Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Wanita kuat


__ADS_3

"Anisa. Darah siapa yang ada di pakaianmu itu, An?." tanya Salsa penasaran.


"Oh ini, ini darahku. Tapi lukanya sudah hilang." balas Anisa seraya meletakkan pakaian itu ketempat pakaian kotor dan berbalik lalu duduk di tepi tempat tidur menghadap Salsa. Kemudian dia kembali berkata. "Aku pun bingung, entah kenapa bisa begitu. Mahluk mengerikan itu sebelumnya mencengkram leherku hinga terluka. Aku pikir saja nyawaku tidak akan selamat saat itu, tapi syukurlah kakak mu datang menolongku. Aku sudah sangat lemah saat itu, ketika kakakmu datang. Saat itu aku merasakan ada energi yang merasuk ke tubuhku yang membuatku kembali bertenaga. Aku kembali mendapatkan kesadaran ku. Ku lihat kakakmu sudah berdiri begitu dekat di hadapanku. Tentu saja aku terkejut dan mencoba untuk duduk walau sedikit sulit karena tenagaku belum benar-benar pulih saat itu. Entah kenapa tanganku menyentuh leherku yang sebelumnya terluka. Tapi aku terkejut ketika mendapati lukanya sudah hilang begitu saja."


"Kau menjelaskan dengan detail, ya?." ejek Salsa tersenyum.


"Bukan begitu... .Aku hanya mengutarakan perasaanku yang terasa aneh saja. Heran si. bagaimana lukanya bisa hilang begitu saja."


"Kakakku yang menyembuhkan luka di lehermu itu, An."


"Ha?, bagaimana bisa?."


"Ya bisalah. Memangnya luka di lehermu bisa sembuh sendiri dengan instan?. Aku juga bisa melakukan hal seperti itu."

__ADS_1


'Akh yang benar saja. Bagaimana cara mereka melakukannya?' batin Anisa menatap Salsa heran seraya tak percaya.


"Kami berdua memang bisa melakukannya." ucap Salsa sembari tersenyum mengetahui isi pikiran Anisa. "Tapi jika kami terlalu banyak menggunakan energi itu, maka akan berakibat fatal pada tubuh kami sendiri. Resikonya kami sendiri yang akan mati."


"Oh?... . Jadi bagaimana dengan kakakmu?, apa dia baik-baik saja?. Dia pasti banyak menggunakan tenaganya kan, untuk memulihkan luka ku." ucap anisa yang terlihat cemas.


"Hehehe, tidak usah khawatir. Kalau hanya mengeluarkan energi untuk mengobati luka seperti itu tidak akan berpengaruh pada kekuatan di tubuh kakakku. Bahkan aku pernah melakukan yang lebih berbahaya dahulu. Saat itu kedua orang dari salah seorang sahabatku mengalami luka yang sangat parah. Aku terpaksa mengerahkan seluruh kekuatan ku untuk menolong mereka. Apa kau tau, andai saja sepuluh orang pengawalku tidak ada di situ untuk menolongku maka saat itu akulah yang mati."


"Kalian sangat hebat. Apa kau bisa mengajariku agar kuat dan hebat seperti kalian?." ucap Anisa dengan sorot mata kagum dan mengharap. "Oya, apa kau menyukai Libra?."


Salsa tidak langsung menjawab. Dia tersenyum sembari menunjukkan rona merah di wajahnya. Terus terang, dia memang menyukai Libra seperti Karasuka menyukainya. 'Akh perasaan apa ini, bagaimana dua orang wanita bisa menyukai seorang pria yang sama. Bagaimana kami nantinya?.' batin Salsa.


"Haiss, menyangkut tentang Libra jangan kau tanyakan. Tapi kalau kau ingin menjadi wanita yang kuat, kami bisa mengajarimu."

__ADS_1


"Hehehe." Anisa terkekeh melihat wajah Salsa yang merona malu. Walau Salsa tidak mengatakan apa-apa tentang hubungannya dengan Libra. Dia sudah bisa menebak, tanpa Salsa harus bercerita padanya. "Oke, aku menunggumu untuk mengajariku agar menjadi wanita yang kuat sepertimu. Jangan ingkari kata-katamu yang tadi ya?." ucap Anisa. Entah kenapa mereka berdua menjadi akrab.


Pagi harinya Argi bergegas menuju kamarnya setelah semalaman mengintrogasi Gasio dan anak buah Tirex walau tanpa hasil yang memuaskan. Sementara Salsa, Rolex dan yang lainnya pergi ke bandara untuk menyusul Karasuka. Sedangkan Gentu dan Leony yang di temani Nania Nadia juga Nadira masih tetap di ruang bawah tanah. Kelima gadis kejam dan galak itu tidak puas hati atas penjelasan Gasio dan anak buah Tirex, mereka terus menyiksa untuk menggali informasi keberadaan kelompok kartel narkotik di negara itu.


"Tok."


"Tok."


'Tok."


"Anisa, ini aku Argi. Apa kau sudah bangun?."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2