Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
One by one


__ADS_3

"Ayo Nona, silakan masuk kedalam."


Seorang kepala ART paruh baya mempersilahkan Salsa dengan hormat,


Dia pria yang di percayakan Arendra untuk mengatur segala keperluan di penthouse itu.


Salsa masuk kedalam. Sambil berjalan, Benaknya terus bertanya-tanya. Kemana abangnya akan pergi. Karena dia bisa merasakan, ada sesuatu yang akan di lakukan olehnya.


"Paman, Rolex. Apakah Anda mengetahui, kemana kakak saya akan pergi?." tanya Salsa pada Rolex yang ikut berjalan di belakang.


"Tau, Nona. Tuan Muda sekarang sedang pergi, ke rumah sakit." balas Rolex.


"Serrr."


Perasaan Salsa berdebar mendengar kalimat itu, membuat dia bertanya


lagi ; " Apakah, ayah dan ibuku yang sakit?".


"Ya, Nona."


Mendadak wajah Salsa, terlihat cemas.


Namun sesaat kemudian, berubah kembali normal. Dia sama sekali tidak tau harus merasa sedih atau senang.


Sedih karena ibu dan ayahnya berada di rumah sakit, atau senang karena mereka masih hidup.


Tapi dia sudah tau, dan bisa menebak. itu semua pasti perbuatan, Libra. Pemuda yang sekarang menjalar, ke seluruh nadi dan jiwanya.


Salsa sekarang berhenti. Memutar tubuh kebelakang menatap Rolex, dan berkata ; " Aku ingin pergi, untuk melihat ayah dan ibuku." tukasnya.


"Maaf, Nona. Tuan Muda berpesan, untuk memastikan agar Anda sentiasa di dalam rumah, Anda belum benar-benar pulih, Nona." balas Rolex.


Salsa mengepal jari, kesal. Dia ingin sekali bertemu Libra, dan orang tuanya.


"Apa sekarang kalian berani padaku, dan menjadikan ku tawanan di rumah ini?." teriaknya kesal.


"Maaf, Nona. Sekali lagi maaf. Kami benar-benar tidak bisa membiarkan Anda keluar tanpa persetujuan Tuan Muda.


Apa Anda tidak mendengar?. Tuan Muda, akan membunuh kami dan keluarga kami, jika sampai Anda keluar dari rumah ini. Apa Anda tidak kasian dengan kami, Nona?." kata Rolex mencari simpati.


Rolex yang sudah lama mengenal Salsa, paham betul sifatnya. Gadis itu memiliki hati yang sangat lembut, dia tidak akan tega melihat orang lain menderita karenanya. Sifatnya bertolak belakang, dengan semua keluarganya. Oleh sebab itu, mereka semua sangat menyayanginya.


"Nona, sebaiknya Anda makan, dulu."


Kata seorang ART wanita. Saat melihat


Salsa menghentakkan kakinya ke lantai, berjalan cepat menuju kearah kamarnya, di lantai atas.


ART itu hanya berdiri terpaku ketika tidak di gubris oleh Salsa, sedangkan Rolex menggeleng kepala sambil


berkata ; "Sudah lah, biarkan saja. Bawa saja hidangan ini ke kamarnya, dan pastikan agar dia memakannya."


"Baik, Tuan." kata ART itu.


# # #

__ADS_1


Waktu terus berjalan.


Libra dan Karasuka bersama rekannya yang lain terlihat berbincang di kantin rumah sakit. Mereka membicarakan


keadaan Trimaran, Arendra, Atmaja, Wijaya, bahkan Salsa.


Sebenarnya di areal lokasi rumah sakit itu, banyak sekali orang-orang Tiger Wolf. Tapi mereka tidak berani macam-macam dengan Libra, apalagi ada empat orang pemimpin yang sedang di rawat di rumah sakit itu.


Mereka sudah tau, pastilah Libra seorang yang sangat kuat. Bahkan dia mengalahkan empat orang pemimpin sekaligus, dari enam orang pemimpin tertinggi di Tiger Wolf.


"Apa yang akan ku katakan bila bertemu Salsa nanti, aku sudah merusak rumahnya bahkan mencelakai keluarganya. Huh... . Apa dia bisa memaafkan ku?." Libra frustasi.


"Entahlah... . Aku rasa itu sulit. Bayangkan saja, jika itu terjadi pada kita." kata Karasuka yang duduk di sebelahnya. Dia juga tidak tau,


harus bagaimana.


"Aku yakin adikku akan memaafkan mu, nantinya. Aku tau betul sifatnya."


Kata seorang yang tiba-tiba masuk, keruangan itu. Dia duduk tidak jauh, di hadapan, Libra. Sorot matanya yang tajam beserta aura di tubuhnya, membuat suasana mencekam, dan udara sekitar berubah mendingin seiring dia berkata lagi.


"Tapi tidak denganku, aku tidak sama dengan adikku. Bisa memaafkan orang yang sudah melukai keluarganya sendiri, begitu saja. Kau teman adikku kan?, tapi kau menghancurkan rumah dan melukai orang tuanya."


"Dan kau... . Hai, Karasuka. Apa kabarmu?. Aku pikir, kau sudah mati di kota M. Tidak di sangka, rupanya kau sudah bergabung dengannya."


Argi mengalihkan tatapan kearah Karasuka, kemudian beralih lagi kearah Libra.


Aku dengar kau sangat kuat ya?, tak kenal lelah dan pantang menyerah. Ia kan?. Hehehe ... ." Sarkas nya.


"Anak muda memang harus seperti itu, aku sudah paham itu, karena aku juga sama. Darah kita masih panas, benar kan?. Hehehe."


Karasuka, Arumi, Leo, dan mereka semua tak mampu membalas kata-kata Argi. Mereka sadar, kalau merekalah yang salah.


Sementara Libra, hanya dia saja yang masih merenung Argi dengan datar.


Hatinya berkata-kata, entah apa yang sedang di bicarakan di dalam sana.


"Namaku, Argi Gait Jaganda, bertarung lah denganku." ucapnya datar namun penuh penekanan.


Seiring itu gelombang kuat muncul bersamaan cahaya hijau dan merah yang berkeliaran di tubuhnya. Argi ingin melepaskan gelombang kekuatan itu, kearah Libra. Namun sesaat sebelum dia melakukannya, Karasuka dengan cepat berbicara.


"Jangan membuat kerusuhan di sini. Ingatlah, tempat ini rumah sakit. Bahkan empat keluargamu masih di rawat di sini. Bagaimana kalau tempat ini hancur?, empat keluargamu juga akan terkena dampaknya kan?." Karasuka mengingatkan.


Seketika itu juga Argi mengurungkan niatnya untuk menyerang Libra. Dia merasa apa yang di katakan Karasuka memang benar.


Saat itu juga, dua cahaya berbeda yang berkeliaran di tubuhnya perlahan meredup dan menghilang. Dan pada saat yang sama.


"Drrrrt."


"Drrrrt."


HP di saku celana Argi bergetar. Dia meraih HP itu dan melihat nomor yang tertera di layarnya. ' Nomor siapa ini? '


Dahinya sedikit berkerut, namun tetap mengangkat panggilan itu.


📞 "Halo Kak. Kakak, di rumah sakit kan?. Aku akan pergi kesana untuk melihat ayah dan ibu. Boleh kan, Kak?." teriak Salsa di sana.

__ADS_1


📞"Tidak boleh." Bentak Argi.


Dia kesal, lalu memutuskan panggilan telepon itu begitu saja. Dia tidak mau nanti adiknya akan bertemu dengan Libra, dan teman-temannya.


Sedangkan Salsa sendiri sekarang di dalam kamarnya tengah mengamuk, dia membanting apa saja yang ada di dekatnya. Bahkan dia ikut membanting HP ART, yang tadi di pinjamnya.


Serpihan pecahkan kaca berserakan di lantai dalam kamarnya, hingga membuat semua orang di penthouse itu menjadi panik.


_______________________________________


"Hey, kau. Aku menantang mu bertarung di tempat lain, aku rasa temanmu benar. Tempat ini, tidak cocok untuk tempat bertarung." kata Argi sambil berdiri dari tempat duduknya, dan pada saat yang sama.


"Drrrrt."


"Drrrrt."


HPnya kembali bergetar, dia meraih HP yang tersimpan di saku dan melihat nama pemanggil nya. 'Rolex. Mau apa dia?.' Kemudian mengangkat panggilan itu.


📞"Tuan Muda. Nona muda tengah mengamuk di kamarnya. Nona muda, menghancurkan apa saja yang ada di dalam. Sekarang, apa yang harus kami lakukan, Tuan Muda?."


Argi diam sejenak mendengar Rolex yang seperti panik, dia sudah tau adiknya itu pasti akan berbuat begitu.


Salsa memang sudah di manjakan dalam keluarganya, dia akan melakukan apa saja agar kemauannya di turuti.


"Huh... ."


📞 " Baiklah, bawa adikku kesini."


Setelah memberikan persetujuan pada Rolex untuk membawa adiknya ke rumah sakit, dia kembali berkata pada Libra.


"Aku menunggu mu di pelabuhan sebelah utara, datanglah kesana sebelum adikku datang kesini."


Saat itu tubuh Argi perlahan tenggelam kedalam tanah hingga benar-benar menghilang, bersamaan berakhirnya kalimat dari ucapan terakhirnya.


Orang-orang yang ada dalam ruangan itu matanya terbelalak kagum melihat kehebatan Argi, begitu juga dengan Libra. Wajah dan senyum kecil di bibirnya memperlihatkan kagum saat melihat kehebatannya.


"Apa kau akan pergi kesana?." tanya Leo.


"Tentu saja. Aku tidak harus menghindar, dari tantangan inikan?. Pertarungan satu lawan satu, itu cukup adil untuknya dan untukku.


Kalian tetaplah tinggal di sini. Tadi aku mendengar, kalau Salsa akan datang kemari. Jangan lupa, sampaikan maaf ku padanya." ucap Libra.


Setelah selesai bicara, Libra berjalan keluar dari kantin itu di ikuti oleh semua rekannya.


Sayapnya yang lebar mulai muncul dari balik bahunya. Menarik tatapan mata setiap orang di sekitar, yang merasa heran kemudian kagum melihat kearahnya.


"Whush."


Tubuh Libra melesat ke angkasa, dia melayang dengan cepat kearah utara.


'Aku salut pada Argi, dia bisa mengontrol amarah di hatinya. ' batinnya.


Di tempat lain, tepatnya di Penthouse.


Salsa baru saja keluar di iringi sepuluh orang pengawalnya, mereka menggunakan tiga Rolls-Royce menuju ke rumah sakit. Salsa nampak gembira sekali di ijinkan abangnya untuk pergi kesana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2