Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Manusia berdarah dingin


__ADS_3

"Hei ada apa ini?." kata Hiu, setelah memarkir motornya di dekat dua mobil mewah di hadapannya.


Sontak lima orang berwajah seram, dan sepasang pasutri paruh baya itu menoleh ke arahnya.


Lima orang berwajah seram itu menatap remeh dan sinis kepada Hiu, kemudian berkata ; " Hei anak muda, ini bukan urusan mu... .Pergilah."


Hiu hanya mengangkat bahunya saja, namun tetap berdiri di situ. Kemudian dia menoleh kearah wanita paruh baya yang sedang terduduk di atas tanah, sepertinya dia telah di pukul oleh para penjahat itu, terdapat sedikit luka dan darah di sudut bibirnya.


Lalu Hiu kembali menoleh kearah orang-orang yang sedang menarik kasar kerah baju seorang pria paruh baya, dia sedang di paksa untuk menandatangani satu berkas yang ada di hadapannya.


"Tolong jangan pergi anak muda, mereka ini penjahat, bantu kami." Kata sang istri memelas kepada Hiu, Hiu kembali menoleh kearah wanita itu.


"Hahaha." Sontak kelima penjahat tertawa, melihat wanita paruh baya itu yang meminta pertolongan pada Hiu.


"Heh nyonya... . Apa kau pikir jika dia mau menolong, kalian bisa selamat jika belum menandatangani


surat pengalihan ini?. Lagi pula kau ini bodoh nyonya, meminta pertolongan pada bocah yang masih ingusan. Hehehe... . " kata seorang penjahat pada wanita paruh baya yang terduduk di atas tanah. kemudian mengalihkan lirik matanya kearah, Hiu.


"Cepat tandatangani berkas ini." bentak seorang dari lima penjahat itu sambil meletakkan dokumen di atas mobil.


"Siapa, siapa yang memerintah kalian?".Tanya pria paruh baya itu.


" Nanti kau juga akan tau, cepat tandatangani berkas ini."


"Bugh."


"Bugh." Lima penjahat itu kembali memukuli pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Hentikan."


Tiba-tiba Hiu kembali berkata sambil berjalan mendekati lima orang itu. Kelima orang itu spontan menoleh kearah Hiu.


"Heh bocah. Aku sudah menyuruhmu pergi, tapi nampaknya kau memang keras kepala." gerutu seorang dari lima penjahat itu sambil menodongkan pistolnya.


Tanpa basa basi Hiu langsung meraih pistol itu dan mematahkan tangannya. Hiu bergerak sangat cepat hingga tak sempat di hindari penjahat itu.


"Argh... . " Teriak penjahat itu kesakitan, tapi Hiu sama sekali tidak mempedulikan. Bahkan Hiu mematahkan sebelah lagi tangannya, kemudian dia menendang keras orang itu hinga tersungkur ke tanah. Sedangkan yang lainnya masih terkesiap melihat apa yang di lakukan Hiu kepada seorang temannya.


"Lepaskan dia, aku hitung sampai tiga." Ancam Hiu dengan menggunakan pistol yang barusan saja dia rampas.


"Satu."


"Dua."


"Dor."


"Aku hitung sampai tiga. Ambil pisau itu, tikam ketiga temanmu. Atau aku akan menembak kepalamu. " Ancam Hiu tanpa ekspresi apapun yang terlihat di wajahnya sambil menodong pistol kearah orang itu.


Orang itu bingung dan ketakutan, tubuhnya menggeletar. Baru kali ini dia menemui manusia yang membunuh tanpa mengedipkan mata juga tanpa ekspresi di wajahnya. Orang itu merunduk mengambil pisau yang tadi di lempar Hiu ke hadapannya. Namun tiba-tiba satu dari temanya lebih dulu menikam punggungnya dari arah belakang.


"Jleb."


"Argh." Erangnya kesakitan. Seketika orang itu jatuh ketanah mengejang sebelum meregang nyawa.


Hiu menatap satu dari tiga penjahat yang masih tersisa sambil, berkata ; "Aku tidak menyuruhmu menikamnya."

__ADS_1


"Dor."


Tanpa banyak berpikir, Hiu langsung menembak Kepala orang itu hingga membuatnya mati seketika. Ada lubang kecil di dahi, tetapi belakang kepalanya terdapat lubang besar yang menganga. Sekarang hanya tinggal dua orang penjahat yang masih tersisa, kemudian Hiu menoleh kearah dua orang itu.


"Ampun... . Ampun Nak. Jangan bunuh aku." seru kedua orang itu ketakutan.


"Katakan... . Siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini pada Tuan dan Nyonya itu." bentak Hiu sambil menodongkan pistolnya.


"Tu-Tu-Tuan Gasio." kata penjahat itu tergagap.


"Apa kalian sudah mendengar?." Kata Hiu, menoleh kearah sepasang pasutri yang nampak terkejut mendengar pengakuan penjahat itu.


"Dor."


"Dor."


Hiu kemudian menembak tepat di dada kedua penjahat yang masih tersisa, hingga tidak ada satupun dari lima penjahat itu yang masih hidup. Mereka semua mati, di tangan Hiu.


Kemudian Hiu berjalan pergi meninggalkan tempat itu sambil bersenandung ; " Tidak ada satupun penjahat di bumi ini yang boleh hidup."


Sepasang pasutri itu masih termangu sambil matanya terus menatap Hiu dengan berbagai perasaan dalam hatinya, hingga Hiu menghilang dari tatapan mata di ujung jalan dengan


menggunakan motornya.


'Manusia berdarah dingin. ' batin mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2