Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Karasuka azumi dan Salsabila nastiti


__ADS_3

"Wah kacau kalau sampai aku yang mabuk, ini bisa menggagalkan rencana ku untuk menghancurkan kelompok mereka. Aku tidak bisa bertarung secara terbuka saat ini memandang Karasuka ada di sini, dan pemuda ini juga pasti sangat kuat buktinya dia tidak terpengaruh apa-apa walaupun aku telah memasukkan racun dalam gelasnya. Tampaknya aku memang harus menggagalkan rencana ku, sebelum nantinya aku yang kalah.


Baiklah...malam ini kalian selamat, tapi tidak untuk lain kalinya. Aku akan membuat rencana lain untuk menghancurkan kalian. Hehehe... ."


"Hei... kenapa denganmu...?


Sepertinya kau mulai mabuk!." Libra menepuk bahu Salsa dengan lembut, setelah melihat wajahnya telah berubah merah. "Sebaiknya kau jangan minum lagi." lanjut Libra.


"Oh... tidak. Aku hanya sedikit pusing saja." balas Salsa kaget. Wajahnya telah berubah merah, efek dari banyaknya alkohol yang telah di minumnya. ' sial, bagaimana ini?. '


"Hoek... Hoek." Sesaat setelah itu dia mulai muntah, dan berdiri untuk berjalan agak menjauh dari Libra dan kumpulan nya. ' Sial... aku harus segera minum obat untuk meredakan mabuk ku. '


"Lihat, kan. Dia sudah mabuk." tunjuk Libra kearah Salsa. Kemudian dia berdiri begitu juga Karasuka, mereka berdua berjalan mendekat Salsa. Sedangkan yang lain tetap duduk di tempat, mereka juga mulai pusing setelah menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol miliknya.


"Mereka berdua belum mabuk. Apalagi Libra, sama sekali tak ada perubahan pada wajahnya." seru Zalia menatap Libra dan Karasuka.


"Entahlah... tadi dia bilang tidak pernah minum, minuman seperti ini. Tapi kenapa dia tidak mabuk sama sekali ya?." balas Arumi heran.


"Hehehe... dia itu bos kita, pemimpin dari kelompok RTB. Tentu saja dia harus kuat dan hebat dalam segala aspek. Kalau tidak seperti itu, bagaimana mungkin dia bisa membangun kelompok ini untuk lebih baik kedepannya?." tukas Rubi menatap kagum pada Libra.


"Bagaimana denganmu, apa kau baik-baik saja!?." tanya Karasuka, sambil mengulur tisu pada Salsa.

__ADS_1


Salsa menyambut tisu itu,dia menoleh kebelakang melihat Libra dan Karasuka, yang sudah berdiri menyodorkan tisu padanya. Hatinya sedikit tersentak saat itu, ketika melihat mereka berdua, apalagi Libra. Dia sepertinya begitu ambil berat terhadap


dirinya. ' Ah sial... padahal aku ingin membunuhnya, tapi dia malah menolongku. ' Entah kenapa timbul sedikit rasa simpatik di hati Salsa, dia merasa bersalah mencoba untuk membunuhnya. Apalagi saat mengingat tatapan dan senyuman tulus dari Libra, seperti ada sesuatu yang bergulir di dalam hatinya.


Sementara sepuluh orang yang duduk sambil mengawasi Salsa dari sudut yang lain agak cemas melihat keadaannya, mereka adalah orang-orang kuat dan handal dalam kelompok Tiger Wolf yang dipilih oleh Arendra wijaya, untuk melindungi anaknya.


"Apakah kita harus menolongnya?." tanya seorang dari mereka seraya berbisik pada rekan-rekannya, untuk mendapatkan kepastian.


"Jangan dulu... aku takut dia punya rencana sendiri, kita bisa menggagalkan rencananya." balas seorang dari mereka."


"Baiklah... kalau begitu kita tetap akan mengawasi dia dari sini." kata seorang lagi dari mereka


_______________________________________


"Eh ... maaf. Aku baik-baik saja." balas Salsa gelagapan tersentak dari lamunannya. "Aku hanya perlu membasuh mukaku, jadi maaf, aku pergi ke toilet sebentar ya?." balas Salsa. Sambil berjalan sempoyongan.


"Aku akan mengantarmu."


"Jangan." cepat Karasuka memotong Libra. "Itu toilet wanita ... biar aku saja yang mengantarnya."


"Oh ... baiklah." balas Libra menatap Karasuka. Dia berjalan cepat, kemudian memapah Salsa yang berjalan sempoyongan. ' Aduh... bagaimana bisa aku membunuh mereka. ' gumam Salsa dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku sudah bilang padanya untuk tidak minum banyak, Kalau sudah begini susah sendiri kan?." Seru Libra setelah kembali ketempat duduknya, sambil memegang empat botol minuman yang telah kosong milik Salsa.


"Bos... kalau gitu nanti kita


antar saja dia pulang, agar tidak membahayakannya di jalan." seru Rubi menatap Libra. " Jangan panggil, aku bos. Panggil saja namaku." sanggah Libra menatap Rubi. "Hehehe... ." Rubi hanya kekeh mendapat sanggahan dari Libra. "Nampaknya kau sudah mabuk." kembali Libra berkata pada Rubi, tapi yang di ajak bicara pikirannya sudah melayang entah kemana-mana.


"Aku heran padamu, kenapa wajahmu sama sekali tidak terlihat berubah. Padahal tadi kau mengatakan, kalau kau tidak pernah meminum minuman beralkohol. Apalagi aku lihat kau telah


menghabiskan lima botol minuman beralkohol dosis tinggi, apa kau ingin menipuku dengan mengatakan tidak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumya?." seru Zalia menatap Libra.


"Hehehe ... aku memang tidak pernah datang ke tempat seperti ini, ataupun meminum minuman beralkohol sebelumnya. Tapi semasa kecil dulu, aku pernah meminum satu botol racun serangga, dan aku tidak apa-apa." balas Libra. " Ha ?... racun serangga, yang benar saja !?." ucap Zalia heran. Bagaimana mungkin anak kecil tidak apa-apa setelah meminum satu botol racun serangga. "Kalau tidak percaya, ya sudah." lanjut Libra mengakhiri ucapannya. Sementara rekan-rekannya yang lain, merasa kagum mendengar ceritanya.


Sedangkan saat ini, di dalam toilet. Salsa telah membasuh wajahnya, dia diam-diam merogoh obat di dalam saku untuk meredakan rasa mabuknya. Obat itu terbuat dari bahan kimia yang telah di buatnya sendiri, dia memang ahli dalam hal itu. Tanpa di ketahui oleh Karasuka, dia telah menelan obat itu kedalam perutnya. Dengan cepat obat itu bereaksi dalam tubuhnya, dan mulai perlahan wajahnya telah kembali seperti semula begitu juga dengan pikirannya. "Apa sudah selesai?." tanya Karasuka. Dia menoleh kebelakang melihat Karasuka. "Sudah... ayo kita kembali kesana." balasnya tersenyum memperlihatkan baris giginya yang putih dan indah, kemudian dia berjalan di depan, di ikuti oleh Karasuka. ' Dia sangat cantik, wajahnya kembali normal setelah membasuh wajahnya. Apa dia sudah sering minum?. ' batin


Karasuka yang berjalan di belakangnya.


"Hai gadis-gadis cantik ... kalian mau kemana?." Saat itu seorang telah berkata, dari enam orang pemuda yang berjejer menghalangi jalan mereka. Mereka seperti sengaja melakukan itu untuk menutupi jalan, wajah mereka berbinar dengan senyuman menyeringai dan tatapan penuh napsu.


Karasuka yang melihatnya jadi tidak senang, wajahnya langsung berubah jadi dingin. Dia maju ke depan sambil mengatakan ; " Menyingkirlah dari jalanku... ." Salsa yang sekarang berada di belakang, bergumam dalam hatinya menatap kagum pada sosok Karasuka.


' Dia wanita yang penuh kharisma dan sangat berwibawa. ' Setelah itu dia berjalan dan berdiri di samping kiri, Karasuka. Kemudian dia ikut mengatakan ; "Menyingkirlah dari hadapan kami, atau kami berdua akan memukuli kalian untuk memberikan pelajaran." Karasuka menoleh kesamping, dia tersenyum menatap Salsa.

__ADS_1


Ke enam pemuda itu tidak tau siapa dua gadis ini. Kalau saja mereka tau setiap satu dari dua gadis ini mampu membunuh mereka secara bersamaan, mereka pasti tidak akan berani berdiri menghalangi jalannya.


Bersambung.


__ADS_2