Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Serum baru


__ADS_3

"Hei turunkan dia dari bahu mu"


Sontak seorang pria berhenti dari melangkah ketika mendengar suara yang terdengar begitu dingin dari arah belakang, begitu juga para kawanannya yang berjalan tidak jauh darinya. Kemudian mereka bersama-sama menoleh kearah asal suara itu.


"Argi... . Tolong aku" seru Anisa dengan tubuh menggigil ketakutan di atas bahu Tirex. Dia mulai agak bersemangat setelah melihat hero yang sudah tersemat dalam hatinya sejak dua hari yang lalu tiba-tiba muncul dalam rumahnya. "Turunkan Aku. Turunkan! " kembali Anisa berteriak seraya meronta-ronta di atas bahu Tirex yang membuat Tirex menjadi geram.


"Diam kau, bangsat! "


"Jleb"


Tanpa berpikir lagi. Tirex yang sudah terlanjur emosi dan merasa kesal dengan kelakuan Anisa yang terus meronta di bahunya meraih jarum suntik dari balik bajunya, lalu menusuk tubuh Anisa dengan asal membuat gadis itu langsung diam terkulai tak bersuara lagi.


"Hehe, Argi. Anak si pecundang Arendra Wijaya___" "Dan Trimaran Atmaja" ucap Bram Wilis memotong ucapan Wilyam yang belum selesai. Mereka menatap sinis meremehkan Argi selaku anak pemimpin kelompok mafia Tiger Wolf.


Bram dan Wilyam tidak tau kalau Tiger Wolf yang sekarang di bawah pimpinan Argi. Maklum, setelah kejadian satu tahun yang lalu Wilyam tidak pernah lagi datang ke negara X. Bahkan Tiger Wolf telah memutuskan tali kerja sama mereka setelah kejadian itu.

__ADS_1


Sedangkan kelompok mafia yang ada di Jerman yang mulanya mengikat kerja sama dengan Tiger Wolf, memilih untuk menghentikan kerjasamanya lalu bergabung dengan sindikat kartel narkotik milik Diamond. Bram sendiri adalah orang kepercayaan yang selalu di utus kelompok mafia dari Jerman yang sekarang melakukan kerjasama mereka di negara M dengan kelompok narkotik milik Diamond.


"Apa kabar Wilyam, Bram. Lama tak berjumpa dengan kalian" Argi menatap tajam mereka berdua.


Walaupun Argi hanya sendiri tapi dia terlihat tidak gentar dan sangat percaya diri bahkan bisa di lihat kalau dia samasekali tidak merasa takut sedikitpun. Sosok Argi saat ini terlihat sangat berwibawa. Argi sebelumnya memang sudah mengenal Wilyam dan Bram ketika mereka masih memiliki kerja sama beberapa tahun yang silam, jadi dia tidak segan sama sekali pada mereka.


"Apakah dia orangnya, yang sudah melukaimu dua hari yang lalu?" ucap Platinum mencondongkan kepalanya kearah Tirex seraya tetap menatap tajam dan sinis pada pemuda itu.


Walaupun platinum dan konco-konconya telah melakukan siasat untuk membunuh Argi dan teman-temannya saat kompromi dalam markas sehari sebelumnya. Platinum tetap saja belum pernah melihat wajah Argi yang seutuhnya. Dia hanya mengenal nama Argi dari cerita yang di sampaikan oleh Bram dan Wilyam.


"Hehe, bagus. Dengan begitu kita tidak perlu bersusah-susah untuk membunuhnya, dia sudah datang mencari kematiannya sendiri di sini. Memangnya dia siapa sehingga berani sok jagoan di hadapan kita?" kata Platinum seraya merendahkan Argi di hadapannya.


Platinum tidak tau kekuatan Argi yang sebenarnya. Dia pikir Argi hanya memiliki satu kekuatan seperti Atmaja.


Platinum tidak tau kalau sebenarnya Argi juga memiliki kekuatan seperti kakeknya yang lain, yaitu Wijaya.

__ADS_1


Dengan kekuatan yang di milikinya sekarang, maka Argi jauh lebih kuat di banding kedua kakeknya itu.


Argi mampu mengubah dan menggabungkan dua kekuatan milik kakeknya itu menjadi satu, menjadikannya jauh lebih kuat dari pemilik kekuatan sebenarnya.


"Apa dia pikir bisa berhadapan dengan kita? Denganku saja dia belum tentu bisa menang, apalagi harus melawan kita semua? " tukas Platinum mengejek Argi.


Setelah satu tahun yang lalu sehabis menyerang keluarga Pratama, Platinum terus meningkatkan daya tempur dan kekuatannya melalui Serum baru yang telah mereka buat sendiri.


Kelompok kartel narkotik ini memiliki Laboratorium pada setiap markas besarnya di setiap negara. Mereka melakukan penelitian secara diam-diam untuk membuat tubuh seseorang menjadi lebih kuat dari yang semestinya.


Kelompok kartel narkotik itu biasanya akan menjadikan orang lain sebagai bahan ujicoba untuk mereka. Tak jarang juga banyak di antara orang-orang yang telah dijadikan sebagai bahan ujicoba secara sukarela maupun paksa mengalami kegagalan, menyebabkan hidup mereka langsung berubah mengenaskan kemudian mati sia-sia.


"Anda benar, Tuan Platinum. Anak muda ini bukan apa-apa di hadapan kita. Bahkan jika ayahnya sendiripun yang menjadi lawan kita sekarang, dia tidak akan bisa mengalahkan kita. Hehehe... " tukas Wilyam seraya tertawa menyeringai.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2