
'Anak muda itu luar biasa.' pria paruh baya itu bergumam menatap kepergian Hiu, kemudian dia berkata pada istrinya.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum terjadi lagi masalah." Ucap pria paruh baya itu berjalan mendekati istrinya yang masih terduduk di tanah, kemudian memapahnya kedalam mobil melewati mayat-mayat yang bergelimpangan.
"Siapa tadi pemuda itu ya?, aku lupa bertanya namanya. Walaupun dia sadis, tapi berkat dia kita selamat dari kejahatan Gasio yang ingin mengambil alih perusahaan kita. Aku tidak menyangka dia akan berbuat begitu."
"Entahlah, aku juga tidak tau." Jawab wanita di sebelahnya menoleh suaminya yang mulai menjalankan mobilnya.
Mereka berdua suami istri yang tak lain adalah Aslan dan Juwita, pemilik perusahaan perhotelan yang terkenal di negara M, termasuklah hotel H2O. Sedangkan Gasio adalah rekan bisnis Aslan, dia memiliki 30% saham di perusahaannya.
"Sekarang kau harus berhati-hati dengan Gasio, sepertinya dia ingin menguasai perusahaan kita." ucap Juwita cemas.
"Benar... . Sekarang aku harus sangat berhati-hati padanya." balas Aslan."Oya, hari ini ada tamu yang kaya raya datang dari negara X ke hotel H2O. Mereka menginap di kamar termahal dan meminta hotel untuk menyiapkan tujuh mobil mewah
yang akan mereka gunakan selama berada di negara ini, dan mereka sudah membayar mahal untuk semua itu." sambung Aslan senang.
__ADS_1
" Benarkah?." Juwita.
"Ya." balas Aslan mengangguk Kepala.
Sementara itu di tempat lain, Rombongan Argi baru saja memasuki hotel H2O. Dia datang bersama semua teman Salsa dan sepuluh orang anak buahnya, mereka di sambut ramah oleh manajer hotel H2O secara langsung.
Sebelumnya, Argi telah menyiapkan segala sesuatunya langsung kepada manajer hotel itu. Sebagai seorang bos mafia yang berpengaruh dan pengusaha yang kaya raya,
hal seperti itu sangat mudah untuk di lakukan olehnya.
"Terima kasih atas sambutan nya." balas Argi tersenyum menatap sang manajer.
"perkenalkan. Saya adalah Mardi, selaku manajer di hotel ini. Apakah Tuan yang bernama Argi?." Tanya Mardi memastikan, walau sebelumnya dia sudah pernah melihat
wajah Argi, saat bernegosiasi dengannya lewat internet.
__ADS_1
"Benar." balas Argi yang berdiri paling depan.
"Mari Tuan. Kami akan mengantar Tuan-Tuan dan Nona-Nona ke kamar masing-masing." ucap Mardi dengan sopan kepada rombongan Argi.
"Apa kita akan tinggal di kamar masing-masing?." Pekik Zalia, dia pikir akan lebih enak kalau tinggal satu kamar dengan Arumi, Salsa atau siapapun teman wanitanya.
"Benar Nona, Tuan Argi sudah memesan satu kamar untuk setiap satu orang. Tapi bisa saja nona tinggal dengan teman Nona yang lainnya untuk tidur kalau Nona mau, karena setiap kamar yang tuan Argi pesan memiliki tempat tidur yang super jumbo." balas Mardi tersenyum ramah sambil berjalan paling depan.
Setelah di dalam kamar mereka masing-masing. Salsa yang hatinya terasa sepi duduk di dekat
kaca jendela menatap kebawah, melihat indahnya kota KL dari ketinggian puluhan meter dari permukaan tanah. Cahaya dari lampu-lampu jalan dan gedung-gedung tinggi di tambah lampu mobil yang terlihat berkelap-kelip menambah indahnya suasana di kota itu, dia berada di tingkat 28 dalam bangunan pencakar langit itu.
"Libra... . Apa kau benar-benar mati?.
Bersambung
__ADS_1