Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Setan gila


__ADS_3

Di tempat lain, hari mulai gelap. Libra seperti setan gila yang memukul siapa saja yang dijumpainya, karena tidak puas dengan jawaban mereka.


"Kau tau di mana kelompok Mafia Tiger Wolf tinggal?."


"Tidak. Saya tidak tau." balasnya. Dia takut berurusan dengan kelompok itu.


"Bum."


"Duar."


Dia langsung menendang orang itu tanpa aba-aba, hingga terbang kebelakang melanggar tembok di belakangnya.


"Kau tau di mana tempat berkumpulnya kelompok Tiger Wolf?." Libra bertanya lagi pada orang yang dijumpainya.


"Heh, siapa kau. Bertanya pada orang dengan tidak sopan."


"Bum."


"Krak."


Kepala orang itu langsung hancur. Dia meninjunya dengan sekuat tenaga. Ini sudah yang kesekian kalinya dia melakukannya, lalu dia terbang dan turun lagi di belakang sekumpulan orang yang sedang mabuk di sebuah taman.


"Apa kalian mengetahui, di mana markas Tiger Wolf?. " Libra bertanya lagi dengan sangar.


Orang-orang itu menoleh, lalu menatap sinis pada Libra. "Heh... . Kau habis membunuhnya." melihat darah di tangan dan bajunya. Libra berjalan cepat kearahnya. "Bukan itu jawabannya."


"Bugh."


"Bugh."


"Bugh."


Dia meninju kepala orang itu hingga remuk, sedangkan teman-temannya terbodoh melihatnya.


"K. K .Kau. Apa yang kau lakukan."


"Sraak."


Cepat seperti bayangan pedang muncul di tangannya, menebas orang-orang itu menyisakan satu orang saja. Mereka yang di tebas terbakar hangus, oleh api berwarna hitam.


"Katakan."


Libra mendekati satu orang yang masih tersisa dengan matanya yang merah menyala.


"Di, di, di, utara. Mereka tinggal di rumah paling besar, di utara." Kata orang itu dengan tubuh gemetar, ketakutan. Seketika mabuknya pun, jadi hilang.


Libra diam menoleh ke utara. Sayap di bahunya tiba-tiba muncul, dan... .


"Wush."


Dia terbang kearah sana. Lalu berhenti sebentar, bertengger di puncak menara tertinggi di kota itu.


'Bersiaplah kalian, aku akan datang mengambil nyawamu.' gumamnya. Kemudian terbang lagi.


Di kota M. Karasuka, Hiro, Yakuza dan Arumi bersama yang lain telah sadar dari pingsannya. Mereka tergesa-gesa menuju ke bandara, setelah Karasuka memberikan penjelasan kepada mereka.


Sementara Gentu dan Leony bersama Arya dan Naira yang sudah hidup kembali, di bawa ke rumah sakit milik keluarga Pratama. Sedangkan keadaan di rumah Daris Pratama di urus anak buah mereka. Salsa sendiri! sudah di bawa sepuluh orang pengawalnya.

__ADS_1


"Kita harus segera pergi ke ibukota, untuk menjelaskan pada Libra. Jika kita terlambat, selamanya kita akan malu, pada Salsa." Jelas Karasuka, berlari menaiki pesawat, di ikuti rombongannya. ' Salsa, maaf. Maaf kan aku.' gumam mereka di hati.


Dan di tempat lain, di sebuah rumah yang besar. Terjadi kerecohan yang menggemparkan seisi rumah.


Tepatnya di rumah besar milik Arendra Wijaya, yang terlihat lebih ramai dari biasanya. Mereka semua sedang berkumpul setelah mendapat kabar dari anak buah Arendra Wijaya, yang menjaga Salsabila Nastiti, anaknya.


"Bodoh. Aku akan membunuh pengawal - pengawal itu." Teriak geram Wijaya, seketika urat timbul di wajah dan tangannya. Wijaya orang pertama yang mendirikan kelompok Tiger, dia sangat menyayangi cucunya, yaitu Salsa.


"Bagaimana keadaannya sekarang!?, apa kau sudah menyuruh anak buah mu untuk membawanya kembali?."


Seorang lagi dengan tatapan tajam bertanya pada Arendra. Dialah Atmaja, ayah dari Trimaran. Dia orang pertama yang mendirikan kelompok Wolf, dia juga sangat menyayangi Salsa.


"Sudah yah, mungkin besok mereka sampai di sini." balas Arendra.


"Besok!?. Kenapa, besok. Apa tidak bisa, mereka membawanya sekarang?."


Atmaja seperti tidak senang, dengan apa yang di katakan Arendra.


"Sekarang tubuh Salsa sangat lemah Yah, mereka sedang memberikan kekuatan ke tubuh Salsa." timpal, Trimaran. "Dia kehabisan tenaga dan kekuatannya setelah melakukan transformasi itu." lanjutnya.


"Ceritakan pada ku apa yang terjadi di sana." Atmaja menatap Arendra.


"Anak buah ku mengatakan, kelompok kartel narkotik dari Prancis membantai


keluarga kelompok RTB, yang beberapa orang darinya menjadi teman Salsa.


Salsa menggunakan kemampuannya untuk menghidupkan kembali, kedua orang tua temannya yang sudah mati.


Sialnya, temannya itu tidak tau kalau bukan kelompok Tiger Wolf yang melakukan pembantaian itu, sekarang anak itu sedang menuju kesini." jelas Arendra.


"Benar Yah. Aku tidak terlalu memikirkan bocah itu, aku hanya kesal pada kelompok kartel narkotik yang menyerang tanpa memberitahu ku.


Sepertinya mereka mulai meremehkan kita." balas Arendra.


Atmaja mengerutkan dahinya berpikir, kemudian dia berkata ; "Buat perhitungan dengan mereka, setelah ini."


" Baik yah." Arendra menganggukkan kepala.


"Duar."


"Duar."


"Duar."


Suara keras terdengar beriring gemuruh reruntuhan dari benturan tubuh Libra, yang menghantam genting, lantai tiga dan dua. Kemudian dia berdiri tegak di ruangan utama yang lebar di rumah besar itu, dengan tatapan tajam matanya yang merah menyala.


Sesaat tatapan mata orang-orang di ruangan itu takjub, melihat tubuh bersayap di tengah puing-puing reruntuhan yang jatuh berguguran dari atas.


' Pantas saja anak buah ku mengingatkan untuk berhati-hati, rupanya anak muda ini memiliki kekuatan yang luar biasa.' gumam Arendra.


Sesaat kemudian, sudut bibirnya


naik keatas. Dia teringat, dengan


anaknya. ' Apa Salsa menyukai pemuda ini?. Hehe, tidak semudah itu, harus orang yang benar-benar kuat untuk menjadi pendamping anakku.'


gumamnya.

__ADS_1


Kemudian dia melirik bawahannya, seraya memberikan tatapan perintah melalui isyarat matanya.


Bawahannya itu cepat paham, dia langsung memberikan perintah pada semua anak buahnya untuk menembak


Libra.


"Tembak"


"Det det det det."


"Dor."


"Dor."


"Dor."


Mereka menembaki kearahnya, tapi dia tidak bergeming dari tempatnya berdiri,


sayapnya yang lebar melindungi tubuhnya dari hujan peluru.


"Duar"


Ledakan keras seiring Arendra mengangkat tangan kirinya yang membawa kekuatan dahsyat, mendorong tubuh Libra jauh kebelakang membentur dinding dan kaca.


Debu beterbangan saat itu ketika Arendra, Trimaran, Wijaya dan Atmaja, melesat cepat menghampiri Libra yang sudah berdiri menunggu.


"Hehehe, apa kalian pikir aku akan mati?." Seringai Libra seiring memasukkan sayap kedalam tubuhnya.


" Aku tidak akan mati sebelum kalian semua mati " lanjutnya.


"sing______________ng."


Arendra, Trimaran, Wijaya dan Atmaja, tersentak kaget ketika mendengar suara mendengung, seiring pedang berselimut api keluar dari telapak tangan kanan Libra.


Melihat itu, Arendra, Trimaran, Wijaya Dan Atmaja, Segera mengerahkan kekuatan yang tersimpan untuk melindungi tubuh mereka.


Arendra mengeluarkan cahaya kemerahan dari tubuhnya yang menggumpal, membentuk Zirah berwarna merah kehitaman. Kemudian sebilah pedang juga muncul di tangannya.


'Sepertinya anak muda ini benar-benar kuat.'


"Whush."


"Ting_________ng."


Libra bergerak cepat menusuk Arendra dengan pedangnya, Tapi Zirah itu melindungi tubuh Arendra hingga tidak terluka. Begitupun, Arendra tetap saja terpental kebelakang, ketika mendapatkan serangan mendadak itu.


"Whush."


"Ting."


"Ting."


"Ting."


Secepat kilat Libra berbalik lalu menebas Terimaran, Wijaya dan Atmaja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2