Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Serangan Platinum kemutiara 4


__ADS_3

"Sial, rupanya mereka menjebak ku." gumam Daris Pratama kesal. Tadinya dia sangka perusahaan saja yang di serang. Hingga membawa semua kekuatan, meninggalkan sedikit saja di rumahnya.


"Cepat turun dari mobil kalian, siapkan senjata selamatkan keluarga ku."


bentak Daris Pratama.


"Ded det det."


"Ded det det."


"Dor."


"Dor."


"Dor."


Saling tembak antara kelompok RTB dan kartel narkotik, meramaikan lokasi rumah Daris Pratama. Suara keras dari letusan peluru rifle dah pistol menggema di angkasa.


"Berikan senjata itu padaku. Cepat." pekik Hiro pada anak buahnya.


"Dum."


"Dum."


"Duar"


"Duar."


Hiro yang baru saja datang bersama Yakuza, dan ratusan anak buah, menembakkan bazoka kearah anak buah Platinum yang berada di luar, menyebabkan suara ledakan keras mengejutkan orang yang ada dalam rumah.


"Tuan... . Nampaknya mereka sudah kembali." Tirex mengingat kan.


"Sial, padahal aku baru saja mau bersenang-senang, tapi mereka sudah datang" Platinum kesal.


"Mereka datang cukup banyak, Tuan." Wilyam, mengintip dari balik jendela.


" Tidak masalah. Sepertinya sepuluh wanita ini akan sangat berguna, aku yakin wanita-wanita ini istri para pemimpin mereka. Jadi, bukankah mereka sangat berharga?." timpal Tirex..


"Hehe, benar juga katamu." Platinum tersenyum licik. "Ikat mereka, pasangkan peledak di tubuhnya."


" Jangan. Lepaskan. Lepaskan." Teriak


Naira, ketakutan. Dia sekarang sangat lemah, kehabisan tenaga karena terus memberontak.


"bagaimana dengan dua gadis ini?." Tunjuk anak buahnya pada Gentu dan Leony.


"Bunuh saja, mereka berani melawanku." titah Platinum. Tapi belum saja mereka sempat melakukan apa-apa.


"Duar."


"Duar."


"Bum."


"Srekk... ."


Suara keras terdengar dari atas bersamaan jatuhnya reruntuhan genting dan hancurnya lantai dua yang membentuk lubang akibat di tabrak, Libra.


Dia turun di antara meja Ibunya dan Gentu yang bersampingan dengan Leony. Menebas leher orang-orang yang menahan tubuh ketiga wanita itu, hingga mereka terbakar api yang berwarna hitam. Kedua sayapnya yang lebar terbuka, melindungi Ibunya, Gentu dan Leony agar tidak tertimpa reruntuhan.


"Libra... . " Ucap Naira, setelah Libra mengatupkan sayapnya. Dia langsung duduk dan terlihat bahagia melihat anaknya. Namun sesaat kemudian dia kembali jatuh terlentang menutup matanya.


Sedangkan Gentu dan Leony masih terlentang di atas meja kelelahan dan kehilangan banyak tenaga, menatap takjub dan heran kearah Libra. Namun sesaat kemudian merekapun pingsan.


Begitu juga dengan Platinum dan orang-orangnya, mereka tak kalah herannya menatap Libra. Namun dia cepat tersadar.

__ADS_1


"Tembak dia." teriak Platinum panjang.


Dalam beberapa saat. Platinum dan orang-orangnya mengangkat rifle, shotgun dan pistol yang akan memuntahkan peluru.


Dengan cepat, Libra meraih tubuh ibunya, dan kedua gadis di dekatnya, lalu melindungi mereka dengan kedua sayapnya dari hujan peluru, rifle, shotgun dan pistol.


"Det.Det.Det."


"Dor.Dor."


"Dor."


"Dor."


"Dor."


"Sial... ." Dia punya kekuatan yang hebat, Gunakan serum kalian." Perintah Platinum pada Tirex dan Wilyam, setelah melihat kemampuan luar biasa Libra.


Ketiga orang itu menusuk dua jarum suntik sekaligus ke jantungnya, dalam beberapa saat kemudian tubuh mereka


berubah membesar menjadi monster.


Pakaian yang mereka pakai terkoyak, menampakkan otot-otot yang menyembul keluar. Kuku-kuku panjang keluar dari ujung jari, membuat orang-orang di dalam ketakutan dan ngeri melihatnya. Kemudian tiga orang itu menyerang Libra dengan ganas.


"Wush... .'


" Bam."


"Bam."


Libra yang memegang tiga wanita kesulitan untuk menghadapi musuh-musuhnya, dia hanya bisa menghindar terbang kesana kemari sambil sesekali membalas dengan kakinya. Sebelah tangannya digunakan untuk memeluk tubuh dua orang gadis , dan sebelah lagi memeluk tubuh ibunya. Sementara masih ada


sembilan wanita lagi, yang perlu


pertolongannya. ' Sial... . Aku harus segera mengamankan ibu dan dua gadis ini dulu.' gumamnya.


Tanpa menghiraukan peluru yang berseliweran, mereka berlari menerobos kedalam rumah sambil menembaki musuh, di ikuti Daris Pratama bersama anak dan menantunya dan juga adik-adik jeri yang berlari paling belakang.


"Wush... ."


Libra membawa terbang ,Naira,Gentu dan Leony, Lewat lubang yang terbentuk. Sejurus Geri, Lazio dan Daris Pratama berserta yang lainnya masuk kedalam rumah menembaki anak buah Platinum.


"Dor."


"Dor."


"Dor."


Saat itu.


Platinum, Tirex, dan Wilyam, masih mendongak kesal melihat Libra yang terbang ke atas, sejurus Geri, Lazio, Daris Pratama dan yang lainnya menembaki anak buahnya.


"Hehe... . Tuan, sekarang datang lagi lawan yang baru." Seru Tirex menyeringai, menatap orang-orang yang datang menembaki anak buahnya.


"Bunuh mereka semua." kata Platinum mengalihkan pandangannya pada orang-orang itu.


"Sayang." Teriak Sherina berlari kearah Lazio.


Lazio masih sempat menoleh sebelum tubuh istrinya itu di sambar oleh Tirex, yang langsung mencabik-cabik tubuh istrinya dengan kuku yang tajam. Sehingga membuat tubuh istrinya itu terpotong-potong.


"Tida__________k." Lazio berteriak histeris, sejurus tubuhnya yang ikut


berubah yang juga seperti monster menyerang, Tirex.


"whush"

__ADS_1


"Whush."


"Whush."


"Sreg."


"Sreg."


Pertarungan cepat tidak seimbang, dari keempat monster itu membuat Lazio mati. Dia mendapat luka yang cukup parah pada tubuhnya akibat kuku-kuku tajam, Platinum, Tirex, dan Wilyam.


"Mati kau." Seru Platinum puas dan beringas. Lalu menoleh, menatap tajam


Daris Pratama dan yang Lainnya. "Bunuh mereka semua." seru Platinum.


"Temba___k." teriak Daris Pratama.


"Dor."


"Dor."


"Dor."


"Det det det det."


Pergerakan tiga monster yang begitu cepat, membuat Daris Pratama dan orang-orangnya kesulitan menembaknya dengan tepat.


"Whush."


"Whush."


"Sreg."


"Sreg."


"Sreg."


Dengan pergerakan yang sangat


cepat. Platinum, Tirex dan Wilyam, mencabik-cabik semua orang yang ada di dalam menjadi terpotong-potong. Tidak ada satupun dari mereka yang berhasil selamat.


"Hehehe, mati kalian semua." kata Platinum. Dia menyeringai puas mengangkat kuku-kukunya yang penuh


dengan darah. "Ayo pergi, tinggalkan tempat ini."


Dia pergi dengan cara melompat dari lubang yang di buat Libra, di ikuti Tirex dan Wilyam.


Dari atas, Libra melihat kebawah. Matanya tertuju pada Hiro yang sedang melakukan pertolongan dengan memompa jantung seseorang yang tak lain adalah Arya, ayahnya. Segera dia kembali terbang kebawah dan turun di samping Hiro.


Hiro menoleh. Dia terkejut melihat rupa Libra, sebelum kembali normal dan sesaat sebelum dia memasukkan sayap kedalam tubuhnya. Namun dia cepat tersadar, dan kemudian


berkata ; "Maaf Libra, aku tidak bisa menyelamatkan ayahmu."


Libra tertegun sebentar, lalu berjongkok meletakkan ibunya dan dua gadis ketanah dengan pelan. Kemudian mendekati Arya untuk melihat detak jantung ayahnya. ' Benar... . Ayahku sudah mati, Lalu bagaimana ini... . Ibuku nanti, pasti sangat sedih.' gumamnya di hati. ' Bajingan Tiger Wolf, berani sekali kalian menyakiti ibuku. Aku akan membunuh kalian semua.'


Wajah Libra kembali berubah, matanya merah menyala, rambut tegak berdiri.


Sayap kembali muncul di balik tubuhnya.


Dia terbang cepat masuk kedalam rumah lewat pintu depan sejurus Platinum dan dua bawahannya pergi meninggalkan tempat itu.


Alangkah terkejutnya dia saat mendapati tidak ada satupun manusia yang masih hidup di dalam rumah


itu. Mereka semua mati dengan cara yang mengenaskan, tapi dia juga tidak melihat tiga monster yang tadi sempat di lihatnya. ' Tiget Wolf, aku akan menghabisi kalian. ' gumamnya sangat marah.


Dia kembali terbang keluar kearah, Hiro. Dahinya berkerut melihat Hiro yang gugup menatapnya, sambil memegang lengan ibunya.

__ADS_1


"Lib Libra... . Ibumu sudah mati."


Bersambung.


__ADS_2