Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Air terjun 3


__ADS_3

Salsa, Karasuka dan Jeri turut menghentikan mobilnya di belakang. Libra sendiri keluar dari dalam mobil setelah melihat sekumpulan orang itu terlihat marah, menarik baju dengan kasar pengemudi di depannya.


Libra berjalan mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi. Leo, Salsa, Karasuka dan semua rekan ikut keluar berjalan di belakangnya.


" Apa-apaan ini. Sebagai penduduk sekitar, seharusnya kalian senang tempat ini di datangi orang, bukanya malah meminta pungutan yang tidak jelas. Lagi pula, tempat ini wisata alam jadi kalian tidak bisa meminta uang begitu saja pada kami. Kalau mau uang, ya kalian melakukan kegiatan dekat air terjun itu.


Misalnya berjualan, atau menjaga kendaraan. Tata tempat itu agar terlihat rapi dan bersih, dengan begitu orang akan semakin banyak datang dan kalian akan mendapat banyak keuntungan dengan berjualan dan menjaga kenda___ ."


"Bugh."


"Argh."


Orang itu meninju dengan keras bibir si pengemudi yang terus berbicara, membuat bibirnya berdarah dan dia terjungkal kebelakang. "Mampus kau, banyak kali omong mu . "kata orang itu.


"Hei, apa yang kalian lakukan, kalian tidak boleh bertindak kasar seperti itu." teriak seorang wanita yang datang bersama si pengemudi. Dia buru-buru menolong lelaki yang terlentang di tanah menahan kesakitan.


"Bandal kali kau... Kau lagi !, mau ku tempeleng mulutmu itu." Kata si peninju dengan wajah garang pada si pengemudi , lalu mengalihkan pandangannya membentak wanita yang coba menolongnya membuat wanita itu jadi diam ketakutan.


Libra datang menghampiri; "Apa yang dikatakannya benar om, ini wisata alam." kata Libra tenang pada orang itu. Dan orang itu meliriknya sinis seraya berkata angkuh ; "Kami ingin uang keamanan untuk kawasan air terjun itu. Kalau tidak, silakan pergi."


" Maknanya kalau tidak bayar tidak aman ya om." ejek Libra. Orang itu sangat marah begitu juga Kawan-kawannya. "Kawasan air terjun ini di daerah kami. Jadi ya milik kami." kata orang itu melenting. "Tapi air terjun itu yang buat Tuhan, om. Hehe." sarkas Libra terkekeh.


"Kurang ajar, mentang-mentang kau anak orang kaya kau pikir aku tidak berani berbuat kasar padamu?. Sini kau biar ku gonikan." Orang itu terlihat sangat marah, matanya merah melotot rahangnya mengeras dia mengepalkan jari-jari tangannya berjalan kearah Libra di ikuti kawan-kawannya.


"Dor... ."


"Anjir anjir anjir. "


Tiba-tiba terdengar suara letusan mengejutkan orang-orang. Zalia meloncat saking kagetnya, wajahnya berubah pucat, kemudian meninju Kepala Jeri yang ada di samping setelah berteriak sebelumnya. "Kok gak bilang-bilang si kalau mau nembak, monyong!?." katanya kesal.


"Hehehe... ." Jeri hanya terkekeh melihat wajah Zalia yang berubah pucat sambil tetap menodongkan pistol kearah kepala orang itu, tadinya dia hanya menembak aspal tepat di bawah kakinya sehingga membuat batu terbang berserakan. Sedangkan orang itu sekarang sangat ketakutan melihat moncong pistol tertuju kearah kepalanya. "Sabar nak, sabar." Kata orang itu menggigil, sambil mengangkat tangan dan wajahnya yang pucat pasi.


"Kau pergi sekolah bawa pistol?." Libra menoleh Jeri.


"Hehehe... . Untuk jaga-jaga. Dalam situasi seperti ini contohnya." Balas Jeri terkekeh sambil matanya melirik Libra. Libra hanya menggeleng kepala.

__ADS_1


"Hei, kau... . Kami memang orang kaya, kalau aku menembak kepalamu, kami hanya kehilangan sedikit uang. Tapi kau mati." seru Jeri. "Sekarang tentukan, pilih ku tembak kepalamu atau pergi dari sini." katanya mengancam.


"Ba baik nak, aku akan pergi dari sini. Tolong turunkan sedikit pistol mu."


Kata orang itu tergagap, dia ngeri melihat moncong pistol yang mengarah kepalanya, kemudian pergi bersama orang-orangnya.


"Plok plok plok."


Setelah orang-orang itu pergi.


Karasuka tepuk tangan sambil tersenyum kekeh, begitu juga dengan yang lain. "Wah, gayamu terlihat seperti, James Bond kalau begitu. Memegang pistol menodong orang. Mantap-mantap." kata Karasuka tersenyum memuji Jeri.


Jeri tersenyum bangga dan berkata sembari orang masih terkekeh melihatnya. "Belum tau dia siapa kita, RTB di lawan." Membuat mereka semakin terkekeh melihatnya.


Setelah masalah selesai, akhirnya mereka semua sudah berada di air terjun.


"Wau indah sekali tempat ini, udaranya pun sangat sejuk." Salsa berlari sambil merentang tangan menghirup udara yang segar ditepian air terjun. "Airnya pun sangat jernih hingga memperlihatkan dasarnya. Aku ingin mandi." lanjutnya berteriak semangat.


" Tapi Kita tidak bawa pakaian ganti." kata Karasuka.


"Byur... ."


"wu______u."


Salsa langsung melompat setelah meletakkan tasnya di atas batu dan membuka sepatunya, dia berteriak senang sambil berenang-renang di air terjun.


Karasuka , Arumi dan yang lain saling berpandangan, berpikir antara mandi atau tidak. Sementara mereka juga ingin merasakan dinginnya air, hanya baju ganti saja yang jadi pokok permasalahan. Setelah berpikir.


"Sudah, tunggu apa lagi."


"Byur... ." Karasuka ikut melompat ke


air terjun setelah meletakkan tas dan sepatunya.


"Byur."

__ADS_1


"Byur."


"Byur."


Di ikuti Arumi, Zalia, Nania,


Nadia dan Nadira.


"Woi... tunggu apalagi." Teriak Salsa menatap Libra dan yang lainnya.


Sementara Libra dan yang lain saling berpandangan, melihat tujuh bidadari yang sekarang sedang berenang-renang di lokasi air terjun.


"Ayo ikut mandi." Kata Jeri melepas tas di bahu kemudian memasukkan pistol kedalamnya, lalu meletakkan di atas batu di antara tas Salsa dan yang lainnya.


Akhirnya mereka semua mandi di air terjun itu kecuali Libra, dia duduk nyantai di atas batu dekat barang-barang yang ditinggalkan rekannya. Dia terlihat sangat serius, bermain game ef ef kesukaannya.


"Hei sedang apa dia, kenapa dia tidak mau ikut mandi." kata Salsa pada Karasuka sambil menatap Libra yang masih duduk sendiri di atas. Karasuka hanya menggeleng kepala ikut melirik keatas. "Ah payah, ayo kita tarik saja dia." Kata Salsa menarik tangan Karasuka mengajaknya keatas.


"Sedang apa kau!?."


"Perang."


Balas Libra melirik suara yang sudah di kenalnya yang tak lain adalah Salsa. Sesaat setelah itu, matanya melotot menatap dua gadis cantik yang sedang berdiri di dekatnya. Baju mereka yang basah memperlihatkan kulit, dan bentuk tubuh mereka yang sempurna. Dan dia hanya bisa tercengang menatap keindahan dua gadis yang sekarang tersenyum di depan matanya.


"Hei, kenapa matamu." Tanya salah satu dari gadis itu, yang tak lain Karasuka. Sebenarnya dia tau kenapa Libra tercengang menatap mereka.


"Ayo ikut mandi, kenapa kau lebih suka menyendiri di sini?." Karasuka menggenggam erat tangan Libra dan menariknya dengan paksa, Salsa sendiri merampas handphone dari tangannya.


"Hei, tunggu." kata Libra cepat. "Apa lagi?." tanya Karasuka. "Sepatuku." Dia buru-buru melepas sepatunya dengan sebelah tangan di bantu oleh Salsa, sebelah lagi tangannya masih dalam genggaman karasuka. Setelah itu Karasuka dan Salsa menggeret dan mendorong Libra ke air terjun.


"Byur... ."


Pada saat mereka tengah bersuka ria di tempat ini. Ada sesuatu yang akan terjadi di tempat lain.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2