
Setelah beberapa waktu, akhirnya Gasio bersama Konco-konconya sampai di pekarangan hotel H2O. Merasa memiliki kekuatan karena dukungan moril dari seorang mafia, dia berjalan dengan sangat sombong melewati orang-orang menuju kearah ruangan manajer. Lalu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, kedalam ruangan yang memang cukup luas.
"Tuan Gasio... maaf. Saya tidak tau anda datang, silakan duduk Tuan."
Sapa Mardi selaku manajer di hotel H2O, dia menghormati Gasio sebagai pemilik saham sekaligus CEO di perusahaan Gemini.
Gosio duduk di atas sofa itu dengan menyilang kaki sambil menghisap cerutu di tangan kirinya, dan Tirex ikut duduk di sofa sebelahnya, bersama gadis-gadis cantik yang datang dengan mereka. Sedangkan belasan pria berbadan tinggi dan kekar, dengan menggunakan pakaian hitam berbaris berdiri di belakangnya. Mereka adalah para pengawal Gasio dan selebihnya anak buah milik Tirex.
"Manajer Mardi... . Cepat kau siapkan beberapa kamar nomor satu sekarang juga. Aku akan menempati kamar itu dan juga teman-temanku." ucap Gasio setelah beberapa saat duduk di atas sofa.
"Maaf Tuan... kamar nomor satu tidak ada yang kosong, semuanya sudah terpakai." balas Mardi menyesal.
"Pindahkan saja mereka, apa kau tidak bisa melakukannya?."
"Maaf Tuan, itu sudah melanggar aturan."
"Heh!.. berani sekali kau membantah ku. Apa kau mau aku pecat?."
"Maaf Tuan... Ini memang sudah aturan yang di buat untuk perusahaan Gemini, yang di sahkan Tuan Aslan. Saya tidak berani untuk melanggarnya." ucap Mardi tertunduk.
Walaupun Gasio seorang CEO di perusahaan Gemini, tapi orang yang paling berkuasa di perusahaan itu adalah Aslan, sebab dia adalah pemilik dari perusahaan itu.
"Duar."
Gasio memukul keras meja di depannya. Wajahnya merah, dia terlihat sangat marah kepada Mardi.
Sedangkan Mardi yang paham betul dengan sifat Gasio yang arogan, diam-diam menekan tombol untuk memanggil sekuriti demi ketenangan hotel itu. Dia juga sudah lama merasakan, kalau Gasio memiliki agenda yang jahat, pada Aslan.
'Aslan, hehe... tidak lama lagi aku akan ambil alih perusahaanmu.' monolog Gasio.
__ADS_1
Di luar ruangan, tampak belasan orang security berjalan cepat kearah ruangan manajer, dan pada saat yang sama seorang gadis yang sangat cantik, nampak heran melihat para security yang berjalan tergesa-gesa melewatinya.
"Hey kalian! berhenti... . Apa yang terjadi?."
Sontak para security itu menghentikan langkahnya. Kemudian menoleh kebelakang, kearah suara itu.
"Nona... maaf Nona. Kami tidak menyadari kehadiran anda." Ucap salah seorang yang menjadi kepala security di hotel itu, dia merasa segan karena melewatinya begitu saja.
Para security itu kaget, menundukkan kepalanya dengan hormat, ketika mengetahui anak gadis dari pemilik perusahaan Gemini dan hotel H2O sudah berdiri di situ. Gadis muda itu bernama Anisa malaya, dia satu-satunya anak dari Aslan dan Juwita.
"Ada apa ini?. Aku lihat, kalian berjalan tergesa-gesa." ucap Anisa.
"Maaf Nona... tadi kami mendapat bel,
panggilan darurat keruangan manajer." kata kepala security.
" Kami tidak tau Nona." balas kepala security.
"Baiklah, mari kita lihat."
Anisa berjalan di depan di barengi dua orang bodyguard wanita di belakangnya, di ikuti para security di belakang mereka.
Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, di mana ruangan manajer hotel itu berada. Mulanya Anisa hanya datang untuk bersenang-senang di klub yang ada di lantai empat hotel itu, namun dia mengurungkan niatnya untuk naik ke atas ketika melihat sekumpulan security yang terlihat panik dan berjalan cepat.
Setelah sampai di lantai dua. Dari luar pintu ruangan. Terdengar suara yang begitu familiar di telinga Anisa. Suara itu milik Gasio, yang sepertinya sangat marah kepada Mardi.
Perlahan Anisa mendorong pintu ruagan, kemudian dia sedikit terkejut melihat ada banyaak orang di dalamnya.
"Ada apa ini?." seru Anisa.
__ADS_1
Sontak semua orang yang ada di dalam mengarahkan pandangan mata kearahnya, beberapa di antaranya jadi tercengang melihat kecantikannya.
Terutama Tirex, dia terus menatap Anisa tanpa mengedipkan matanya. Karena gadis itu memiliki kecantikan yang luar biasa, dia memiliki bentuk tubuh yang ideal dan fisik yang sempurna di setiap mata laki-laki.
Bahkan gadis-gadis di sebelahnya jadi minder. Mereka merasa rendah diri melihat kecantikan Anisa.
'Cantik sekali... Siapa gadis ini. Aku harus memilikinya.' monolog Tirex dengan tatapan birahi dari matanya, bahkan tangannya sedikit mengepal.
"Tut__Tut."
"Tut__Tut."
Dengan malas, Argi yang tengah berbaring di atas kasurnya mengangkat HP yang terletak di sebelahnya.
'Rolex... ada apa?.' gumam Argi sambil menekankan tombol terima HPnya.
📞"Halo... Ada apa?"
📞"Tuan... Saya melihat orang yang pernah bertarung dengan kami satu tahun yang lalu, saat penyerangan keluarga Pratama."
📞"Di mana?." balas Argi sedikit terkejut.
📞"Di bawah, Tuan."
📞"Baik, tungu sebentar. Aku akan turun."
Argi memutuskan panggilan teleponnya, dan segera bergegas turun kebawah. Sedangkan Rolex masih menunggu di bawah, bersama Bayu dan teman-temannya yang lain.
Bersambung
__ADS_1