
Syahril langsung melangkah kearah pemuda yang sedang berdiri petentengan memanggilnya, mengangkat sebelah tangan ke pinggang dan sebelah lagi menepuk-nepuk pahanya. Dengan menggunakan kaos oblong bergambar elang di padukan jins abu-abu koyak di lutut gayanya persis dialah orang yang paling kaya sejagat raya.
Sementara itu di meja sebelah. Anisa tampak meraih sepiring bruschetta, makanan yang berasal dari Italia lalu meletakkan di depan Argi sambil menatapnya dengan senyuman. Untuknya sendiri dia meraih sepiring quiche, sebuah makanan pembuka yang berasal dari Perancis. Dia dan semua rekannya mulai menikmati makanan pembuka di antara makanan lezat yang sudah terhidang di atas meja.
Sebagai anak pemilik restoran, Anisa memerintahkan pengelola untuk menyediakan berbagai menu makanan dan minuman mewah dari seluruh dunia.
Bahkan Anisa meminta pengelola untuk menyediakan Fugu dan bakso beranak yang ukurannya hampir segede bola sepak demi menyenangkan mereka semua. Sebab dia tau seorang dari mereka berasal dari Jepang, dan yang lainnya berasal dari negeri seberang yang konon nya orang-orang di sana sangat menyukai makanan kenyal yang berbentuk bola golf.
"Sudah puas kan Zalia? Sekarang kau habiskan semua makanan ini sekuat mu. Kalau nanti masih kurang, aku akan meminta mereka untuk menyediakan lagi untukmu"
" Memang, pun. Aku memang sudah kelaparan sejak tadi. Tenagaku sudah habis tergerus kelamaan menunggu kalian di sini. Kalian sudah terlambat lebih dari setengah jam, tau? " balas Zalia menatap Anisa yang tersenyum geli menatapnya.
"Plak"
"Jangan sentuh, itu milikku!" ucap Zalia menepuk tangan Leo yang mau meraih pasta dan pizza lalu menggeser dua piring berukuran jumbo itu ke dekatnya.
"Plak"
"Yang itu juga punyaku" Zalia mengulur tangan mendekatkan bakso yang hampir saja di raih Leo.
"Memangnya kau bisa menghabiskan semua itu?" ucap Leo di sela rasa kaget menatap tubuh kecil di sebelahnya setelah dua kali dia menghalangi apa yang ingin di ambilnya.
"Bisa! Aku sudah kelaparan, jangan ganggu aku. Nanti kau yang ku makan " ucap Zalia mulai memasukkan sepotong pasta ke mulut dengan sebelah tangannya, dan sebelah lagi dia gunakan untuk mengungkung wadah makanan di hadapannya seperti bocah yang takut miliknya akan di ambil orang.
__ADS_1
Leo hanya geleng-geleng kepala melihat sepupunya itu sambil tersenyum jengah keheranan. Bagaimana mungkin tubuh sekecil itu dapat menghabiskan satu gerobak makanan sekali makan? Pikir hatinya.
Begitu juga rekannya yang lain tersenyum geli melihat Zalia yang bertubuh kecil tapi punya selera makan yang kuat. Untung saja gadis itu golongan kaya raya yang jelas memiliki uang banyak. Kalau tidak, habislah calon suaminya kelak.
"Buset!! Gua makan apa?? Ini apa gak salah nulis!?
Teriakan keras dari pemuda di sebrang meja melihat bill RM 30.000 membuatnya terkejut batin, mengagetkan orang-orang dalam ruangan. Leo, Rubi, bahkan Argi dan Libra ikut tersentak karenanya, malah Arumi sampai terlompat katak begitupun Zalia yang terbatuk-batuk akibat tersedak bakso beranak yang baru saja ingin di telannya.
"Hei bedebah, sialan, anak setan, bajingan. Apa yang kau lakukan? Dasar norak, gak mutu, kampungan, banyak utang, miskin, gak punya otak. Kenapa kau masuk sini kalau gak punya uang? Dasar gila!"
Maki Zalia bertubi-tubi saking geramnya sembari berdiri bertolak pinggang menghadap pemuda gesrek yang akut dari sononya yang tak lain bernama Maco.
Dia yang tengah asik menikmati makanan dengan tenang dan penuh penghayatan. Tiba-tiba di kejutkan olehnya, dah la suaranya cempreng bak letusan roda Truk di pinggir jalan. Siapa yang tidak kesetanan coba? Kucing aja ngamuk kalau di kagetin, apalagi dia.
Terlihat lah lembaran uang kertas berwarna merah hijau dan biru bahkan benggolan berserak di atas meja. Tampaknya pemuda itu mengeluarkan semua uangnya tanpa tersisa untuk membayar bill tagihan dari makanan yang mereka pesan.
Zalia yang melihatnya tersenyum mencibir sembari mengucapkan kata-kata pedas, mengejek pemuda yang sok kaya tapi kere walau terlihat ksatria dan pemberani. "Sekali lagi jangan masuk ke restoran ini ya anak setan?"
Ucapannya yang penuh penekanan membuat wajah Maco merah padam menahan marah, begitu pun tiga temanya yang bernama Rian Dutar dan Seno. Mungkin mereka tak terima dengan kata-katanya.
"Berhentilah bicara Nona, kami sudah membayarnya dan akan segera pergi dari sini" ucap Rian tenang menatap Zalia walau hatinya terluka.
"Memangnya kenapa kalau dia tidak mau berhenti bicara? Balas Leo tak suka sepupunya di katai, apalagi dia memang di kenal bersifat tempramen yang mudah sekali tersulut emosi.
__ADS_1
" Maka aku akan menutup mulutnya " balas Dutar. Pemuda yang berdiri di sebelah Rian.
"Brak"
"Berani kau melakukanya? " Leo langsung marah menepuk meja sembari berdiri lalu berjalan kearah Dutar kemudian menarik kerah bajunya.
"Kenapa tidak? " balas Dutar tak mau kalah menepis tangan leo dari lehernya sembari memberikan tatapan tajam kearahnya.
"Pergilah, sebelum kesabaran ku menghilang" ucap Libra yang tiba-tiba sudah berdiri bersama Argi di belakang Leo.
Dengan tatapan tajam setajam silet, seakan ucapannya tak ingin di endah kan agar lawannya segera pergi. Perlahan matanya berubah merah menandakan kalau dia sedang marah. Libra tak akan lagi membiarkan siapapun menyentuh RTB, terlebih lagi jika itu menyangkut saudaranya. Dia tidak akan segan-segan menjadi iblis demi melindungi mereka.
"Kami memang akan pergi. Jadi jangan menghalang jalan, sebelum pikiranku juga berubah lalu menguasai hatiku" balas Rian seringkas mungkin dengan tatapan seredup bulan.
Rian begitu tenang menghadapi tatapan membunuh dari Libra, tak tampak sedikitpun rasa gentar dan takut terlintas di wajahnya. Ucapannya datar, tapi penuh makna. Bagai gunung dan lautan yang penuh misteri, ucapannya menyimpan sejuta ancaman.
Melihat keadaan mulai berubah memanas. Karasuka, Salsa, Anisa, Arumi, Rubi dan Jeri berdiri dari tempat duduknya, melangkah ke arah Libra Leo dan Argi untuk menghalang mereka dari berkelahi.
Sedangkan Zalia masih berdiri tidak bergeser dari tempatnya, sambil terus tertegun menatap seorang pemuda yang masih berdiri tenang walau sudah di ancam Libra. 'Apa sekarang Libra ketemu lawan?' batinnya.
"Sudah Ar, jangan berkelahi di sini" ucap Anisa sembari menarik tangan Argi kebelakang. Begitupun Arumi dan yang lainnya menarik Libra dan Leo, seraya menenangkan mereka dari emosi yang merasuk jiwanya.
Sementara itu manajer Syahril dengan di bantu para penjaga keamanan restoran, membawa 4 pemuda itu keluar untuk menghindari perkelahian yang bisa berakibat fatal bagi pengunjung maupun restoran itu sendiri.
__ADS_1
bersambung