
"Apakah kau merindukan ibumu? Kita bisa menjenguk kepusaranya setelah membersihkan rumah ini." tanya Arumi setelah melihat raut wajah Libra yang terlihat sedih.
"Baiklah" balas Libra.
"Kita juga bisa segera membangun Panti asuhan di sini sesuai keinginanmu." timpal Zalia.
Libra menoleh Zalia yang langsung di sambut kata-kata ; "Kau adalah ketua RTB, uang bukan masalah bagimu."
Libra hanya tersenyum manis menatap Zalia, dan dia ingin berbicara tapi Zalia sudah mendahuluinya.
"Hei ... jangan tersenyum begitu padaku, aku bisa tergoda." celetuk Zalia. Saat itu juga, senyum Libra berubah karena kesal dan malu. Tapi Arumi dan Zalia malah tertawa karena melihat perubahan wajah Libra yang terlihat lucu.
"Sudah-sudah, ayo kita bersihkan rumah ini biar cepat selesai, setelah mengunjungi pusara ibu aku juga ingin pergi ke sekolah untuk mengambil Ijasah ku." tukas Libra.
Setelah melewati beberapa waktu mereka telah menyiapkan pekerjaan di rumah Libra dan pergi ke pemakaman untuk mengunjungi pusara ibunya.
Setelah berada di pusara ibunya, Libra menyiramkan air dan menabur bunga di atas pusara itu setelah memanjatkan do'a. kemudian beranjak pergi menuju sekolah bersama Arumi dan Zalia.
Dalam perjalanan Zalia bertanya pada Libra ; "Setelah ini kau akan meneruskan kuliah mu di mana?."
"Tidak tau" balas Libra.
"Kalau begitu pergi ke tempat kami saja, di situ tempat elite untuk anak-anak orang kaya di kota ini melanjutkan kuliahnya. Leo, Seno dan Rubi juga akan kuliah di sana." tukas Zalia.
Libra diam berpikir sejenak. Setelah itu dia mengatakan ; "Baiklah, aku kuliah di sana."
"Bagus, jadi anak-anak muda dari kelompok RTB akan berkumpul di sana.
Oya... kalau boleh aku tau, kenapa kau menamakan kelompok kita RTB. Apakah tiga huruf itu adalah nama singkatan?." tanya Zalia menoleh Libra.
" Ya ... itu singkatan dari Remaja Tangan Besi." balas Libra.
"Wah ... terdengar keren. Kumpulan mafia dari anak-anak muda." tukas Zalia yang menoleh kearah Libra begitu juga dengan Arumi.
Setelah menyelesaikan urusannya dalam mengambil Ijazah, mereka kembali lagi ke markas. Begitu turun dari mobil, Libra langsung berjalan kearah gudang. Dia ingin mengambil motornya yang sedang di simpan dalam gudang itu. Setelah ketemu dia langsung membawanya keluar, kunci motornya sudah terpasang di situ, sebab waktu itu dia memang meninggalkannya di kediaman keluarganya. Libra menyalakan mesin
motor itu dan menarik kencang pedal
gasnya. Terdengar suara bising yang memekakkan telinga.
__ADS_1
"Reng reng... ."
"Reng reng... ."
"Hwueengg... ."
Kemudian dia mengemudi motor itu dengan kencang mengelilingi lokasi markas yang luas. Semua orang yang berada di luar menoleh kearahnya, begitu juga orang yang berada di dalam
markas, mereka beranjak keluar ingin melihat apa yang sedang terjadi. Sedangkan Karasuka dan Lazio melihat keluar dari jendela kaca mereka masing-masing.
Libra mengendarai motornya dengan sangat lihai seperti para pembalap motor Trail, alhasil dia jadi tontonan orang orang di markas seperti
hiburan. Banyak dari mereka yang memuji keahliannya dalam menunggangi motor. Begitu juga dengan Karasuka yang melihat dari balik jendela kamarnya, dia tersenyum yang sangat sulit sekali untuk di artikan.
Dan di luar. Leo, Seno, Rubi, Arumi, Zalia, Nadia dan Nadira. Kagum melihat keahlian Libra. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
" Aku baru tau, kalau naik motor seperti itu akan sangat seru." Celetuk Leo.
"Tapi sayangnya di markas ini cuma ada satu motor miliknya. seru Seno kesal.
" Aku ingin naik motor juga sepertinya"
"Bukankah kalian sukanya naik mobil"
celetuk Daris pratama dari arah belakang.
"Eh... kakek" tukas Arumi terkejut setelah berbalik kebelakang di ikuti yang lainnya.
Kemudian Daris menoleh kearah Dani dan Bima sebagai orang kepercayaan dalam keluarganya, dan diapun
berkata ; " Segera beli tiga motor trail untuk mereka."
"Empat kek." celetuk Arumi.
"Lima" tukas Zalia.
"Eh, kami berduapun mau kek."
"Ha?... bukankah kalian perempuan, itu aktivitas laki-laki." ucap Daris sambil melihat Nadia dan Nadira, kemudian menoleh pada Arumi dan Zalia.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kek, perempuan juga bisa menunggangi motor." balas Zalia.
"Baiklah-baiklah, belikan tujuh, eh bukan. Sepuluh saja, siapa tau nanti ada yang mau pakai juga." tukas Daris menatap Dani dan Bima.
"Baik Tuan." balas Dani dan Bima kemudian beranjak pergi.
Setelah beberapa lama Libra bermain sepeda motor diapun mengakhirinya, dia berhenti dekat keluarganya yang sedang menonton, mereka kagum dan memuji keahliannya, kemudian Leo mendekat dan berkata ; " Motormu ini sepertinya lebih laju dari standarnya."
"Memang benar... aku telah merombak mesinnya hingga dapat berlari lebih kencang." balas Libra.
"Wah, pantas saja motormu bisa melaju sangat kencang." celetuk Leo.
Satu bulan kemudian, Karasuka dan Lazio telah pulih dari cederanya. Itu atas kerja keras para dokter yang telah berusaha mempercepat kesembuhan mereka. Saat ini Lazio telah melatih semua anggota RTB cara menembak dengan tepat, tak terkecuali Libra maupun Karasuka, mereka semua telah di latih oleh Lazio. Dia memang seorang yang ahli menggunakan pistol maupun sniper. Di antara semua orang yang telah di ajarinya, hanya Libra dan Karasuka yang bisa dengan cepat menyerap apa yang telah di ajarkannya.
Setelah itu, Libra berlatih menggunakan pedang dengan Karasuka, sebab dia seorang yang ahli dalam menggunakannya, itu bisa di lihat saat Libra melakukan pertarungan dengan Karasuka. Dia mendapatkan banyak sekali goresan dan tikaman dari pedang milik Karasuka.
" Tubuhmu memiliki kekuatan ajaib yang mampu mengobati dengan cepat, dan kau memiliki pedang aneh yang tersimpan dalam tubuhmu, hanya saja kau belum optimal dalam menggunakannya. Aku
yakin jika kau bisa menggunakannya dengan benar, maka akupun tidak akan bisa menggores tubuhmu dengan mudah. Sekarang aku akan mengajarimu cara menggunakan pedang." kata Karasuka sambil melemparkan sebilah pedang kearahnya.
Libra menangkap pedang itu, dan merekapun mulai berlatih bersama. Sambil melatih Libra, mereka saling bertanya, terutama Karasuka. Dia ingin sekali tau dari mana Libra mendapat kekuatan seperti itu.
"Bolehkah aku tau, dari mana kau mendapat kekuatan seperti itu?." tanya Karasuka.
Libra hanya tersenyum menatap Karasuka sambil berkata; "Aku tidak mempelajari atau mendapatkannya, almarhum Ibuku mengatakan semua itu sudah ada di tubuhku sejak aku di lahirkan."
"Bukannya ibumu masih hidup?."
"Ya ... tapi maksudku ibuku yang satunya. Ibu yang telah membesarkanku."
"Oh... maaf, aku tidak tau."
"Tidak apa-apa." balas Libra.
"Aku juga ingin bertanya padamu. Waktu itu aku melihatmu menggunakan jubah, sepertinya jubah itu bukan jubah biasa, tapi sampai sekarang aku tidak pernah lagi melihat jubah itu di tubuhmu"
Kemudian Karasuka menghentikan gerakan pedangnya, begitu juga dengan Libra, dia berdiri menghadap Libra dan tiba-tiba sebuah jubah warna putih menyelimuti tubuhnya. Kemudian dia berkata ; " Maksudmu jubah ini?."
Bersambung
__ADS_1