Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
pulang ke markas


__ADS_3

"Pasang seat belt kalian." kata Jeri, pada rekan-rekannya. Kemudian dia


mengemudi mobil itu dengan sangat kencang, menuju bandara.


Tak jarang. Dia hampir saja menabrak orang yang sedang berjalan, atau bertabrakan dengan mobil lain.


"Ti____in"


"Ti____in"


"Hati-hati." Kata Roni, yang ada di sebelah sambil berpegangan kuat pada seat belt. Begitu juga dengan Roger, Mahesa, Nania dan Gara, yang terlihat cemas di wajah mereka.


"Hahaha." Jeri malah tertawa melihat Roni dan rekan-rekannya yang ada di belakang, lewat kaca spion. kemudian diapun berkata ; "Aku sudah biasa balap liar kalau malam, jadi jangan cemas. Lagipula, kita memang harus segera meninggalkan kota ini sebelum kelompok mafia Tiger Wolf menangkap kita."


"Benar ... ." sambut Roger. "Kita memang harus segera meninggalkan kota ini." lanjutnya.


Setelah tidak begitu lama dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di bandara. Sherina menyambut senang kedua anaknya yang selamat sampai ke bandara, walaupun dia terlihat agak sedih melihat kedua anaknya itu terluka.


"Ayo... kita segera pergi" teriak Roger. sambil berjalan menaiki pesawat, yang di ikuti semua rombongannya.


# # #


Di tempat lain. Arendra sangat marah, dalam rumah Arbeto yang sudah mati dalam rumahnya. Dia sangat kesal, telah terlambat untuk datang menolongnya. Dan pada saat yang sama, orang yang telah membunuhnya juga sudah pergi dari sana. Hingga dia, tidak bisa melepaskan kemarahannya.


"Kurang ajar, berani sekali anak-anak ini membunuh orang ku. Kalau saja nanti tertangkap, aku pasti akan mencincang tubuhnya." kata Arendra geram. " Cari tau di mana mereka sekarang." lanjut Arendra.


Kemudian seorang anak buahnya yang ahli dalam ilmu IT mengambil sebuah laptop, lalu meletakkannya di atas meja. Dia meretas semua cctv untuk mengetahui kemana mereka pergi.


Mulai dari rumah Arbeto, hingga berakhir di bandara.


"Tuan, mereka sudah pergi meninggalkan kota ini." Kata anak buah Arendra, sambil menunjukkan sebuah video di laptopnya.


Arendra melihat video itu, sebuah pesawat yang sedang lepas landas meninggalkan bandara. Kemudian dia mengerut dahi, sambil bertanya pada anak buahnya ; "Kemana pesawat ini akan pergi?." tanya Arendra pada anak buahnya.


"Sepertinya ke kota M, Tuan." balas anak buahnya.


"Kota M ... ?." Arendra heran. Kemudian kembali berkata sambil mengerutkan dahinya ; " Sepertinya Lazio masih hidup, begitu juga dengan Karasuka. Bocah itu sedang menghimpun kekuatannya." kata Arendra geram, sambil mengeraskan kepalan tangannya. Kemudian meninju tembok dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Duar ... ."


Sebuah kekuatan yang dahsyat telah muncul dari tangannya, hingga merubuhkan sebagian rumah Arbeto. Suara gemuruh terdengar, mengiringi runtuhan itu.


"Siapa yang berani menentang ku, aku pasti akan membunuhnya." Kata Arendra datar, tapi penuh emosi.


# # #


Setelah menempuh waktu, lebih dari dua jam. Akhirnya rombongan Roger, telah sampai di kota M. Mereka di sambut oleh Dani dan Bima bersama anak buah Libra, sebagai pemimpin dari kelompok mafia, RTB. Kemudian Dani dan Bima membawa rombongan itu ke markas dengan mobil yang telah mereka siapkan. Begitu sampai di markas, Libra dan yang lainnya sedang berdiri di dekat motor, lalu mereka berjalan mendekati iringan mobil itu untuk menyambut mereka.


"Ayah ... ."


Saat mereka semua keluar dari dalam mobil, seorang gadis yang cantik lari berhamburan ke pelukan Geri. Dia tak lain adalah anaknya sendiri,


yaitu : Nania.


"Bagaimana keadaanmu, apa kalian baik-baik saja?." tanya Geri pada anaknya sambil menoleh istrinya yang sedang berjalan kearahnya.


"Kami baik-baik saja yah, tapi bibi Erina telah mati tertembak. Dia berkomplot dengan musuh untuk membunuh kami."


balas Nania.


berkata ; " Sudah lah, biarkan saja dia. Ayah sudah menasehati, tapi dia tidak mau mendengar kan." Seiring itu. Rindi datang, dan memeluk Geri dari sisi kirinya. Mereka terlihat senang dan bahagia, setelah lebih dari satu bulan terpisah. Diam-diam Libra memperhatikan momen bahagia itu. Kemudian dia bergumam dalam hatinya.


Setelah hari ini, aku tidak akan membiarkan seorang pun dari anggota RTB berpisah lagi dari keluarganya.


Dan di sisi lain. Lazio begitu senang, menyambut kedua anak dan istrinya . Dia memperhatikan tubuh istrinya yang terlihat sedikit kurus, lalu


bertanya ; "Kenapa denganmu, apa kau merindukan ku? tanya Lazio, menggoda istrinya.


Sherina tidak menjawab, melainkan tersenyum menatap Lazio sambil berkata ; "Lihatlah mereka" kata Sherina, sambil menunjuk kedua anaknya.


Lazio menoleh kearah dua anaknya, yang berdiri tak jauh di hadapannya.


Dia melihat rembesan darah, di celana Roger dan baju Mahesa. Agak sedikit cemas, dia berjalan mendekat kedua anaknya sambil bertanya. "Apa lukamu parah?. tanya Lazio pada kedua anaknya.


Roger dan Mahesa tersenyum, melihat Lazio yang mencemaskan mereka. Kemudian Roger berkata ; " Tidak apa-apa yah, kami ini pemuda yang kuat. Jadi jangan cemaskan kami."

__ADS_1


Seiring dengan itu, Libra datang mendekat bersama dokter Nadin, Karasuka, Arumi, Nania, Leo dan yang lainnya.


"Luka kalian harus segera di obati agar cepat sembuh." kata Libra menyapa Roger dan Mahesa. " Ayo ... kita semua masuk kedalam, markas ini cukup besar untuk menampung kita semua. Besok kita akan mencari tempat tinggal yang sesuai di daerah kota, tapi untuk sementara kalian tinggal di sini dulu. Oya ... aku lupa bertanya, siapa nama kalian?. tanya Libra ramah, pada lima anak muda di hadapannya. Mereka semua kurang lebih, hampir sama umurnya dengan Libra.


Roger mengulur tangan yang langsung di sambut oleh Libra, sambil berkata. " Namaku Roger, dan dia adikku, Mahesa." kata Roger tersenyum, sambil menunjuk adiknya yang mengangguk kepala dan di balas senyum oleh Libra.


"Aku Libra" katanya, mengenalkan diri. yang langsung di beri anggukan oleh ke-lima pemuda itu.


"Aku Gara."


"Aku Roni."


"Aku Jeri, dan dia bernama Nania." tukas Jeri, sambil menunjuk gadis di dekat Geri.


"Bagus ... sekarang kita benar-benar kumpulan anak muda. ayo masuk kedalam, obati lukamu. Nanti malam kita akan pergi ke kota, ada seorang gadis yang ingin jalan-jalan." kata Libra. sambil tersenyum menatap Zalia, yang di balas senyum juga olehnya.


"Tapi kami terluka, apa tidak akan menyusahkan kalian?." kata Roger, yang langsung di sambut oleh Zalia.


"Kita ini kumpulan anak muda yang tangguh, lagi pula ada Libra dan Karasuka. Mereka berdua tidak akan lari, jika hanya menghadapi peluru.


Jadi tidak ada yang akan merasa susah, karena membawa kalian." celetuk Zalia dengan gaya kocaknya.


"Woi ... kenapa bawa-bawa namaku."


sanggah Libra pada Zalia.


"Lah ... kau inikan ketuanya?. Apa salah kalau aku memberikan gambaran agar bawahan mu tidak cemas." kata Zalia.


"Huh ... kau ini memang pandai bicara. Harusnya, jangan melebih-lebihkan. Ayo kita masuk kedalam, jangan dengarkan dia." kata Libra sambil berjalan di depan.


Setelah di dalam, dokter Nadin mengobati luka Roger dan Mahesa. Di bantu dengan dokter lainnya, yaitu dokter Rafik dan dokter Indra. Mereka sangat cekatan mengerjakan tugasnya.


"Bagaimana dengan lukanya Dok?." tanya Libra pada dokter Nadin.


"Syukurlah... pelurunya tidak mengenai tulang mereka, aku rasa lukanya akan cepat sembuh. Makan obat ini untuk menahan rasa nyeri di tubuhmu." kata dokter nadin sembari memberikan obat pada Roger dan Mahesa.


"Bagus, kalau begitu nanti malam kita bisa beramai-ramai pergi ke klub." kata Zalia, yang langsung mendapatkan tatapan dari orang di sekelilingnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2