
"Bersiaplah, aku akan mencabut nyawa kalian"
Bagaikan malaikat kematian dengan tatapan tajam dan pedang terhunus di tangan nya. Argi berdiri tegak bak gunung yang kokoh tak goyang sedikitpun. Cahaya hijau dan merah yang berkeliaran di tubuh membuatnya terlihat seperti dewa. Dewa kematian.
'Ha? Kenapa aura anak ini begitu kuat?' batin Platinum Wilyam Tirex dan Bram. Mereka tercengang hinga mata besarnya melebar.
Sejurus itu, Argi datang bak angin topan menyerang membabibuta menebaskan pedangnya kemana-mana.
Tirex Platinum Bram dan Wilyam tidak tinggal diam. Mereka mulai bertindak agresif tidak peduli walaupun ruang itu cukup sempit untuk tubuhnya.
Akibat tubuh mereka yang besar memaksa bergerak liar dalam ruangan yang sempit, dalam sekejap rumah Aslan mulai hancur berantakan.
Dinding dan atap rumah itu mulai runtuh, untung saja semua orang lemah sudah di evakuasi. Kalau tidak, pasti mereka semua akan mati tertimpa runtuhan bangunan itu. Belum lagi keempat monster itu sekarang mulai menyemburkan api dari mulutnya. Bisa-bisa mereka semua akan terpanggang hangus, dalam rumah itu.
Pertempuran hebat antara empat raksasa melawan satu dewa masih terus berlangsung. Argi terus menyerang dengan pedangnya di tengah kobaran api akibat semburan empat monster yang sudah banyak mendapat luka. Dia sendiri mulai tersudut akibat tebasan ekor dan kuku-kuku tajam empat raksasa itu.
__ADS_1
'Sial, ternyata mengalahkan mereka tak semudah yang kubayangkan' batin Argi sembari terus menghindar sambil menyerang. Tebasan pedangnya di kulit yang tebal dan keras pada ke-empat monster itu tak membuat empat raksasa itu menjadi lemah. Malah dia merasakan kalau luka panjang di tubuh empat monster itu karena tebasan pedangnya perlahan-lahan mulai menghilang.
"hugh! Rupanya pemuda ini sangat kuat" batin Tirex Platinum Bram dan Wilyam seraya terus menyemburkan api di mulut nya kearah Argi yang mengakibatkan kebakaran di mana-mana.
Di tengah kepulan asap akibat rumah Aslan yang terbakar. Dari atas bayangan hitam melesat turun kebawah langsung meninju kepala Wilyam dengan keras yang sudah berbentuk monster.
"Bam"
Tubuh monster itu melesak ke tanah membuat retakan di sekelilingnya. Tubuh Wilyam terbenam dengan posisi kepala terarah kebawah.
"Whush"
"Srakk"
Seketika itu juga kepala monster itu terpisah dari tubuhnya menyebabkan semburan darah. Pada saat yang sama tubuh itu mulai mengecil kembali pada wujud aslinya, terlihat lah Wilyam sudah mati di dalam lubang dengan keadaan yang mengenaskan.
__ADS_1
"Ini balasan untukmu. Bukankah kau yang sudah memporak-porandakan keluargaku dulu?" ucap Libra puas, dia menyeringai menatap jasad Wilyam. Sedangkan Platinum menjadi pias kehilangan satu orang anggota kerasnya.
"Bangsat kau"
"Whush"
Dengan penuh amarah dan emosi tingkat tinggi, Platinum mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyemburkan api dalam tubuhnya. Akibatnya, terjadi kebakaran besar yang menghanguskan seluruh rumah Aslan.
Libra dan Argi tidak tinggal diam. Libra melesat terbang tinggi ke atas sedangkan Argi menghilang ke dalam tanah. Kemudian Argi muncul lagi menusuk tubuh Platinum dari bawah sedangkan Libra melesat menusuk dari atas.
Seketika Platinum langsung menjerit merasakan dua besi sakti telah menusuk jauh ke dalam tubuhnya. Semburan api dari mulutnya ikut terpadam, bersamaan dengan nyawanya yang pergi terbang menghilang entah kemana.
Tirek dan Bram yang melihat kematian Platinum menjadi speechless. Diam-diam mereka pergi meninggalkan pertarungan dan dua jasad temannya.
bersambung.
__ADS_1