Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Pujaan hati


__ADS_3

Karasuka baru saja akan terlelap dalam tidurnya, saat tiba-tiba HP-nya berdering membuatnya terbangun . Sedikit agak malas dia meraih HP yang tergeletak di sebelahnya, lalu melihat nama yang tertera pada layarnya.


"Salsa... .Ada apa dia menghubungi ku, selarut ini?." Gumam Karasuka seraya menekan tombol terima di layar HP-nya. Dia baru saja ingin bicara, tapi Salsa lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuatnya terlonjak kegirangan.


πŸ“ž"Karasuka... .Aku telah menemukan keberadaan Libra ."


Mendadak mata Karasuka terbuka lebar. dia seperti tersengat listrik berkekuatan tinggi.


πŸ“ž"Apa?... . Kau tidak berbohong denganku kan?." Karasuka ingin memastikan yang di dengarnya.


πŸ“ž"Tidak... . Aku benar-benar melihatnya. Bahkan aku bertambah yakin dengan pengelihatan ku saat itu, ketika pemilik hotel H2O mengira kalau leo adalah orang yang telah menolongnya."


πŸ“ž"Leo?... .Hotel H2O?."


πŸ“ž"Benar!... .Kami sedang menginap di hotel H2O, di negara M."


πŸ“žBaiklah. Aku akan pergi ke negara itu, sekarang juga." Ucap Karasuka. Kemudian dia beranjak dari atas tempat tidur, menghubungi Hiro dan Yakuza. Agar mereka ikut bersamanya berangkat ke negara M, malam itu juga.


Setelah melewati waktu yang tidak begitu lama, akhirnya mereka sudah sampai di bandara. Ayah dan ibunya bahkan kakeknya, ikut mengantar Karasuka hingga ke depan pintu jet pribadi milik keluarga mereka.


"Ayah... .


Ibu... .

__ADS_1


Kakek.


Aku pergi dulu." ucap Karasuka seraya menundukkan kepala.


"Pergilah, hati-hati di sana." ucap Nakagawa.


"Jika sudah bertemu dengan temanmu itu, sesekali bawa dia ke negara ini. Bawa juga teman-temamu yang lainnya." Sambung Haruka.


"Huh, kau ini... . Baru saja pulang, sore tadi. Tapi kenapa sekarang, sudah mau pergi lagi?.


Apa tidak bisa menunggu dua atau tiga hari lagi di rumah, kau pikir keluarga mu ini tidak rindu padamu, ha?."


Ucap Nagato membebel, kesal pada cucu tersayang nya. Karasuka satu-satunya anak dari Nakagawa dan Haruka, oleh sebab itu hanya dia satu-satunya cucu Nagato.


"Sudah satu tahun kau tinggal di sana... . Ya sudah, sana pergi saja. Jangan pulang lagi." Ucap Nagato kesal. Tapi dia tidak benar-benar marah pada cucunya, sebab hanya Karasuka satu-satunya cucu yang dia miliki.


"Baiklah... . Aku pergi dulu." Ucap Karasuka seraya berjalan masuk kedalam pesawat, di ikuti Hiro dan Yakuza.


Tidak lama setelah itu, pintu pesawat telah di tutup. Pesawat pun mulai bergerak pelan meninggalkan bandara, hingga terbang tinggi menuju negara M.


Selama dalam perjalanan ke sana, Karasuka terus duduk melamun memikirkan jikalau nanti sudah bertemu dengan Libra. Saking senangnya, seutas senyuman terpancar dari bibirnya yang tipis tapi sangat menawan.


Hiro yang duduk tidak jauh dari Karasuka, terheran-heran melihat wajahnya yang ber ubah-ubah. 'Ada apa dengan Nona... . Hehe, mungkin dia teringat dengan pujaan hatinya. Hadeh, dasar anak muda.' batin Hiro.

__ADS_1


"Nona... .Bukankah sebaiknya anda tidur dulu untuk menunggu waktu?,


perjalanan kita masih panjang untuk sampai ke negara M. Mungkin besok pagi, kita baru sampai di sana." ucap Hiro.


Tiba-tiba saja Hiro, membuat Karasuka tersadar dari lamunannya.


Dia menoleh, tapi tidak mengatakan apa-apa. 'Bagaimana mungkin aku bisa tidur, aku akan bertemu dengan orang yang selama ini ku mimpikan.' batin Karasuka.


Setelah menempuh waktu yang cukup lama akhirnya pesawat masuk keruang udara negara M, dan tidak lama kemudian pesawat itu menukik turun memasuki areal bandara.


Matahari terbit yang muncul di ufuk timur di ujung bandara terlihat cukup indah di pagi itu. Suasana pagi yang sangat cerah, secerah wajah Salsa yang tidak sabar menunggu kehadiran Karasuka. Dari jauh dia melihat bayangan pesawat meluncur cepat ke arahnya, hingga mulai perlahan dan berhenti tepat di hadapannya.


Pintu pesawat terbuka, sebuah bayangan muncul dari dalamnya. Dengan wajah yang sangat gembira Salsa berlari kegirangan, berteriak menyambut Karasuka.


"Aku melihatnya.


Aku melihatnya.


Karasuka.


Aku melihat Libra."


Salsa berteriak. Dia sangat senang, sedih dan gembira. Tanpa dia sadari air matanya mengalir dari sudut matanya yang indah dan menawan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2