarga Daris Pratama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2