
"Apa ia? jangan pula setelah ini kalian menyesal karena berani mencari masalah denganku. Sekarang aku beri kalian satu kesempatan. Lepaskan mereka lalu aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja dari tempat ini dengan aman."
"Hahaha... . Bocah tengik, apa kau sengaja membuat lelucon seperti ini? Kau itu tak ubah seperti orang bodoh yang tidak mengerti situasi. Apa yang membuatmu begitu percaya diri ha? Dasar sial. Cuih" ketus Bram kesal.
'Kurang ajar, bocah ini terlalu naif' batin Bram wilis setelah melihat kegigihan Argi yang sama sekali tidak ada rasa takut-takutnya melihat mereka.
Sementara Juwita dan Aslan yang kebetulan juga ada dalam ruangan itu agak terkejut dengan penuturan Argi yang mereka rasa sungguh tidak masuk akal.
Tapi walaupun begitu tersirat rasa kagum di hati mereka melihat keberanian pemuda itu yang sama sekali tidak terdeteksi rasa takut pada wajahnya, walau dia mungkin bisa mati sia-sia di hadapan semua lawannya.
"Tunggu dulu, apa yang kalian mau? Aku bisa memberikan semua yang kalian minta asalkan kalian melepas anakku dan pemuda itu, juga orang-orang di dalam rumah ini" ucap Aslan mencari jalan tengah untuk keselamatan semua orang.
__ADS_1
"Tidak usah paman, biar aku yang menyelesaikan mereka"
Begitu kalimat itu terucap, tubuh Argi langsung di selimuti cahaya berwarna merah dan hijau. Tubuhnya menghilang kedalam lantai lalu muncul lagi di belakang Tirex dengan pedang berwarna merah dalam genggaman.
Dengan gerakan yang sangat cepat Argi menusuk Tirex dari belakang sembari merampas tubuh Anisa dari bahunya. Dia menyerang semua musuh secara tiba-tiba dengan gerakan cepat lincah dan tak terbaca, hingga tak sempat di hindari semua musuhnya itu.
Kini semua musuh sudah terluka parah akibat tebasan dan tusukan dari pedang Argi yang memang haus darah.
Pada saat yang sama terjadi juga keributan di luar rumah. Rolex yang sebelumnya telah mendapat pesan dari Argi, langsung datang ke rumah Aslan bersama 9 orang temanya.
"Tuan" ucap Rolex begitu bertemu dengan Argi. Dia dan sembilan temannya mendekat lalu mengedarkan pandangan matanya ke seliling ruangan lalu berhenti ketika menatap Tirex Platinum dan Wilyam.
__ADS_1
"Tuan. Tiga orang inilah yang pernah bertarung dengan kami satu tahun yang lalu" kata Rolex menunjuk tiga orang yang sudah di kenalnya. 'Tapi siapa, orang yang satunya lagi?' batin Rolex mengerutkan dahinya.
"Dia adalah Bram wilis. Anggota mafia dari Jerman" ucap Argi seakan tau isi hati Rolex.
"Oh" gumam Rolex.
"Kalian pergi, bawa mereka keluar. Dan kau Rolex, tolong bawakan Anisa. Dia pingsan setelah di suntik bius oleh nya" ucap Argi menatap tajam kearah Tirex sembari menyerahkan tubuh Anisa.
"Pergi? Siapa yang mengijinkan kalian pergi dari sini? Hehehe" Platinum tertawa menyeringai. Sedangkan Argi mengerutkan dahinya melihat 4 orang yang sudah terluka tapi masih bisa berkata sombong padanya.
"Apa kau pikir kami sudah kalah karena luka ini? Hehehe" keempat orang itu tertawa seakan mengejek Argi.
__ADS_1
Rolex dan sembilan kawannya langsung terkesiap. Bersiap tentang kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi.
bersambung