Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
pertarungan antar generasi


__ADS_3

Libra duduk di samping ibunya sambil memperhatikan semua orang di sekitarnya. Matanya tertuju kepada orang tua yang tak jauh di sebelah kirinya, Makin lama dia melihatnya semakin terasa kalau orang tua itu punya banyak kemiripan wajah dengannya, dia agak penasaran tapi enggan bertanya pada ibunya akhirnya dia mendiamkan saja pertanyaan di hatinya.


'hah.. hanya agak mirip saja, aku peduli


apa dengan itu ' pikir hatinya.


Kemudian dia melihat dua pemuda


yang berkelahi di hadapan nya, seorang pemuda berkepala botak dan seorang pemuda yang dulu hampir saja akan di bunuhnya. Dia adalah leo saudara kembarnya, libra begitu serius melihat pertarungan itu kemudian menyeringai entah apa yang ada di pikirannya.


* si botak ini lumayan kuat, dia juga


begitu handal. Nasibmu leo, kau takkan bisa mengalahkannya. Andai saja aku yang jadi lawannya. Dengan mudah aku akan mematahkan kaki dan tangannya. *


Libra bergumam dalam hatinya.


Bibirnya sedikit naik ke atas sambil terus menatap dua pemuda yang sedang menunjukkan kemampuannya


di gelanggang terbuka. Sedangkan Daris pratama diam diam menoleh kearah libra yang sedang serius


menatap ke depan. Tanpa dia sadari


bibirnya telah tersenyum senang. Dia banga punya generasi penerus yang betul betul mirip dengannya, wajah dan tatapan itu benar benar sangat mirip padanya. Tapi berapa saat kemudian wajahnya berkerut murung. ia sangat menyesal membiarkan anak itu di keluarkan dari keluarga ini dulu, kalau saja arya tidak memberikannya pada wanita lain pasti anak itu membesar di rumah ini sekarang. pikir hatinya.


Sekarang dia hanya bisa menghela


nafas panjang seraya berharap anak itu mau kembali pada


keluarganya ini. Karena generasinya yang sekarang tidak ada yang kompeten untuk menandingi rivalnya, yaitu keluarga Genro Aleksander. Dia memiliki lima orang anak dan


belasan cucu, tapi dia pikir tidak ada kemampuan generasi penerusnya yang bisa mengimbangi generasi penerus rivalnya. Hanya libra, anak yang telah di buang dari keluarga ini yang terlihat mampu jadi


penerusnya. Tapi sayang, lagi lagi dia menghela nafas panjang mengenang apa yang telah terjadi.


"Hei daris..apa tidak ada satupun generasi mu yang tangguh, setidaknya


bisa mengimbangi generasi ku


he he "


Teriak genro menyindir sambil tertawa


mengejek.


Daris hanya terdiam dan berwajah murung sambil menatap leo yang habis


habisan di hajar oleh hugel , cucu dari


genro.

__ADS_1


"kalau hanya seperti ini lalu siapa yang akan meneruskan reputasimu? " ejek genro memanas manasi daris.


Satu persatu generasi daris mulai tersulut api kemarahan, tapi mereka


tidak bisa berbuat apa apa. Mereka sadar telah di kalahkan, hanya tinggal satu orang yang belum mengikuti pertandingan itu. Yaitu Arumi giska pratama, sedangkan adiknya dea masih terlalu kecil untuk


mengikuti pertandingan seperti itu.


Dalam pertandingan itu ada peraturan


Pertama


tidak peduli pria atau wanita, mereka bisa maju bertanding.


Kedua


siapapun yang tidak mengaku kalah dia tidak bisa keluar dari lapangan.


Ketiga


satu pihak lawan yang kalah bisa maju


bertanding untuk menolong, tapi tentu saja harus di setujui pihak lawan tanding yang menang.


Keempat


pertandingan harus sesuai dengan peringkat generasi.


Teriak naira yang tidak sampai hati melihat anaknya di pukul habis habisan


oleh lawannya, tapi dia enggan menyerah.


"Menyerahlah leo"


Kembali naira berteriak dengan suara


yang agak parau karena


menangis. Dan yang lainnya mulai gelisah melihat leo yang tak berdaya karena sudah kehabisan tenaga.


Sedangkan pada pihak lawan, mereka bersorak gembira menyemangati dan terlihat senang dan bangga pada hugel


yang tangguh.


" Bisakah aku maju untuk menolongnya? " Teriak arumi bertanya pada hugel.


Hugel menoleh lalu tersenyum menyeringai lalu berkata ; "Silahkan"


Terlintas dalam benaknya seorang gadis yang sangat cantik tapi

__ADS_1


sangat angkuh. * Akhirnya hari ini aku bisa mengajarimu bagai mana seorang wanita harus tunduk pada seorang pria. Selama ini, kau begitu sombong saat aku ingin


mendekatimu. Tapi sekarang kau sendiri yang datang padaku,


ha ha ha. * hugel tertawa senang dalam hatinya.


"Jangan arumi" Teriak naira sambil meraih tangan arumi, tapi sayang arumi sudah berjalan menuju arena pertarungan. Naira hanya mampu menatap sedih dan khawatir pada kedua anaknya, begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


Sedangkan libra, dahinya berkerut


menatap kedua saudaranya yaitu leo dan arumi. * Mereka ini..Yang satu memiliki tingkat harga diri yang tinggi walau dia tau sudah tak mampu untuk melawan, dan yang satu lagi memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Aku yakin, dia tau takkan bisa mengalahkan lawannya, tapi hatinya tak bisa tinggal diam melihat saudaranya yang sudah tak berdaya. Huh..sungguh ironis *


Libra terus memperhatikan pertarungan yang tidak seimbang itu di hadapannya, perlahan lahan arumi


mulai terdesak oleh serangan


hugel. Berkali kali dia terjatuh dan berusaha untuk bangkit kembali, terlihat luka memar di tangan dan wajahnya. Darah mulai mengalir dari pelipis dan hidungnya, pakaiannya yang rapi sudah berantakan tapi dia tetap saja tidak mau menyerah.


Sedangkan hugel, dia menyeringai puas menatap kedua lawan yang ada di hadapannya. Mereka sudah terluka dan mulai terlihat lemah, kemudian dia berkata " Belum juga mau menyerah ?.. bagus. " Hugel mengingatkan dan tersenyum jahat menatap pakaian arumi yang sudah berantakan. Pikiran jahat mulai terlintas dalam benaknya, dia mulai maju sambil menatap tajam ke arah arumi. Sedangkan orang dari pihak keluarganya tertawa girang menunggu apa yang akan dia lakukan.


Dengan tertatih, arumi cepat berjalan mundur, dia bisa merasakan tatapan


jahat di mata hugel. Naira yang melihatnya terus menangis menatap kedua anaknya sambil berteriak.


"Menyerah lah"


"Menyerah lah"


Begitu juga dengan anggota keluarganya ikut meneriakkan kata yang sama. Tapi leo yang sudah terkapar tak berdaya dan arumi yang sudah berdiri gontai tetap tidak mau menyatakan kalah. Tangan ibu libra gemetar sambil menatap ke depan, jantungnya terasa berdegup kencang melihat apa yang akan terjadi pada arumi. Dia berlari menghadang sesaat sebelum hugel sempat menyentuh


arumi, kemudian hugel sangat marah dan langsung meninju dada


jamilah. Jamilah yang tak memiliki kemampuan berkelahi langsung terpental kebelakang menabrak arumi, dia tidak bisa menghindar dari tinju itu dan langsung terbatuk darah sebelum jatuh pingsan ke atas tanah.


"Ibu"


Teriak Libra menggelegar sambil berlari mendekati ibunya. Tangannya gemetar sambil memeluk erat tubuh ibunya yang telah pingsan. Dan saat itu juga, darah yang mengalir dalam tubuhnya mulai mendidih. Matanya melotot karena syok dan marah, warna bening matanya perlahan berubah jadi


merah. Bola matanya yang hitam pekat terlihat seperti gumpalan awan mendung yang mengerikan. Pada tubuhnya bermunculan garis garis biru yang terang. Semua orang jadi tercengang menatap ke arahnya.


Perlahan dia berdiri lalu berjalan penuh kemarahan mendekati hugel yang terlihat keheranan.


"Hei siapa kau" teriak seorang dari arah pihak keluarga hugel kemudian melanjutkan ; " Kau telah melanggar peraturan. "


Namun Libra tidak mempedulikan


kata kata itu, dia terus berjalan seperti iblis yang datang mendekati hugel. Tangannya terkepal erat, dan rambutnya yang gondrong berkibar tertiup angin bersamaan dengan suasana yang berubah mencekam.


'Hari ini aku akan membunuh siapa saja yang menghalangi ku '

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2