
Selama satu tahun hidup mengenal Libra. Arin yang sejak kecil kehilangan kasih sayang dari seorang Ibu dan kakaknya yang telah meninggal tersapu sunami belasan tahun yang lalu. Menjadi begitu dekat akrab dan manja kepada Libra yang pada saat itu di rawat di rumahnya karena luka parah dan lupa dengan ingatanya. Sejak saat itu Arin mendapatkan kembali kasih sayang seseorang kakak kepada adiknya yang telah di dapatkannya dari Libra. Selama beberapa kurun waktu hidup di rumah pak Rahman, Libra juga menyayangi Arin seperti adik kandungnya sendiri. Saking rapatnya mereka sebagai seorang adik dan kakak menyebabkan rasa segan dan malu di hati Arin meluap begitu saja kepada Libra.
Arin yang secara notabene tergolong gadis yang sangat cantik memiliki mata bulat hidung mancung tubuh semampai berambut lurus dan panjang, selalu menjadi incaran setiap pemuda di kampung itu bahkan di sekolahnya. Tapi setelah ada Libra seorang pemuda bertubuh tinggi dan tampan yang memiliki mata hazel dan senyuman yang menawan membuat semua laki-laki itu menjadi minder untuk mendekati Arin. Lagipula Libra yang jago berkelahi selalu melindungi Arin tidak peduli itu di sekolah maupun kampung nelayan dari tatapan lelaki mesum yang selalu mencari perhatian padanya, Libra sama sekali tidak segan-segan untuk mememukul mereka agar tidak lagi berani mengganggu adiknya.
"Hei hei hei Arin! Apa yang kau lakukan kau itu sudah besar kenapa tidak tau malu?. Ayo cepat turun."
Cepat-cepat pak Rahman keluar dari dalam rumahnya menarik anaknya yang bergelayut manja di pinggang Libra dengan paksa. Pak Rahman sendiri sedang menahan malu melihat anaknya yang tidak ada sopan-sopanya di hadapan orang-orang yang belum di kenalnya.
"Adu du duh, ayah. Sakit." pekik Arin yang sedang di jewer telinganya oleh pak Rahman.
"Kau itu sudah anak gadis bukan lagi anak kecil, jaga sedikit kelakuan mu napa?." sergah Pak Rahman.
Arin langsung melompat turun dari tubuh Libra kemudian menoleh kekiri dan ke kanan dia baru sadar kalau di sekelilingnya ada banyak orang yang sedang menatap padanya. Seketika itu juga wajah Arin yang putih mulus berubah warna jadi kemerahan, dia langsung menunduk canggung menahan malu.
__ADS_1
"Maaf, maaf. Anak saya ini sudah besar tapi kelakuannya masih seperti anak kecil."ucap pak Rahman memecah kecanggungan.
Libra hanya tersenyum begitu pun orang-orang di situ, berselang berapa saat Libra pun angkat bicara.
" Paman... . Sekarang aku sudah bisa mengingat masa lalu ku, nama asli ku adalah Libra."
Sontak Arin yang menunduk mengangkat kepalanya dia sangat cemas kalau Libra akan pergi meninggalkannya setelah kembali dapat mengingat masa lalunya. Wajah yang tadinya bersemu merah karena malu sekarang berubah sedih menatap Libra. Sementara Libra sendiri cepat tersadar, pada perubahan di wajah adik angkatnya.
"Benar Kakak tidak akan pergi meninggalkan ku?." cicit Arin yang matanya mulai berair.
"Tentu saja benar. Apa aku pernah berbohong padamu? dasar gadis manja dan bodoh. Apa sekarang kau tidak mau mempersilakanku untuk masuk kedalam rumah?."
Sontak Arin dan pak Rahman terkesiap setelah dari tadi belum mempersilahkan Libra dan orang-orang di hadapannya untuk masuk kedalam.
__ADS_1
"Maaf maaf. Rumah bapak tidak besar tapi masih cukup untuk menampung semuanya. Ayo silakan masuk kedalam. Hiu, ayo bantu bapak untuk menyingkirkan kursi-kursi yang ada di dalam. Kita bentang tikar aja ya? biar muat semuanya."
Buru-buru pak Rahman masuk kedalam rumahnya di ikuti Arin dan Libra. Mereka bergegas menggeser semua kursi yang ada di dalam kemudian membentang tikar sebagai gantinya. Di antara rumah-rumah yang ada di situ rumah pak Rahman lah yang paling besar, begitu pun dia tetap harus menyingkirkan kursi dan menggantinya dengan tikar. Di sebabkan tamu yang kali ini datang bersama Libra cukup banyak orangnya. Setelah semuanya selesai pak Rahman kembali berjalan tergopoh keluar rumah untuk mempersilahkan masuk tamu yang masih ada di luar.
"Ayo ayo, silakan masuk Nak. Pak." ucap pak Rahman dengan hormat hingga menundukkan kepala pada sepuluh orang yang masih di luar.
Sementara Rolex Comodor Kansas Gudmer Compil Piton Mamba Lidi Welling dan Cobra menjadi canggung atas rasa hormat yang di tujukan pak Rahman pada mereka. Mereka sadar hanyalah seorang bawahan dari lelaki yang bernama Argi Gait Zaganda, yang di tugaskan untuk melindungi adiknya.
"Ia ia Pak." balas Rolex dan semua temannya dengan perasaan canggung yang dalam.
Akhirnya mereka semua masuk kedalam rumah di ikuti Rolex dan jajarannya yang berjalan paling belakang. Sementara Argi hanya senyum-senyum mengetahui perasaan anak buahnya yang sedang merasa canggung.
Bersambung
__ADS_1