
Ke enam pemuda itu malah makin berani mendekat setelah Salsa tadi mengancam mereka, dua orang gadis muda cantik memangnya apa yang bisa mereka lakukan. Pikir ke-enam pemuda itu.
"Hehehe... jangan takut cantik, kami tidak akan berbuat ka__."
"Bugh"
"Bugh"
"Argh... ."
Belum selesai dia menuntaskan kata-katanya, Salsa dan Karasuka sudah lebih dulu memukul rahangnya. Begitu juga dengan ke-lima pemuda lainnya, mereka juga mendapat bagian dari pukulan Salsa dan Karasuka.
Mereka terpental jauh kebelakang, dan berakhir jatuh berguling di lantai. Kemudian mereka mengerang, sambil memegangi bagian tubuhnya yang sakit dan cedera. Itulah akibat dari kerasnya pukulan tangan lembut, milik Salsa dan Karasuka.
Salsa dan Karasuka berjalan mendekat ke-enam pemuda itu sambil tersenyum mengejek, kemudian mereka berdua berjongkok di depannya. "Huh... sudah aku katakan kalau kalian hanyalah laki-laki yang lemah, tapi berani sekali kalian menghalangiku." ejek Karasuka.
Salah seorang dari ke-enam pemuda itu ada yang tidak puas hati, dengan perasaannya yang geram dia bangkit sambil menarik belati yang tersembunyi di pinggangnya. Kemudian dia bergerak cepat sambil menusuk Karasuka.
Tapi Karasuka bukanlah gadis yang lemah. Jika hanya kecepatan seperti itu, itu bukanlah apa-apa baginya. Dia jauh lebih cepat dan lebih kuat darinya.
"Kragh."
"Argh... ."
Pemuda itu menyeringai kesakitan, saat Karasuka dengan cepat menangkap dan mematahkan tangannya. "Hehe ... aku sudah bilang, kalian laki-laki yang lemah. Dan agar kalian tau, aku adalah gadis yang kuat. Jadi jangan macam-macam denganku." kata Karasuka sambil beranjak
berdiri. "Ayo kita pergi dari sini." katanya menoleh Salsa.
__ADS_1
"Baiklah... ." sahut Salsa beranjak berdiri, kemudian dia berjalan mengikuti Karasuka yang lebih dulu berjalan di depannya. Namun setelah beberapa langkah, dia berhenti sebentar kemudian menoleh kebelakang kearah enam pemuda itu.
Tanpa berpikir dua kali dia menarik sesuatu dari dalam saku bajunya, kemudian melemparkan kearah enam pemuda itu dan kemudian dia kembali berjalan di belakang Karasuka.
Dalam sekejap timbul asap pekat berwarna putih menyelimuti
ke-enam pemuda itu, dan beberapa saat kemudian asap itu menghilang bersama hilangnya kesadaran mereka. Mereka pingsan setelah menghirup asap beracun dari bahan kimia buatan Salsa.
"Aku tidak menyangka kalau kau juga ahli dalam beladiri." seru Karasuka pada Salsa, yang sekarang berjalan di sebelahnya. "Hehe ... aku hanya tau sedikit. Aku tidak setangguh dirimu." balas Salsa merendah menoleh Karasuka. "Tidak ... kau sangat tangguh, aku sudah melihatmu tadi saat memukul mereka. Menurut dari pandanganku aku yakin sekali kalau kau seorang yang sudah ahli dalam beladiri, aku bisa melihatnya dari caramu memukul mereka. Kau bergerak sangat cepat dan akurat, pantas saja kau berani datang kesini sendiri."
" Terimakasih ... tapi kau terlalu memujiku berlebihan." balas Salsa dengan wajah senyum manisnya.
"Oya... aku rasa aku belum mengenalkan namaku, jadi panggil saja aku Karasuka. Namamu aku sudah tau saat tadi kau mengenalkannya, jadi tidak usah mengenalkannya lagi padaku." kata Karasuka, menoleh Salsa.
Tidak lama setelah itu, Karasuka dan Salsa telah sampai di mana Libra dan rombongannya telah berkumpul. Saat itu tatapan Libra dan yang lainnya tertuju pada sosok Salsa yang berjalan kearah mereka. Mereka agak heran melihat wajah Salsa yang sudah kembali ke seperti semula. Cepat betul hilang mabuknya. Pikir mereka.
"Hai bagai mana keadaanmu, aku lihat kau sepertinya sudah pulih dari mabuk mu." tanya Libra pada Salsa. Salsa sendiri tersenyum mendapat sapaan dari Libra, entah kenapa hatinya merasa senang karena itu. Dia kembali duduk di kursinya di sebelah kanan Libra. Begitu juga dengan Karasuka, dia kembali duduk di kursinya disebelah kiri Libra.
"Hai, bagaimana jika kita sekarang bernyanyi, kita sudah ada di
tempat ini, bukankah kita mau bersenang-senang?." seru Zalia.
"Ide bagus itu." balas Arumi terlihat sumringah. "Malam ini kita harus bersenang-senang sebagai penanda untuk merayakan kelompok RTB, kelompok anak muda yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, ayo kita kesana." tunjuk Arumi ke lantai menari dengan semangat.
Sedangkan Libra terperangah sambil menggelengkan kepalanya. "Kau sudah mabuk Kak." Tapi yang lainnya tampak senang, dengan ide Zalia dan Arumi.
Mereka mulai beranjak berdiri berjalan ke lantai menari, sedangkan Libra masih tetap duduk di atas kursinya. Dia sama sekali tidak pandai untuk menari ataupun bernyanyi, dia taunya hanya mengayunkan tangan dan kakinya untuk berkelahi.
__ADS_1
"Ayo... ." teriak Zalia. Libra menggeleng kepala. "Tidak ... . Aku di sini saja." balasnya. "Hah, apa kau ini." Zalia berbalik, berjalan cepat kearah Libra, kemudian menarik tangannya dengan paksa. "Hei hei hei...hentikan." seru Libra ketika Zalia menarik tangannya dengan paksa. "Ayo cepat." Zalia terus menggeret tangan Libra kearah lantai menari, mereka terlihat persis seperti seorang ibu yang menarik paksa anaknya ketika bersalah.
"Hehehe... ." Sedangkan yang lainnya tertawa geli melihat mereka. Pada
akhirnya mereka menari dengan sangat gembiranya, hanya Libra saja yang terlihat menarinya seperti anak-anak di sekolah PAUD. Wajar saja, dia tidak pernah pergi ke tempat seperti itu. Walau begitu, dia tetap saja menari biarpun di tertawai. Yang penting asik, Pikir hatinya.
"Hai... apa kalian tidak melihat, sepertinya nona kita sangat akrab dengan mereka." Seru seorang dari sepuluh orang pengawal Salsa, yang sedang duduk mengawasinya. Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab, mereka hanya terus memperhatikan Salsa dengan diam-diam.
"Mungkin itu adalah trik dari rencananya, jadi biarkan saja." balas salah satu dari mereka setelah lama diam sambil memikirkan situasinya. Pengawal Salsa tidak tau, kalau di hati Salsa sekarang telah menerima Libra dan rekannya untuk jadi sahabatnya.
# # #
Sementara di suatu tempat yang berada di Perancis, sekumpulan orang telah berencana untuk datang ke kota M.
"Tuan... aku tidak puas dengan Arendra wijaya yang begitu lambat untuk menangani kota itu, aku rasa kita harus bergerak tanpa sepengetahuannya. Aku memiliki sebuah rencana yang besar, bisnis narkotik akan sangat menguntungkan mengingat daerah itu sangat maju dengan jumlah penduduknya yang ramai." seru Wiliam. Dia seorang yang menjadi tangan kanan dari seorang bos kartel narkotik di negara itu. Dia juga sebelumnya pernah datang ke negara X di kota J untuk menemui Arendra wijaya.
"Hmm ... memangnya apa yang membuat kota itu lambat untuk di tangani, sehingga harus kita sendiri yang perlu datang kesana." balas Diamond. Bos dari kelompok itu.
"Aku dengar di sana ada sekelompok kecil orang-orang handal, yang membentuk kelompok mafia." balas Wiliam.
"Tapi dengan berbuat seperti itu bisa membuat kita jadi bermusuhan dengan Arendra wijaya, hati-hati dengannya dia orang yang berkuasa di negara itu." sambut Gold. Orang ketiga yang berkuasa di kelompok itu.
"Hehe... apa kau pikir kita ini lemah hingga harus takut padanya?. Kita sudah menjelajah di setiap negara di seluruh dunia, apa artinya mereka bagi kita?." balas Platinum, yang terlihat tidak suka dengan opini yang di katakan oleh Gold. Dia juga orang yang berkuasa dalam kelompok itu. posisinya hanya satu tingkat di bawah Diamond.
"Hmm... baiklah. Biar aku pikirkan dulu masalah ini dalam beberapa hari, setelah itu aku akan membuat keputusan untuk membuat apa yang harus dilakukan.
Bersambung.
__ADS_1