Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Noda darah


__ADS_3

Salsa segera bergegas mengambil pakaiannya di dalam kamar, kemudian melanjutkan mengantar pakaian itu ke kamar Argi yang berada di lantai yang sama di hotel itu.


"Sejak kapan kakakku begitu ambil berat pada perempuan?. Apalagi membawanya hingga ke kamar. Aneh saja rasanya mengingat selama ini dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, selain aku dan ibu. Apa dia menyukai Anisa ya?. Mungkin gadis itu sangat cantik hingga kakakku menyukainya." gumam Salsa seraya melangkah ke kamar Argi.


Selama ini Argi tidak pernah dekat dengan wanita apalagi punya kekasih, itu di luar ekspektasinya. Selama ini hidupnya hanya di gunakan untuk mengumpulkan uang dan uang, melalui semua perusahaan yang keluarganya miliki, dan juga kelompok mafia Tiger Wolf yang sekarang dia pimpin. Walau Argi memiliki wajah tampan, tapi kalau terlalu dingin dan selalu menunjukkan wajah garang dan kasar. Wanita manapun akan takut padanya. Tapi entah kenapa kali ini dia begitu perhatian pada Anisa. Gadis cantik dari negara M. Yang baru saja dia kenal dua hari yang lalu.


"Tok."


"Tok."

__ADS_1


"Tok."


"Anisa... ini aku Salsa. Adik kak Argi. Aku mengantar pakaian untukmu. " ucap Salsa berdiri di depan pintu kamar Argi.


"Ia, sebentar." Balas Anisa di dalam kamar yang tersentak kaget. Membuyarkan semua lamunannya pada pemuda tampan yang belum lama keluar dari pintu itu. Dia segera beranjak dari atas tempat tidur melangkah kearah pintu lalu membukanya.


"Hai... . Boleh aku masuk?." ucap Salsa menatap Anisa seraya menelisik pakaiannya, kemudian menyerahkan pakaian padanya. 'Dia pakai jas kak Argi. Wau, ini hal yang luar biasa. Dia juga gadis yang sangat cantik rupanya. Pantas saja. ' batin Salsa.


"Hehehe, tidak usah gugup begitu Anisa. Kau tidak menumpang. Kami yang menumpang, orang hotel ini milik keluarga mu." balas Salsa terkekeh, seraya melangkah masuk menuju sofa panjang di ruangan itu. Salsa sengaja bicara begitu agar suasananya agak akrab dengan Anisa, dan Anisa tidak menjadi sungkan padanya.

__ADS_1


"Kalau itu sudah beda ceritanya, Sal." balas Anisa sembari tersenyum dan kembali menutup pintu.


"Ya sudah, sana tukar dulu pakaianmu. Maaf, aku pikir pakaian yang itu yang cocok untuk kau pakai. Mudah-mudahan pas di tubuhmu." ucap Salsa menatap Anisa.


"Aku pikir cocok kok. tubuh kita gak jauh beda." balas Anisa tersenyum. "Aku pinjam dulu pakaianmu ya?." ucapnya lagi sembari melangkah kekamar mandi untuk menukar pakaiannya.


Salsa hanya menganggukkan kepala menanggapi Anisa. Oya, mereka memang memiliki bentuk tubuh yang sama. Sama tinggi dan sama cantik. Ada satu orang lagi yang cantiknya setara dengan mereka, yaitu Karasuka.


Setelah beberapa waktu Anisa sudah selesai menukar pakaiannya. Dia keluar dari kamar mandi sambil menjinjing pakaiannya yang sudah kotor. Sekilas Salsa melihat noda darah di pakaian Anisa yang di jinjingnya. Salsa terkesiap setelah melihat noda darah itu mengingat pasti ada luka di tubuh Anisa. Tapi dia melihat kalau Anisa seperti orang yang tidak terkesan terluka, jadi darah siapa itu? dan kalaupun Anisa terluka. Bagian mana dari tubuhnya yang terluka?. Pikir hatinya.

__ADS_1


"Anisa. Darah siapa yang ada di pakaianmu itu?. Apakah tubuhmu sekarang sedang terluka, An?." tanya Salsa penasaran.


__ADS_2