Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Bangkitnya kemarahan Salsa


__ADS_3

Cepat, Libra mendekap tubuh Ibunya dengan tubuhnya yang gemetar. Air matanya mulai mengalir seiring jantungnya yang berdetak sangat kencang.


"Tiger Wolf, aku pasti akan membalas mu. Akan membalas mu." Katanya lirih mengancam penuh dendam. Tapi masih terdengar jelas oleh Hiro.


' Tuhan... . Kau sama sekali tidak mendengar pintaku. Jadi jangan salahkan aku menjadikan dunia ini, Neraka.' gumamnya di hati menatap langit.


"Matilah bersama Ibuku___________u."


Teriakannya sangat keras menggema di udara, di ikuti gemuruh angin kencang yang menerbangkan debu. Melesat dengan cepat, terbang tinggi di angkasa menuju ke ibu kota.


Pada saat yang sama, empat Bugatti


masuk kedalam lokasi rumah Daris Pratama, yang di mana pertempuran di situ baru saja selesai.


Mereka melihat Hiro yang tertegun menatap ke langit, dan empat orang yang terbujur di hadapannya. Sedangkan Yakuza yang menyadari kedatangan mereka, dari dalam rumah dia berjalan untuk mendekat.


Arumi yang mengenali dua dari empat orang yang terbujur itu, berlari kencang sambil berteriak .


"momy________________y."


Di ikuti, Leo, Zalia, Karasuka dan semuanya kecuali Salsa. Dia berjalan lunglai, entah apa yang dipikirkannya.


"mommy, bangun lah mom, bangun lah,


hik hik hik. Jangan tinggalkan aku mom, bangunlah." Arumi menangis sejadi-jadinya memeluk erat tubuh ibunya. Begitu juga Leo, menangis memeluk erat tubuh ayahnya.


Sedangkan Zalia, Nadia dan Nadira terlihat cemas, menoleh kesana-kemari mencari sosok keluarganya. "Apakah kau melihat ayah dan ibuku?." Tanya Zalia cemas, pada sosok Yakuza yang sudah berjalan dekat dengan mereka.


Yakuza berhenti di hadapan mereka seraya menarik napasnya dalam untuk


bicara, dia berbicara sebaik mungkin dengan wajah yang kecewa ; "Maaf Nona, Ibu dan Ayah berserta keluarga anda sudah meninggal. Begitupun dengan Tuan Lazio dan Istrinya beserta keluarga Aleksander, mereka semua sudah mati."


"Apa?... . Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin." Zalia tersentak kaget. "Di mana mereka, di mana?."


"Sebaiknya anda tidak usah melihatnya Nona, begitu juga dengan kalian." Yakuza menatap yang lain, mengingat tubuh mereka sudah terpotong-potong.


"Di mana mereka!?." Teriak Zalia histeris dengan suara keras serak dan menangis, mencengkram tangan Yakuza. "Mereka... . Mereka di dalam Nona." Yakuza, tergagap menunjuk kedalam.


Mereka semua berlari kedalam rumah, kecuali Salsabila dan Karasuka, yang masih berdiri mematung di dekat Arumi dan Leo.


"Siapa mereka?." tanya Karasuka.


Matanya tertuju pada dua gadis yang masih terbujur pingsan.


"Tidak tau, Libra yang membawanya kemari bersama, Ibunya." balas Hiro.


Dahi Karasuka berkerut menatap Hiro.

__ADS_1


"Kemana dia sekarang?."


"Mungkin pergi ke ibukota mencari, Tiger Wolf."


Mendadak jantung Salsabila berdegup kencang mendengar apa yang di katakan Hiro, wajahnya terlihat kusam dan cemas. ' Libra, bukan ayahku yang membunuh keluarga mu.' gumamnya di hati.


"Apakah kelompok mafia Tiger Wolf yang melakukan pembantaian ini?." tanya Karasuka pada Hiro.


"Ya ... . Mungkin, maksudku. Sebab aku dengar, tadi Libra mengatakannya." balas Hiro.


"Tidak... . Bukan mereka yang melakukannya." bantah Salsabila.


Hiro, Yakuza dan Karasuka, menatap heran Salsabila.


"Dari mana kau Tau?. tanya Karasuka penasaran.


" Sebab aku... . Aku... . Aku anaknya. Aku anak Arendra Wijaya." katanya lirih.


"Duar."


Jantung Arumi dan Leo berdegup kencang mendengar apa yang di katakan Salsabila, Saat itu juga darah mendidih di tubuh mereka. Sedangkan Salsabila, ketakutan. Dia takut mereka tidak percaya padanya.


"Bajingan... . Rupanya kau anak dari pembunuh, ayah dan ibuku." teriak Arumi geram.


"Bukan, bukan ayahku yang melakukannya." Teriak Salsabila histeris, dia coba meyakinkan Arumi dan yang lainnya.


"Whush."


"Bugh."


"Bugh."


Sedangkan,Salsabila, dia tidak sempat


menghindar dari serangan mendadak itu, hingga dada dan wajahnya mendapat pukulan keras. Tubuhnya terpelanting dan jatuh terseret kebelakang di atas tanah, menyebabkan luka gores di kulit dan darah mengalir dari bibirnya yang tipis dan indah.


"Percayalah padaku, bukan ayahku yang melakukannya." Kata Salsabila memelas, sambil beranjak berdiri. Dia masih coba meyakinkan sahabatnya.


Tapi Arumi tidak mau mendengarnya, dia terus menyerang Salsa yang secara garis besar hanya menghindar dan bertahan.


Pada saat itu orang-orang yang berada di dalam rumah telah kembali keluar, dalam keadaan yang sangat marah.


Sesekali masih terdengar isak tangis dari mulut mereka, setelah mendapati tubuh dari orang yang di sayang sudah mati dengan tubuh yang tidak utuh lagi.


"Dialah anak, dari pembunuh orang tua kita." Teriak Leo kepada Zalia dan lainnya, menunjuk Salsa.


Seketika darah mereka mendidih dan ikut membantu Arumi menyerang Salsa.

__ADS_1


"Bukan, bukan ayahku yang melakukannya." Teriak Salsa, masih meyakinkan sahabatnya. Tapi apalah arti ucapannya menghadapi orang-orang yang sedang berada dalam puncak kemarahan, mereka tidak sedikitpun mendengarnya.


Perlahan setitik air mata mulai mengalir dari sudut matanya yang indah, karena sahabatnya tidak mau mendengar.


Karasuka, masih berdiri terpaku memikirkan situasinya. Jika di pikir-pikir, memang Tiger Wolf lah yang ingin menguasai kota M. Jadi dia lebih cenderung menganggap, apa yang telah di katakan Leo memanglah


benar. Sedangkan Hiro dan Yakuza masih tetap berdiri di belakangnya, mereka tidak berani melakukan tindakan apapun tanpa perintahnya.


"Bab."


"Bub."


"Bab."


Salsa, berkali-kali jatuh tersungkur, bangkit dan jatuh lagi, karena pukulan dari tiga belas pemuda dan pemudi, yang menyerangnya secara bersamaan.


"Berhenti________i."


Teriak Salsa melengking, sambil beranjak berdiri. Dia menghapus dengan kasar setitik air mata yang masih tertinggal, di sudut matanya.


Kali ini wajahnya, terlihat sedikit garang. Bahkan dari sorot matanya yang tajam itu bisa di lihat, sedang memancarkan api kemarahan yang sangat dalam.


"Aku sudah katakan kalau bukan ayahku yang melakukannya, tapi kalian tidak percaya padaku dan terus saja menyerang dan memukulku.


Baiklah.


Sekarang, aku tidak akan lagi diam saat kalian menyerang ku. Aku juga akan menyerang, seperti kalian menyerang ku.


Ketahuilah, aku tidaklah selemah itu, sehingga kalian seenaknya bisa memukuli tubuhku. Sekarang kalian berhati-hatilah padaku, karena aku akan menyerang dan bisa melukai kalian."


Setelah itu, Salsa mengambil sesuatu dari dalam saku lalu menelannya. Dalam sesaat, aura di tubuhnya berubah drastis, luka-luka di tubuhnya menghilang. Wajahnya kembali cerah, dan tubuhnya bersinergi. Dia terlihat persis, seperti dewi kayangan.


"Bersiaplah, sekarang giliran aku yang akan bertindak."


Sesaat setelah itu, Salsa merangsek maju, menyerang orang yang paling depan yang tak lain adalah Leo.


"Whush."


"Bugh."


"Bugh."


"Argh."


Dengan pergerakan yang sangat cepat, Salsa berhasil meninju rahang dan dada Leo, yang menyebabkan Leo mengerang dan terpelanting kebelakang.


"Rasakan ini." Teriak Arumi sambil mengayunkan kakinya kearah Salsa. Tapi dengan mudah Salsa menangkap kakinya, dan langsung melemparnya jauh kebelakang.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, aku tidak lemah. Baiklah. Untuk menghemat waktuku, aku akan mengakhiri pertarungan ini dengan cepat."


Bersambung.


__ADS_2