Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Bintang di atas langit


__ADS_3

Setelah jauh berlari, Tirex menghentikan langkahnya di depan sebuah bangunan yang tampak sepi dan kosong di hadapannya. Bangunan itu sebuah gedung yang di tinggalkan, dari sisa-sisa runtuhan pabrik yang sudah tidak lagi di pakai. Tirex menoleh, dia melihat sekeliling areal tempat itu yang sudah di tumbuhi rumput dan minim cahaya. Hanya beberapa lampu saja yang masih menyala, menerangi tempat itu yang terlihat kotor dan gelap.


Di rasanya aman, Tirex langsung melompat ke lantai dua gedung itu. Kemudian dia melangkahkan kakinya masuk, menyusuri cahaya yang terlihat di ujung lorong. Rupanya bias cahaya itu merupakan sinar lampu, dari sebuah ruangan yang dulunya menjadi kantor di pabrik itu. Masih bisa di lihat, sisa-sisa dari berkas dan buku yang menumpuk di atas meja.


Tirex membuang semua kertas itu, kemudian meletakkan tubuh Anisa di atasnya. Lama dia memandangi tubuh Anisa yang terkulai lemah tak berdaya, perlahan-lahan sesuatu mulai bergelora dalam hatinya. 'Gadis ini sangat cantik.' pikir hatinya.


"Mungkin tadi jariku terlalu kencang menekan lehernya, menyebabkan lehernya terluka dan pingsan.


Ah, tapi tetap saja dia gadis yang sangat cantik. Aku tetap bersemangat, walau tubuhnya berlumur darah. Hehe... .


Oh, mungkin dia takut melihat tubuhku yang sekarang ya?.


Pantas, saja.


Baiklah, aku akan mengubah tubuh ini ke asal. Dengan begitu, aku akan bisa menikmati tubuhmu.


Hehe... ."


Tirex tersenyum sendiri penuh napsu menatap tubuh Anisa, dia sangat bergairah, kemudian bersiap untuk mengubah tubuh ke bentuk aslinya.


Tapi pada saat yang sama. Argi tiba-tiba muncul, dari bawah lantai. Dia berdiri di sisi lain, di dekat meja.


Tirex yang menyadari, mengurungkan niatnya untuk merubah tubuh kebentuk aslinya. Dia mencoba untuk meraih tubuh Anisa, tapi dia kalah cepat dengan gerakan tangan Argi yang langsung meninju ke ulu hatinya.


"Bum."


"Krak."


"Duar."


"Duar."


"Duar."


Suara retak dari tulang yang patah di dada Tirex, bercampur dentuman keras tubuhnya yang menghantam dinding-dinding bangunan. Mendengung, dalam ruangan itu.

__ADS_1


Tirex terlempar jauh keluar bangunan, sementara Argi sudah melangkahkan kakinya berniat untuk menyusul. Tapi tiba-tiba saja dia teringat Anisa, yang sekilas tadi dia sempat melihat ada darah di lehernya. Oleh sebab itu, Argi lebih dulu mendahulukan untuk menolong Anisa. Dia mengurung kan niat untuk menyusul Tirex, yang sudah pasti sekarang dalam keadaan tubuhnya terluka parah.


Argi membalikkan badan, melangkah ke arah meja yang di mana tubuh Anisa terbaring di atasnya. Kemudian dia berdiri di salah satu sisi meja itu, memandangi paras cantik dengan wajah yang lembut, di hiasi bibir tipis dan rambut bergelombang. Sungguh, dia memiliki paras dan bentuk tubuh yang sempurna. Hanya saja, sekarang wajah itu terlihat sedikit pucat. Tatapan Argi begitu teduh, seteduh langit sore kearah tubuh itu. 'Cantik sekali.' batinnya.


Tanpa di perintah oleh akal, tangannya begitu saja meraih leher Anisa yang terluka dan berdarah. Dia terkejut pada dirinya sendiri, mengapa dia begitu ambil berat terhadap gadis itu. Setelah beberapa saat, akal dalam otaknya mulai merespon. 'Gadis ini harus segera ku tolong, jika tidak, dia bisa mati.' Perlahan Argi mulai membersihkan darah dan luka di leher Anisa. Lukanya lumayan parah. Sepertinya kuku-kuku itu menusuk dalam, kedalam lehernya. 'Aku harus menyalurkan kekuatanku, untuk menyelamatkan nyawanya.' batin Argi.


Argi mulai mengerahkan kekuatannya, perlahan cahaya hijau muncul di telapak tangan. Kemudian dia menyentuh leher Anisa yang terluka, sedikit demi sedikit luka itu menutup kembali seperti semula. 'syukurlah, lukanya sudah terobati.' gumam Argi.


Tubuh Anisa mulai merespon, energi yang di salurkan oleh Argi. Tangannya bergerak, keningnya berkerut. Beberapa saat setelah itu, dia membuka matanya. "Si... siapa kau." Ucap Anisa tergagap, dia menggeser tubuhnya dan berusaha duduk di atas meja. Suaranya masih terdengar begitu lemah, terkejut melihat Argi begitu dekat dengan wajahnya.


"Jangan takut. Aku baru saja menolong mu." Balas Argi mundur selangkah. "Aku ada di tempat itu, saat orang itu menculik mu. Jadi aku mengikutinya, untuk menolong mu di sini." sambungnya.


Anisa menyipitkan mata menatap Argi, dia mengingat-ingat kejadian saat itu. 'Benar... .Aku melihat pemuda ini.' batinnya. Kemudian dia berkata: "Tempat apakan ini?." Dia melihat ke kanan dan ke kiri, merasa tempat itu sangat sunyi gelap dan kotor. "Lalu kemana perginya mahluk itu?." sambungnya lagi.


"Ini adalah pabrik, tapi sudah tidak lagi di gunakan. Orang itu yang membawamu ke sini.


Tadi aku sudah memberinya pelajaran. Sekarang dia sudah pergi, melarikan diri." balas Argi.


"Oh, terima kasih." Ucap Anisa, sambil mengangkat tangan kearah leher.


Argi mengerti yang di pikirkan Anisa. Dia maju selangkah melepas jasnya, kemudian menutup pakaian Anisa yang sudah berlumur darah. "Aku akan membawa mu kembali." ujarnya.


"Akh."


Tanpa basa-basi, Argi langsung mengangkat tubuh Anisa dekat dengan dadanya. Anisa yang agak terkejut melenguh merasakan sakit pada tubuhnya, namun dia tetap diam dalam gendongan Argi dengan perasaan hati yang berdebar. Beberapa saat setelah itu cahaya hijau muncul kembali menyelimuti mereka berdua, dan saat itu juga tubuh mereka melesap kebawah lalu menghilang.


* * *


Sedangkan di tempat lain di sebuah pulau di tengah laut yang sedikit jauh dari keramaian kota KL, Tirex jalan terhuyung menuju gedung yang cukup besar di tengah pulau itu. Pulau itu milik kartel narkotik. Mereka menjadikan tempat itu sebagai markas, untuk menjalankan segala bentuk bisnis kejahatan di negara M.


Keadaan tubuh Tirex saat itu lumayan sekarat, dia banyak mengeluarkan darah dari mulut hingga mengalir ke dada saat beberapa orang datang menghampirinya.


"Tuan Tirex, apa yang sudah terjadi padamu?." ucap seseorang, kemudian buru-buru mereka datang untuk memapahnya.


"Cepat, bawa aku kedalam." balas Tirex.

__ADS_1


Segera orang-orang itu, membawanya masuk ke dalam. Dan dalam waktu yang singkat, seisi bangunan itu menjadi ricuh. Mereka datang untuk mengetahui, apa yang telah terjadi pada Tirex.


"Tuan... ." Ucap Tirex menyapa Platinum dan Wilyam yang datang ke arahnya.


"Apa yang terjadi padamu, kau terlihat berantakan." Ucap platinum sambil menusuk jarum suntik ke dada Tirex.


Saat itu juga wajah Tirex mulai menampakkan perubahan. Wajah yang tadinya pucat, sekarang kembali merah.


" Tuan... .Saya bertemu dengan orang, yang pernah bertarung dengan kita satu tahun yang lalu.


Tapi yang paling mengejutkan saya. Ada satu orang anak muda yang sangat kuat bersama mereka. Dialah yang membuat saya cedera separah ini." balas Tirex.


"Seperti apa, kekuatannya?." kata Platinum, ingin tau.


"Saya sempat melihat cahaya berwarna hijau, pada tubuhnya." balas Tirex.


" Atmaja... kekuatan itu miliknya. Dia pendiri kelompok mafia yang bernama, Wolf. Kelompok mafia itu, ada di negara X." ucap Wilyam.


Di antara mereka, hanya Wilyam yang sering datang ke negara X. Oleh sebab itu, sedikit banyaknya dia mengetahui orang-orang hebat yang ada di sana.


Sebelumnya dia selalu di beri tugas oleh Diamond, untuk melakukan kerjasama dengan kelompok Tiger Wolf yang di pimpin Arendra Wijaya. Tapi setelah kejadian pembantaian yang mereka lakukan pada keluarga Pratama di kota M, dia tidak pernah lagi datang ke negara X. Dan karena sebab itu juga, kelompok kartel narkotik milik Diamond memindahkan bisnisnya ke negara M.


"Mungkinkah kelompok mafia Tiger Wolf, ada di negara ini?. Jika itu memang benar, maka kita akan bertemu lagi dengan mereka." kata Wilyam.


* * *


Di tempat lain. Argi baru saja sampai di hotel H2O, dia meletakkan tubuh Anisa di atas kasur dalam kamarnya. Pada saat yang sama. Salsa keluar dari ruang bawah tanah tempat menginterogasi Gasio dan anak buahnya, dia tidak begitu peduli pada interogasi yang di lakukan teman-temanya sebab dalam benaknya terus teringat kepada Libra.


Salsa melangkahkan kakinya, hingga akhirnya dia duduk di sebuah taman di depan hotel. Pikirannya melayang, matanya sayu menatap bintang di atas langit.


'Libra, aku yakin itu dirimu.


Apa aku harus mengabari Karasuka?.


Ya... .Aku rasa dia, harus tau.'

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2